Senin, 26 Maret 2018

Ekonomi Esteem dan Tingkat Kebahagiaan

Bentuk Ekonomi Esteem, Promosi Online Jepret dan Unggah Foto, dokpri.

Kehadiran internet dan media sosial telah banyak mengubah wajah perekonomian. Ketika dulu orang berjualan dengan transaksi langsung, sekarang cukup dengan menatap layar dan menggunakan jempol, transaksi apapun dapat dilakukan.

Dari tahun ke tahun, jumlah pengguna internet terus meningkat. Data Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan bahwa pada tahun 2017, jumlah pengguna internet di Indonesia telah menyentuh angka 143,26 juta orang dengan asumsi populasi penduduk sekitar 262 juta jiwa. Peningkatan ini disinyalir menjadi pemicu perubahan di setiap bidang, termasuk terciptanya fragmen baru mengenai ekonomi personal.

Sebagaimana pengertian dalam ekonomi personal di era generasi milenial, prinsip ekonomi diterjemahkan sebagai usaha untuk mendapatkan keuntungan yang semaksimal mungkin dengan menggunakan modal seminimal mungkin. Makna lain yang lebih luas menjabarkan keuntungan ekonomi yang didapatkan itu tidak sekadar harta secara fisik, tetapi di dalamnya juga termasuk soal kepuasan.

Dengan sentuhan era internet dan media sosial, prinsip ekonomi berekspansi dalam pendefinisian yang lebih luas, yaitu usaha untuk mendapatkan perasaan tertentu dengan menggunakan modal seminimal mungkin. Apakah perasaan senang, puas atau bahagia.

Sebagai contoh sederhana saja, di jejaring media sosial, acapkali kita temukan kasus seseorang yang mengunggah sebuah foto sampah berserakan di akun media sosialnya. Foto itu diambil pasca kegiatan unjuk rasa, akibatnya foto itu menjadi bahan perbincangan di dunia virtual. Ketika foto yang diunggap mendapatkan banyak respon, pengunggah akan merasakan kepuasan, kebahagiaan dan kebanggaan. Sebaliknya, bila foto yang ia unggah di media sosial sedikit mendapat respon, tak viral atau sepi komentar, baik kebahagiaan, rasa gembiranya atau kepuasannya bakal menurun. Dalam posisi itu, ada kecenderungan, bahwa pengunggah tadi telah mencapai prinsip ekonomi ala zaman now, yaitu pengakuan.

Pengakuan itulah yang menimbulkan rasa kebahagiaan, kepuasan atau kebanggaan. Modalnya pun minimal, dengan memotret situasi dan mengunggahnya di media sosial. Tujuan untuk meraup jempol, love, emoticon tertawa, sedih serta komentar pun didapatkan. Dan itu membuat dirinya merasa diakui oleh orang lain sehingga timbul rasa bahagia. Fenomena inilah yang menurut Renald Kasali, Guru Besar Universitas Indonesia, disebutnya sebagai: ekonomi esteem.

Ekonomi Esteem dan Kebahagiaan

Menurut John Bollen, seorang professor University School of Informatics and Computing sebagaimana yang dilansir Medical News Today (5/7/2017), hasil penelitian menunjukkan bahwa ada keterkaitan secara nyata antara popularitas—yang berhubungan dengan pengakuan (esteem)—di media sosial dengan kebahagiaan seseorang.

Kemudian, data APJII (2017) juga mengungkap bahwa persentase pengguna internet di Indonesia telah mencapai 54,68 persen. Posisi Provinsi Maluku Utara (Malut) dalam hal ini memang hanya menyumbang sekitar 2,49 persen dari total. Namun, ini menjadi menarik, khususnya di tahun 2017, Provinsi Malut dinyatakan sebagai provinsi paling bahagia se-Indonesia. Betapa tidak, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa Indeks Kebahagiaan Malut telah mencapai 75,68, jauh di atas Indeks Kebahagiaan nasional yang sebesar 70,69 pada rentang skala 0 – 100. Indeks Kebahagiaan sendiri merupakan indeks komposit yang tersusun dari tiga dimensi, yaitu Kepuasan Hidup (Life Satisfaction), Perasaan (Affect) dan Makna Hidup (Eudaimonia).

Entah sedikit entah banyak, ekonomi esteem nampaknya mempunyai korelasi dengan besarnya Indeks Kebahagiaan hasil Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK) ini. Utamanya terpaut dalam dimensi perasaan (Affect) yang diukur melalui tiga indikator, yaitu perasaan senang/riang/gembira, perasaan tidak kawatir/cemas dan perasaan tidak tertekan.

Dengan pretensi terus bertambahnya pengguna internet di Malut hingga 2018, dimensi perasaan (Affect) sebagai komposisi Indeks Kebahagiaan kemungkinan mengalami peningkatan pula. Sebab, masyarakat Malut tidak hanya berhasrat mencari perasaan bahagia secara materi saja, tetapi juga bersumber dari akun media sosial yang mereka gunakan.

Pun, masyarakat Malut yang selama ini hanya mengandalkan ekonomi leisure, yakni mendapatkan kebahagiaan dengan menikmati rekreasi atau hiburan, justru bergeser ke arah ekonomi esteem. Hal tersebut terlihat dari kompleksnya aktivitas masyarakat Malut di dunia maya, mulai dari membuka usaha online, mendirikan komunitas-komunitas dan aktivitas berbelanja via media sosial.

Memang saat musim liburan tiba, tak sedikit masyarakat Malut yang berekreasi keliling sekitar Ternate. Kendati begitu, kehadiran internet dan media sosial bisa jadi “menahan” keinginan tersebut. Mungkin banyak pula masyarakat Malut yang sekadar duduk dan mengeliminasi waktu liburannya dengan berselancar di dunia maya. Tujuannya sama, mendapatkan kebahagiaan dari: pengakuan orang lain di media sosial.

Transformasi dari ekonomi leisure ke ekonomi esteem di Malut sepertinya masih belum terasa. Share persentase pengguna internet Malut terbilang kecil, meski dengan kondisi Indeks Kebahagiaan tertinggi, kehadiran internet seakan belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat Malut. Maka menjadi wajar jika ekonomi esteem belum banyak memberi dampak pada tingginya Indeks Kebahagiaan Malut.(*)