Sabtu, 30 November 2019

Memotret Nasib Petani Tembakau Sumenep Madura

Tembakau
Petani Tembakau
Sumenep terkenal dengan produksi tembakaunya yang melimpah. Hampir setiap penduduk menanam tembakau di lahannya. Katanya sih, kalau tidak menanam tembakau seolah dalam kehidupannya ada yang kurang. Jadi, meski sedikit, adalah puluhan sampai ratusan pohon tembakau yang mereka tanam. Tembakau di area Sumenep secara ketinggian tanah terbagi menjadi tiga, tembakau sawah, tembakau tegalan, dan tembakau gunung. 

Menurut kebanyakan petani, tembakau yang biasanya paling tinggi peminatnya adalah jenis tembakau gunung. Tembakau jenis ini dari sisi aromanya harum dan teksturnya juga relatif halus. Dari sisi harganya juga paling mahal dibandingkan tembakau sawah dan tegalan. Hal yang tak kalah penting dari komoditas ini adalah prosesnya sehingga menjadi bahan baku pembuatan rokok. Di tengah pangsa pasar akhir-akhir ini yang lesuh, petani tembakau di Sumenep tetap bertahan dengan memaksakan diri untuk merugi-rugi ria dengan menanam tembakau. Seolah bertani tembakau menjadi hobi, meski risiko usaha komoditas ini terbilang tinggi. 

Pantas saja, apabila salah teknik mulai dari pemetikan daun tembakau saja, perusahaan rokok tidak berminat untuk membeli. Katanya kualitasnya berkurang. Padahal, menurut petani, setiap perusahaan rokok punya kualifikasi masing-masing terhadap tembakau yang ditawarkan petani. Ada perusahaan yang menyukai daun bagian bawah pada batang, ada yang suka order daun bagian tengah, ada pula yang justru lebih demen daun bagian atas. 

Hakikatnya justru daun bagian tengah pohon tembakau yang punya kualitas paling baik untuk meracik rokok. Dari sisi pemasaran, tembakau Sumenep banyak diserap perusahaan rokok Djarum, Sampoerna, Wismilak, dan Gudang Garam Surya. Biasanya, permintaan mereka mencapai 200 ton dalam sekali angkut. Tahun 2018 saja, petani tembakau bahkan tidak melakukan penyetokan karena ludes diserap perusahaan. Harganya pun masih menggembirakan saat itu, rata-rata sekilo dihargai sampai 45.000. 

Tapi, tahun 2019 rupanya tak lagi menguntungkan. Harga tembakau di tingkat petani anjlok hingga Rp. 30.000 per kilogramnya. Padahal, ongkos usahanya melebihi dari apa yang mereka dapatkan. Menjadi petani tembakau ternyata tak segampang yang saya bayangkan. Proses mengolah daun tembakau butuh pengalaman dan teknik yang dilakukan secara hati-hati dan teliti. 

Pembibitan tembakau dilakukan dengan cara tunas pada sebidang tanah, setelah dewasa dipindahkan ke lahan yang lebih luas. Setelah dewasa, daundaun tembakau yang tumbuh dibedakan dalam tiga posisi, daun bawah, daun tengah, dan daun bagian atas (dekat kuncup atau bunga). 

Normalnya, dalam setahun, petani tembakau panen paling banyak 3 kali. Kondisi normal panen ini mereka alami sejak 2010, di mana saat itu harga per kilogram daun tembakau Sumenep masih tembus hingga Rp. 95.000. Hingga tahun 2018 kemarin, harga tembakau di tingkat petani yang kian menurun, membuat petani tak lagi mengikuti sistem panen menurut posisi daun. Saat ada permintaan dari perusahaan rokok, ya sudah, mereka langsung memanennya sekaligus. 

Rupanya, biaya perawatan tanam yang tinggi membuat petani tak mampu berlama-lama menunggu panen menurut posisi daun. Di tambah dengan risiko perajangan dan pengepakan, mereka ikhlas merugi bahkan hingga berujung maut karena stress usahanya rusak. Sistem pemanenan sekaligus tanpa diiringi permintaan yang tinggi menjadikan petani tembakau terpaksa menyimpan sisa tembakau yang tak laku di gudang masing-masing. Ada yang milik sendiri, ada yang milik kelompok tani, ada pula yang menyewa. Semua mereka lakukan demi menjaga kualitas daun tetap baik dan masih bernilai jika ada perusahaan rokok yang order. 

Saya pun tercengang karena saat daun tembakau usai dipanen, untuk menghilangkan getah di dalam daunnya dilakukan dengan cara meniriskan daun sedemikian rupa sehingga posisi tangkai daun berada di bawah (vertikal) atau posisi daun dijepit dan ditegakkan. Jika tak demikian, harga daun tembakau juga rusak karena rasanya akan pahit akibat ada getah yang terkandung di daunnya. 

Beberapa waktu ini tentu sempat kita mengetahui bahwa tahun depan (2020) pemerintah sepakat menaikkan harga rokok per bungkusnya. 

Kebijakan itu saat ini memang belum dieksekusi, tapi dampaknya justru sudah mulai terasa. Harga rokok yang bakal naik secara otomatis menunjukkan bahwa beban pengusaha rokok bertambah. Bukan tanpa sebab mereka harus menaikkan harga rokok, bea cukai yang menempel pada kemasan rokok kian tinggi. Tidak hanya berpengaruh pada upaya perusahaan rokok untuk lebih efisien dalam produksi, tapi juga menggerus semangat petani tembakau karena harga pada level mereka kian merosot. 

Pada intinya, kebijakan menaikkan harga rokok akibat cukai yang semakin tinggi justru korbannya adalah petani tembakau. Pendapatan mereka tak sebanding dengan seluruh usaha yang dikeluarkan demi segelintir daun tembakau. Usahanya terancam mati di masa depan, terlebih lagi stigma negatif terhadap komoditas ini terus berdatangan dari perusahaan di bidang kesehatan. 

Mengingat sebagian besar petani di Sumenep mengusahakan tembakau, tentu kontradiksi jika stigma negatif atas selembar daun tembakau semakin menguat, ada kebolehjadian, bila petani tembakau selalu RT (Rugi Terus) akan menambah angka kemiskinan Sumenep. 

Salah satu petani kemarin juga mengatakan pada saya bahwa di Sumenep, jika seseorang ingin cepat kaya, ya dengan menanam tembakau dan menjualnya, tapi jika seseorang ingin segera stress dan mati, juga bisa dengan menanam tembakau. Saya pikir memang risiko usaha tembakau itu besar. Kena hujan 3 jam saja sudah banyak tanaman tembakaunya yang mati karena busuk, terlalu kekurangan air akibat kemarau berkepanjangan juga mati. 

Bertani tembakau seolah telur di ujung tanduk. Namun, saya bangga dengan petani tembakau Sumenep, mereka tetap mengambil risiko besar tersebut untuk bertahan dan mengisi hidup. Bagaimana teknik bertani mereka? Para petani tembakau biasanya menggunakan sistem tanam campuran antara tembakau itu sendiri dan jagung. Pada waktu hujan terakhir musim hujan, mereka menanami tanah di antara dua pohon jagung dengan tembakau. Saat jagung sudah panen, tembakau siap mengisi kekosongan lahan. Setidaknya panen jagung inilah yang sedikit menghibur keluh-kesah petani akibat besarnya risiko mengusahakan tembakau. 

Sewaktu mengintip nasib petani tembakau Sumenep, diri saya sempat kaget. Betapa tidak, beberapa hari sebelum saya menyurvei mereka, ada kabar bahwa salah satu di antara mereka meninggal bunuh diri. Saat saya tanyai apa motif bunuh diri itu, mereka menjawab bahwa yang bersangkutan (alm) bunuh diri karena stress akibat mengalami kerugian besar akibat lesuhnya permintaan tembakau miliknya. 

Di Sumenep sebetulnya terdapat banyak pedagang, pengepul, maupun tengkulak tembakau. Hanya saja, permintaan yang begitu rendah menjadikan pedagang, pengepul, bahkan tengkulak sedikit menahan diri sehingga berton-ton tembakau tak laku dan berujung membusuk selama penyimpanan. Di satu sisi, petani tembakau Sumenep sedikit beruntung dengan menjamurnya industri rumahan pembuatan bungkus tembakau rajangan. Bahannya terbuat dari daun siwalan. Untuk kebutuhan membungkus seikat tembakau rajang, biaya pengepakan dengan anyaman daun siwalan itu dihargai Rp. 15.000. Bisa dihitunglah jika petani tembakau terpaksa menyimpan tembakau rajangannya akibat tak laku, misalnya saja sebanyak 100 ikat, sudah butuh biaya Rp. 1,5 juta. 

Bila dari 100 ikat itu 10 persennya tak tahan lama, ya kerugian bertambah lagi. Padahal, laku pun seikat saja belum tentu mampu menutupi kerugian tersebut. Sulit memang mengusahakan komoditas satu ini. Kalau tak kuat iman ya gulung tikar, stress, bunuh diri, atau minimal gila. Risiko kerugian juga terdeteksi selama pembibitan dan membesarkan tanaman tembakau. Di Sumenep sendiri, beberapa tahun yang lalu, ada program pemerintah setempat berupa subsidi pupuk dan bibit tembakau. Program ini memang sempat menghembuskan "angin segar" pada petani tembakau Sumenep. 

Mekanisme pencairannya pun terbilang mudah. Dengan membawa semacam kartu tani tembakau berwarna kuning pada petugas, petani dapat mengklaim jatah pupuk dan benih tembakau. Kendati begitu, program itu tak bertahan lama, sedikit demi sedikit petani tembakau mulai berpikir tentang kondisi usahanya yang ternyata terancam gagal. 

Dalam praktiknya, petani tidak bisa menjalankan usahanya mengelola tembakau kalau soal pupuk dan benihnya masih dijatah. Menurut mereka, dalam bertani, apabila dalam perjalanannya kekurangan pupuk, maka harus menambah pupuk, jika kurang air, ya harus mencari air, ada semacam effort sebagai langkah antisipasi dalam proses mendewasakan tembakau hingga layak panen. 

Pemikiran seperti itulah yang mendorong petani tembakau mengklaim subsidi pupuk dan benih dalam jumlah yang sama, namun di tempat lain. Apalagi, mereka yang punya lahan tembakau lebih dari satu atau dua tempat yang berbeda secara administrasi. Dampak negatifnya program kartu tani menimbulkan masalah baru hingga klimaksnya pemerintah Sumenep meniadakan program subsidi tersebut. Inilah sebabnya mengapa petani tembakau Sumenep kembang-kempis dan selalu berada di ujung kerugian besar. Di satu sisi mengenai kebijakan pemerintah yang belum terkawal dengan baik dan benar, juga masih kurangnya sosialisasi, pendidikan, dan penyuluhan dinas terkait soal bagaimana memanfaatkan jatah pupuk dan benih bersubsidi secara mangkus dan sangkil.