Jumat, 08 Juni 2018

Menajamkan Potret Ekonomi Melalui Sensus Ekonomi Lanjutan 2017

Menajamkan Potret Ekonomi Melalui Sensus Ekonomi Lanjutan

Pembangunan ekonomi kini menjadi prioritas pemerintah sebagai upaya mempersiapkan Indonesia lebih siap dalam menyambut ASEAN Economic Community (AEC). Pembangunan ekonomi pada hakikatnya merupakan usaha membangun perekonomian secara komprehensif dan diharapkan bersifat sustainable.  Komprehensif dalam arti pembangunan ekonomi nasional mulai dari kategori mikro hingga makro serta memiliki pemerataan yang adil dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Tidak hanya itu, pembangunan ekonomi juga harus mempunyai kualitas yang baik dan berdaya saing. 

Sementara sustainable dalam pembangunan ekonomi dimaknai sebagai sebuah proses yang berkelanjutan. Pembangunan ekonomi tidak berhenti atau stagnan pada kondisi tertentu yang notabene tidak memperlihatkan sebuah kemajuan, tetapi sebaliknya, pembangunan ekonomi harus dilaksanakan dalam rentang waktu tertentu hingga mencapai target secara optimal.

Turbulensi perekonomian nasional sejauh ini terlihat hidup dengan peranan industri. Arus finansial juga akan lemah tanpa adanya aktivitas ekonomi yang dijalankan para pelaku usaha. Bahkan, kematian aktivitas ekonomi dapat berakibat adanya krisis moneter hingga krisis multidimensi seperti di pertengahan tahun 1997 hingga 1998 yang secara konkret menunjukkan kebangkrutan Indonesia.

Faktor eksternal sampai saat ini masih menghantui perekonomian nasional, apalagi di tengah laju pertumbuhan ekonomi year on year (yoy) Indonesia yang mengalami perlambatan meleset dari target pemerintah sebesar 7 persen. Pertumbuhan ekonomi kuartalan pun sepanjang tahun 2015 masih bertengger pada aras 4 persen. Pelaku usaha juga terlihat kebingunan dengan kondisi instabilitas perekonomian nasional akibat melemahnya ekonomi global dan ketidakpastian suku bunga Amerika Serikat (AS).

Pertumbuhan ekonomi manufaktur saja pada kuartal III 2014 saja 4,99 persen, masih jauh dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5 persen. Pemerintah melalui instrumen Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) menetapkan bahwa pertumbuhan ekonomi manufaktur 2015 – 2019 mencapai 6,8 persen sehingga untuk mendukung target tersebut ditentukanlah mekanisme penambahan jumlah populasi industri skala besar sedang di Indonesia.

Pembangunan ekonomi dengan menggerakkan manufaktur memang merupakan alternatif utama dalam menguatkan fondasi Indonesia dalam menyongsong AEC 2016. Sejatinya, pemerintah tidak hanya memerlukan mekanisme untuk memperbanyak populasi industri manufaktur, tetapi lebih dari itu, pemerintah juga memerlukan pemetaan mengenai kondisi lapangan usaha atau manufaktur dalam negeri sebagai gambaran atau potret kapasitas, kapabilitas dan daya saing usaha di seluruh daerah.

Seperti halnya perlombaan, tentu untuk bersaing dengan yang lebih kuat, seseorang perlu melihat kemampuan dirinya terlebih dahulu. Sama halnya dengan Indonesia, negara ini perlu memotret kemampuannya terlebih dahulu sebelum bersaing dalam AEC yang notabene menerapkan perdagangan bebas atau free trade untuk seluruh member organisasi ASEAN.

Sebagai instrumen memotret kondisi usaha nasional itulah, tahun 2017 Indonesia akan melaksanakan Sensus Ekonomi (SE) Lanjutan. Sensus Ekonomi merupakan sebuah kegiatan statistik berskala nasional yang dieksekusi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) di seluruh wilayah NKRI. Kegiatan tersebut telah dilaksanakan sejak Agustus 2017 dengan target  lapangan usaha UMK/UMB.

Kegiatan yang memakan anggaran triliunan ini merupakan fondasi bagi pengukuran kegiatan usaha di Indonesia. Output yang dapat diperoleh dari kegiatan tersebut adalah berupa pemetaan potensi (level) ekonomi kewilayahan menurut industri dan pelaku usaha, Benchmarking indikator ekonomi seperti PDB, PDRB, ketenagakerjaan industri, pembangunan basis data dan updating Integrated Business Register (IBR), karakter usaha menurut skala usaha, pemetaan daya saing bisnis menurut wilayah dan meneropong prospek bisnis dan perencanaan invetasi di Indonesia.

Dalam melakukan aktivitas ekonomi, para pelaku usaha tentunya memerlukan informasi mengenai lapangan usaha yang ada sebagai bahan pertimbangan menentukan usaha, termasuk melakukan pengamatan terhadap peluang mendirikan usaha dan jumlah pesaing dalam usaha yang sama. Tidak hanya itu,  hasil SE-Lanjutan juga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan melakukan ekspansi usaha serta mengamati kapasitas dan kapabilitas usaha.

Sensus Ekonomi Lanjutan merupakan langkah lanjut sebagai upaya memetakan seluruh aktivitas ekonomi nasional secara mendetail. Begitu pentingnya data ekonomi yang terintegrasi dan komprehensif dapat dicapai, tentunya diperlukan pula peran dan partisipasi aktif masyarakat terutama para pelaku usaha dalam proses pelaksanaan SE-Lanjutan.

Payung hukum pelaksanaan SE-Lanjutan pun cukup jelas tertuang dalam UU Nomor 16 tentang Statistik sehingga informasi aktivitas ekonomi dari responden merupakan sebuah kewajiban untuk diproteksi dan dijamin kerahasiaannya. Dengan demikian, aktivitas perekonomian secara agregat dapat diketahui oleh pemerintah dan pada waktunya dapat dijadikan sebagai bahan baku pengambilan kebijakan di bidang ekonomi untuk menguatkan perekonomian yang sehat, kokoh dan berdaya saing dalam AEC 2017.