Sabtu, 21 April 2018

OMBAK HALMAHERA

Pantai Halmahera Utara, Tobelo dokpri.

Pagi masih tertimbun gelap. Aku terbangun dari kubangan mimpiku semalam suntuk. Mengusap wajah, berdoa sejenak untuk memulai hariku. Membersihkan kamarku. Setelah rampung, saatnya bagiku melapor pada Rabbku.

Tak lama kemudian, sinar menyingsing. Menembus jendela kamar dan menerpa pot-pot bunga penghias kamar. Ketukan pintu oleh jemari ibu menyapaku.

"Ngana so bangun ka? Ini ada sarapan nasi goreng."

Betapa syukurnya hati ini. Sedini pagi, ibu sudah menyiapkan hidangan di meja kayu warna cokelat. Segera ku ke sana tanpa sapaan seorang bapak.

"Nanti toh, setelah ngana sehabis jualan buku di pasar. Ibu nitip belikan bawang ya, Nak."

"Saya, Bu," jawabku sembari tersenyum.

Kunyahanku habis. Piring yang tadinya penuh dengan nasi goreng, kini lenyap. Syukurlah.

"Bu, kita pergi dulu," pamitku seraya menyium tangannya.

Kalau boleh cerita sedikit. Bahasa di sini memang unik. Kalau ngana itu diartikan kamu dalam bentuk tunggal. Kalau menjawab saya, artinya iya. Ya, beginilah bahasa di sini. Logatku sudah berubah sejak merantau di sini bersama ibu.

Pasar Sofifi memang berada di seberang. Dari pelabuhan Kota Baru, aku harus naik perahu cepat bermesin dua. Ukuran perahunya lumayan, cukup sepuluh orang saja. Buku-buku yang hendak kujual masih tertidur pulas dalam tas ransel merahku. Cuaca malu-malu kucing menunjukkan cerahnya. Air pasang dan semua orang bersiap menghadapi ombak di pertengahan Ternate dan Sofifi.

Seorang lelaki duduk di depanku. Berbaju abu-abu dengan setelan celana kain. Ia membawa seorang anak. Sesekali ia melempar pandangannya padaku. Tak lepas pula ke arah tasku.

"Ngana mau ke mana?" Tanyanya.

"Kita mau jualan buku ke pasar Sofifi, Pak."

Mesin perahu kecil itu berbunyi. Tanda bahwa ia akan mengantarku berangkat berjualan hari ini.

"Kalau boleh tahu, buku apa yang ngana jual?" Si bapak bertanya lagi.

Tanpa malu-malu, ku keluarkan beberapa buku-buku itu.

"Ini Pak. Buku-buku yang kita hendak jual."

Lantas ia bertanya,"buku itu buatanmu sendiri kah?"

"Saya, Pak."

"Boleh tuh. Kita beli sudah. Dua jenis saja. Harga berapa?"

"Seratus ribu, Pak."

Sebuah dompet hitam tiba-tiba keluar dari saku si bapak. Sementara anaknya dari tadi memandangiku.

"Terima kasih, Pak," ucapku menjulurkan tangan untuk meraih uang berpoles merah itu.

Syukurku dalam hati. Belum sampai di pasar, bukuku sudah ada yang laku. Lumayan, buat beli bawang titipan ibu.

"Indonesia ini tidak maju memang kalau masyarakatnya tidak suka baca." Si bapak berkata sambil membolak-balikkan isi buku.

"Padahal, kita hidup ini awal-awalnya disuruh membaca, ya kan, Mas?" Tegasnya.

"Saya Pak. Membaca memang bermanfaat untuk menambah ilmu pengetahuan kita," tuturku sok bijak.

"Saya, Mas. Selama ini kita masih saja dibodohi lantaran malas sekali membaca. Padahal tanpa membaca, kita tara tahu apa-apa. Ketinggalan kita dari bangsa lain. Benar ka tarada?"

Asyik sekali. Jarang sekali aku temukan seseorang yang peduli membaca buku. Sepertinya pendidikan bapaknya bukan rendahan ini.

Tak terasa, perjalananku menuju pasar Sofifi telah mencapai pertengahan. Ombak mulai terasa. Sesekali ia menampar badan perahu itu. Ku akui, meski mampu berenang, trauma masa silam masih menghantui. Pengalaman pernah tenggelam membuatku terkejut setiap gulungan ombak Halmahera menerpa perahu.

"Astaghfirullah, astaghfirullah ...." Ucapku dalam hati

Sedangkan si bapak terlihat mengelus-elus rambut anaknya. Seisi perahu terguncang oleh rentetan ombak yang kian membabi-buta.

Tiba-tiba, mesin perahunya mati. Segala isi perahu saling menatap dengan kekosongan. Perahu terombang-ambing, sesekali kurasa perahu akan terbalik. Ombak nian jahat menyiksa badan dan batin.

Anak itu lalu menangis dalam pelukan bapaknya. "Tara papa adik. Biasa saja ini, tara papa. Tenang saja," katanya sambil menghibur anaknya.

"Bapak pe rumah di mana?" Tanyaku untuk menenangkan keadaan.

"Kita pe rumah di Tobelo sana."

"Oh, saya," pungkasku.

Tak lama kemudian, mesin dapat hidup kembali. Dengan semua kenangan dibanting ombak, pelan-pelan perahu bisa juga menggapai tepian Sofifi.

***