Jumat, 08 Juni 2018

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Ukuran Sampel

Faktor-faktor yang Memengaruhi Ukuran Sampel
Peranan sampel dalam kegiatan statistik begitu penting. Tanpa sampel, aktivitas inferensi tak akan dapat dilakukan. Dari sebesar populasi tertentu, sampel diambil untuk kemudian diambil datanya. Di sinilah letak pentingnya kita memerhatikan sampel, sebab bila terjadi kesalahan dalam pengambilan atau teknik yang digunakan, maka dampaknya merembet pada hasil inferensi yang tidak sesuai.

Selain itu, kesalahan juga bisa terjadi karena ukuran sampel yang kita gunakan tidak memenuhi aspek keterwakilan dan kecukupan. Akibatnya, seringkali estimasi yang dihasilkan meleset jauh dari harapan. Penentuan ukuran sampel memang belum terdapat kaidah atau formula bakunya, seberapa besar suatu sampel dikatakan cukup dan mampu mewakili populasi target.

Namun, kita dapat mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang kemungkinan mempengaruhi ukuran sampel ini. Bila diuraikan, faktor-faktor yang punya pengaruh terhadap ukuran sampel yaitu:

Derajat keragaman dari populasi
Makin besar derajat keragaman, maka ukuran sampel yang diperlukan akan lebih besar. Sebaliknya, bila derajat keragaman kecil, maka ukuran sampel yang diperlukan juga kecil. Populasi yang lebih seragam (homogen) memungkinkan kita mendapatkan sampel dengan daya keterwakilan lebih efektif dan efisien. Sebaliknya, kita memerlukan ukuran sampel lebih besar untuk menjamin aspek keterwakilan bila populasinya tidak seragam (heterogen).

Presisi yang ditentukan peneliti
Presisi yang lebih tinggi mengharuskan kita memperbesar peluang bahwa statistik sesuai dengan parameter sebenarnya (true value). Mau tak mau, agar presisinya tinggi, ukuran sampel yang kita butuhkan juga harus lebih besar. Semakin besar ukuran sampel memberikan jaminan bahwa harapan dari statistik sama dengan nilai parameternya.

Meski demikian, karena dalam praktiknya, tingkat presisi ini ditentukan peneliti, maka ukuran sampel juga tak luput dari kesalahan manusia (human error). Dalam artian, sensitivitas peneliti dalam menentukan besarnya presisi amat berpengaruh.

Rancangan analisis
Ukuran sampel yang kita gunakan, sebesar tertentu, biasa kita yakini telah memenuhi aspek keterwakilan dan kecukupan terhadap populasi. Namun, kebutuhan analisis yang berbeda justru membuat ukuran sampel yang kita tentukan sebelumnya belum mewakili dan belum cukup.

Misalkan, bila awalnya kita menentukan unit analisis dari penelitian kita adalah penduduk berprofesi sebagai petani dengan sampel sebanyak 100 responden, maka ukuran sampel itu belum cukup dan belum mewakili bila unit analisisnya adalah penduduk berprofesi sebagai petani menurut pendidikannya. Ukuran sampel yang diperlukan tentu lebih dari 100 responden, supaya mewakili masing-masing jenjang pendidikan petani.

Hal ini memperlihatkan bahwa rancangan analisis yang berbeda berdampak mengubah ukuran sampel yang diperlukan. Demikian pula halnya bila melakukan penambahan atau pengurangan strata atau grup di dalam rancangan pengambilan sampel.

Tenaga, biaya, dan waktu
Hal yang tak kalah penting dalam penentuan ukuran sampel adalah tenaga, biaya, dan waktu. Bila secara teknik sampling kita sudah baik, namun ukuran sampel tertentu tidak bisa diterapkan begitu saja dalam penelitian. Adakalanya tenaga pelaksana penelitian minim sehingga beban kerja lebih berat, hal ini menjadi alasan untuk mengurangi besarnya ukuran sampel.

Ukuran sampel tertentu juga dipengaruhi oleh biaya pelaksanaan, apabila jumlah sampelnya sebanyak 100, tapi memerlukan biaya yang mahal, mengurangi ukuran sampel adalah jalan keluarnya.

Pada posisi inilah, dalam menentukan ukuran sampel, kita harus memilih antara mengoptimalkan biaya atau meminimalkan keragaman yang terjadi. Aspek ini oleh para ahli statistika diracik sedemikian rupa sehingga menghasilkan formula ukuran sampel dengan biaya optimum dan ukuran sampel dengan varians minimum.

Sampel menjadi konsekuensi logis bahwa di dalam penelitian, kita tidak mungkin mengambil semua elemen populasi untuk dicacah atau menjadi unit observasi. Terlebih lagi, waktu yang ditetapkan dalam praktiknya begitu singkat. Oleh karen itu, sampel itu ada karena adanya waktu yang terbatas. Tidak hanya waktu pencacahan lapangan untuk mendapatkan data dari unit observasinya saja, tetapi juga diperlukan waktu lagi untuk proses pengolahan data, analisis, hingga sampai pada diseminasi hasil penelitian.(*)