Kamis, 07 Juni 2018

Menentukan Ukuran Sampel yang Cukup

Menentukan Ukuran Sampel yang Cukup

Dalam sebuah penelitian atau survei, ukuran sampel merupakan salah satu bagian penting. Sebab, dari sampel itulah kita melakukan kegiatan statistik sebagai dasar pengumpulan data untuk kemudian dianalisis. Istilah umum dalam literatur membagi sampel menjadi dua jenis, yaitu sampel kecil dan sampel besar. Meski, tidak ada dasar ilmiah pasti mengenai berapa jumlah sampel dianggap kecil dan berapa pula jumlah sampel yang dianggap besar.

Beberapa ahli statistika menyatakan bahwa dasar sampel dikatakan kecil atau besar adalah menurut jumlah amatan atau n tabel distribusi teoritis tertentu, misalkan tabel t, di mana jumlah n yang tersedia sebanyak 30. Hal ini mengartikan bahwa ketika jumlah sampel lebih dari 30 maka dianggap sebagai sampel besar.

Sebetulnya, belum terdapat aturan baku mengenai berapa jumlah sampel yang harus diambil untuk sebuah penelitian atau survei. Dalam artian, berapa banyak jumlah sampel untuk memenuhi kecukupan menjadi “wakil” dari populasi. Sebagaimana yang dikatakan Lincolin Arsyad (2001) yang menyatakan tidak ada aturan yang tegas berapa jumlah sampel yang harus diambil dari populasi yang tersedia. Tidak ada pula batasan yang ”pasti” dan jelas apa yang dimaksud dengan sampel besar dan sampel yang kecil.

Meski demikian, beberapa ahli statistika memiliki pendapat tersendiri terkait ukuran sampel yang dikatakan cukup mewakili populasi ini. Gay dan Diehl (1992) berpendapat bahwa sampel haruslah sebesar-besarnya. Pendapat Gay dan Diehl (1992) ini mengasumsikan bahwa semakin banyak ukuran sampel, maka akan semakin mewakili dan hasilnya bisa digunakan untuk inferensi statistik. Namun ukuran sampel yang diterima akan sangat bergantung pada jenis penelitiannya.
  1. Jika penelitiannya bersifat deskriptf, maka sampel minimunya adalah 10% dari populasi;
  2. Jika penelitianya korelasional, sampel minimunya adalah 30 subjek;
  3. Apabila penelitian kausal perbandingan, sampelnya sebanyak 30 subjek per group;
  4. Apabila penelitian eksperimental, sampel minimumnya adalah 15 subjek per group.
Gay dan Diehl, Roscoe (1975) juga memberikan beberapa kriteria terkait seberapa besar ukuran sampel yang relevan dan memenuhi aspek keterwakilan populasi dalam sebuah penelitian atau survei, yaitu:

  1. Ukuran sampel lebih dari 30 dan kurang dari 500 adalah tepat untuk kebanyakan penelitian;
  2. Jika sampel dipecah ke dalam subsampel (pria/wanita, junior/senior, dan sebagainya), ukuran sampel minimum 30 untuk tiap kategori adalah tepat;
  3. Dalam penelitian peubah ganda atau multivariat (termasuk analisis regresi berganda), ukuran sampel sebaiknya 10 kali dari jumlah variabel dalam penelitian;
  4. Untuk penelitian eksperimental sederhana dengan kontrol eskperimen yang ketat, penelitian yang sukses adalah mungkin dengan ukuran sampel kecil antara 10 sampai dengan 20.
Slovin (1960) menentukan ukuran sampel suatu populasi dengan rumus:
Rumus Slovin
Keterangan:
n = sampel; N = populasi; d = nilai presisi 95% atau sig. = 0,05
catatan: rumus ukuran sampel Slovin hanya dapat digunakan bila tujuan analisis penelitian atau survei untuk mengestimasi proporsi. Selain itu, rumus Slovin tidak cocok digunakan, terutama bila ukuran populasi terlalu besar, ukuran sampel rumus Slovin akan stagnan pada angka 400.

Contoh
Diketahui jumlah populasi penduduk desa Kalipucang adalah 150, dengan menggunakan tingkat kesalahan yang dikehendaki adalah 5%, maka jumlah sampel yang digunakan adalah...
Solusi:
n = 150/(1+ (0,05)2 x 150)) = 109,091, dibulatkan 109

Frankel dan Wallen (1993) menyarankan besar sampel minimum untuk:
  1. Penelitian dengan analisis deskriptif sebanyak 100;
  2. Penelitian dengan analisis korelasi sebanyak 50;
  3. Penelitian dengan analisis kausal-perbandingan sebanyak 30 per group;
  4. Penelitian bersifat eksperimental, misalnya penelitian indoor atau laboratorium, maka menggunakan sebanyak 30/15 per group.
Teknik lain untuk mendapatkan ukuran sampel yang cukup juga dikenalkan oleh Malhotra (1993), menurutya ukuran sampel yang diambil dapat ditentukan dengan mengalikan jumlah variabel dengan 5, atau 5 kali jumlah variabel. Dengan demikian jika jumlah variabel yang diamati berjumlah 60, maka sampel minimalnya adalah 5 x 60 = 300. Meskipun belum jelas, apakah variabel yang dimaksud adalah semua variabel (variabel bebas dan terikat) atau hanya variabel bebas saja.

Ahli statistika, Arikunto Suharsimi (2005) memiliki teknik tersendiri dalam memberikan panduan menentukan ukuran sampel yang cukup. Menurutnya,”...jika peneliti memiliki beberapa ratus subjek dalam populasi, maka mareka dapat menentukan kurang lebih 25 – 30 persen dari jumlah tersebut. Jika jumlah anggota subjek dalam populasi hanya meliputi antara 100 – 150 orang, dan dalam pengumpulan datanya peneliti menggunakan angket, maka sebaiknya subjek sejumlah itu diambil seluruhnya. Namun apabila peneliti menggunakan teknik wawancara dan pengamatan, jumlah tersebut dapat dikurangi menurut teknik sampel dan sesuai dengan kemampuan peneliti.

Referensi :

Arikunto Suharsimi. (2005). Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta

Fraenkel, J. & Wallen, N. (1993). How to Design and evaluate research in education. (2nd ed). New York: McGraw-Hill Inc

Gay, L.R. dan Diehl, P.L. (1992), Research Methods for Business and. Management. MacMillan Publishing Company, New York

Slovin dikutip dari Riduwan. (2005). Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru, Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung: Alfabeta. p :65

Malhotra K. Naresh. 1993. Marketing Research An Applied Orientation, second edition. Prentice Hall International Inc, New Jersey

Nursiyono, Joko Ade. 2014. Kompas Teknik Pengambilan Sampel. Jakarta: In Media.

Roscoe dikutip dari Uma Sekaran. 2006. Metode Penelitian Bisnis. Jakarta: Salemba Empat