Sabtu, 11 November 2017

Ternyata Pengaruh Penggunaan Bitcoin Terhadap Underground Economy Seperti Ini!

Penggunaan bitcoin untuk transaksi keuangan, sumber: dokpri.
Bitcoin merupakan salah satu instrumen transaksi berbasis teknologi saat ini. Orientasi efisiensi transaksi dan keamanan menjadi salah satu pendorong penggunaan alat pembayaran ini. Tidak ada pihak satupun yang mengetahui seberapa besar arus transaksi bitcoin ini.

Sebagai uang virtual, bitcoin masih belum diakui secara legal, terutama di Indonesia. Meski demikian, di beberapa wilayah komunitas-komunitas bitcoin ini sudah ada.

Bitcoin memang berbeda dengan uang kartal, giral atau terkhusus uang elektronik yang baru-baru ini mulai disosialisasikan pemerintah. Wujud bitcoin tidak dapat didefinisikan sebagaimana uang berbahan tertentu seperti kertas. Bitcoinlah yang sebenarnya memenuhi definisi dari uang virtual itu sendiri. Sebelum bitcoin, uang virtual pertama kali yang ada dan digunakan diberi nama Satoshi.

Bitcoin diciptakan pada tahun 2009 oleh Satoshi Nakamoto. Selain dari bentuknya yang tak terjamah, sistem transaksi dari bitcoin ini juga terbilang unik. Departemen keuangan Amerika Serikat (AS) pun menyebutkan bahwa sistem transaksi termasuk penyimpanan bitcoin ini adalah desentralisasi. Artinya, dengan menggunakan jaringan peer to peer (P2P), data transaksi termasuk penyimpanan ini tidak terpusat atau menggunakan administrator tunggal. Inilah yang menjadikan Bank Indonesia (BI) masih menganggap bitcoin merupakan uang virtual yang ilegal. Selain itu, arus transaksi bitcoin ini hanya dapat diketahui besarnya saja, sementara siapa yang mengirimkan uang dan kemana tujuan pengirimannya juga tidak dapat diketahui.

Beberapa tahun yang lalu, ya mungkin bitcoin masih belum banyak dikenal oleh khalayak, nilai 1 bitcoin bisa dikatakan cukup besar. Satu bitcoin (1 BTC) saja setara dengan Rp. 6 juta sampai Rp. 7 juta. Sekarang, nilai dari mata uang virtual ini telah mencapai Rp. 80 juta per 1 BTC-nya. Luar biasa bukan?

Sebagaimana uang seperti biasa yang kita kenal, bitcoin juga ada dompetnya. Kalau uang kartal kan biasa kita simpan dalam dompet atau tersedia dalam mesin ATM atau bank. Kalau bitcoin, "dompet" berada di dalam cloud yang dijamin memiliki pengaman yang tinggi. Cloud sebagai "dompet" dari uang virtual ini dihiasi dengan fitur pengaman dengan kode enkripsi mencapai 256 bit serta berlapis. Pastinya, dengan sistem peer to peer, arus yang dapat dikontrol oleh pemerintah hanyalah besarnya saja, inilah yang menjadikan bitcoin mempunyai daya tawar pemakaian eksklusif bagi penggunanya.

Betapa tidak, disinyalir banyak aktivitas underground economy seperti perdagangan narkoba, perdagangan manusia, perdagangan hewan endemik, perjudian, illegal logging, illegal fishing, illegal mining serta bisnis prostitusi menggunakan instrumen bitcoin. Malah, beberapa waktu lalu, kita kan masih ingat merebaknya pemberitaan virus Wannacry, itu injeksi virusnya pun juga meminta bitcoin dalam aksinya.

Sistem transaksi berpengaman tinggi dan dalam jaringan peer to peer ini menjadikan bitcoin adalah satu-satunya sistem transaksi bebas pajak. Sebab selain bentuknya yang virtual, pengirim dan penerimanya susah diditeksi.

Rasa-rasanya, bila transaksi keuangan kelak menggunakan bitcoin ini, maka pengkalkulasian inflasi bakal sulit dilakukan. Tak hanya itu, underground economy juga semakin memberikan andil besar membiaskan angka-angka statistik perdagangan dan arus transaksi finansial yang ada. Sebagai residu perekonomian, underground economy bakal lebih sulit lagi untuk diditeksi dan dikendalikan. Bitcoin seolah menjadikan bahwa semua aktivitas baik legal dan ilegal bersifat free dengan privasi tinggi. Semua kalkulasi akan mengandung kesalahan cukup besar dan tak bisa diungkap dengan mudah.

Selain itu, bitcoin akan menyebabkan jasa perbankan gulung tikar karena mereka bukan lagi sebagai pihak intermediasi antara pihak yang surplus dan defisit. Bitcoin mengancam kedudukan bank sebagai dompet raksasa uang. Arus perdagangan virtual dan invisible sehingga keadaan perekonomian global tidak dapat dianalisis secara pasti.(*)