Selasa, 13 Februari 2018

Pertumbuhan Ekonomi dan Tingkat Kebahagiaan



 
Pertumbuhan Ekonomi dan Indeks Kebahagiaan, dokpri.
Perekonomian sedikit banyak bisa kita singgungkan dengan tingkat kebahagiaan. Ada pretensi bahwa orang lebih bahagia saat perekonomian personalnya membaik. Namun, tak sedikit mereka menyatakan peningkatan perekonomian personal tak selalu terasa membahagiakan. Kajian empiris mengenai hubungan antara kondisi perekonomian dan tingkat kebahagiaan masih jadi topik hangat di kalangan ekonom.

Berbicara soal perekonomian, pertumbuhan ekonomi masih menjadi tolak ukur penunaian kebijakan. Pertumbuhan ekonomi bernilai positif mencerminkan aktivitas ekonomi masih dilakukan di berbagai bidang. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, perekonomian nasional tumbuh sebesar 5,07 persen di tahun 2017. Pemerintah juga mengklaim bahwa pertumbuhan ekonomi yang positif menandakan tumbuh dan berkembangnya nilai tambah perekonomian secara agregat.

Bila kita simak, tren investasi secara nasional terus meningkat. Dengan memacu belanja pemerintah di bidang pengadaan barang dan jasa, sedikit banyak juga memperbaiki nasib sektor riil lebih optimis untuk menggerakkan turbulensi ekonomi. Kendati begitu, perkara ekonomi yang tumbuh belum mampu dikaitkan secara simultan terhadap tingkat pendapatan personal. Kondisi ini tentu menimbulkan tanya: apakah pertumbuhan ekonomi secara otomatis membuat masyarakat merasa bahagia?

Ekonomi Tumbuh, Siapa Yang Menikmati?

Fenomena yang umum terjadi, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia, situasi ekonomi tumbuh di sekitar keterpurukan. Keandalan dari kinerja ekonomi hanya dinikmati oleh kelompok pendapatan menengah (middle income) ke atas (high income).

Laju pertumbuhan ekonomi nasional memang tumbuh dan selama ini bernilai positif, walakin kemiskinan masih turun dengan lambat. Belum lagi ditambah dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang terus menghantui angkatan kerja di Indonesia. Di Provinsi Maluku Utara (Malut) saja, pertumbuhan ekonominya masih terpasung oleh eksistensi kemiskinan dan pengangguran terbuka. BPS Malut mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi tahun 2017 tumbuh mencapai 7,67 persen dibandingkan tahun 2017.

Perlu kita tahu bahwa angka pertumbuhan itu adalah yang tertinggi di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi nasional saja masih berputar di 5 persen, Malut 2 digit lebih jauh. Realita menunjukkan pertumbuhan ekonomi Malut dilingkupi oleh permasalahan tingginya kemiskinan dan pengangguran terbuka. TPT di Malut tercatat sebesar 5,37 persen meskipun industri manufaktur menyumbang sebesar 32,13 persen pertumbuhan ekonominya.

Logikanya, industri manufaktur Malut patut memberi perannya untuk menyerap ketersediaan tenaga kerja yang ada. Penyerapan tenaga kerja inilah pangkal terdistribusinya pendapatan masyarakat. Sebaliknya, disorientasi industri manufaktur bisa berdampak memperlebar perbedaan pendapatan. Inilah mengapa yang miskin semakin miskin, yang kaya kian kaya. Kalau sekarang, perbedaan pendapatan antara kelompok miskin dan kaya relatif berkurang, tetapi tingkat kedalaman kemiskinan makin besar.

Dampak pertumbuhan ekonomi yang belum berkualitas, selain distribusi pendapatan yang kurang merata, output dari usaha penambahan nilai barang dan jasa juga tak dapat dinikmati oleh mereka yang berpendapatan rendah. Inilah yang kemudian menurunkan rasa kebahagiaan masyarakat.

Ekonomi dan Kebahagiaan

Kajian empiris mengenai dampak pertumbuhan ekonomi terhadap kebahagiaan telah banyak dilakukan. Dengan pembatasan ruang lingkup pertumbuhan ekonomi lebih sempit, yakni pendapatan per kapita atau personal income, tingkat kebahagiaan akan meningkat.

Sebagaimana teori Easterlin (1974) dalam penelitiannya yang berjudul “Does Economic Growth Improve the Human Lot”, negara dengan pendapatan per kapita yang tinggi memberikan alasan (dorongan, red) untuk masyarakatnya merasa bahagia. Teori ini sepertinya mirip dengan apa yang terjadi di Malut. Ekonomi yang tumbuh pesat (7,67 persen) dan merupakan yang tertinggi di Indonesia sedikit banyak meningkatkan pendapatan per kapitanya. Perbaikan ekonomi itu ditunjukkan oleh tingkat kebahagiaan yang tinggi. Data BPS mengungkapkan Indeks Kebahagiaan (IK) Malut mencapai 75,68 poin di tahun 2017. Bahkan, IK Malut adalah yang tertinggi di Indonesia.

Menurut Hagerty et.al (2003), meningkatnya pendapatan secara mutlak terkait dengan peningkatan kebahagiaan baik secara individu maupun seluruh warga negara. Sebagai salah satu dimensi IK, kebahagiaan secara personal ditentukan beberapa hal, yaitu pendapatan, pekerjaan serta kondisi asset yang dimiliki. Selain itu, ikut berperan pula dimensi sosial dan lingkungan. Kepala BPS Malut menyatakan bahwa peningkatan IK Malut hingga bertengger di puncak nasional salah satunya karena meningkatnya aspek kepuasan hidup dan makna hidup.

Dapat ditengarai, meskipun secara masih banyak masyarakat miskin di Malut, justru mereka rata-rata menikmati proses kehidupannya. Hal inilah yang tidak melupakan masyarakat Malut untuk berbahagia. Disparitas pendapatan dan lebarnya jurang penghasilan tak membuat masyarakat Malut merasa kurang bahagia. Tak harus menunggu “pegang” uang untuk dapat bahagia. Bukankah begitu? (*)