Senin, 06 November 2017

Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III 2017 Membaik? Padahal Nyatanya Hal Ini Perlu Diperhatikan

Berita Resmi Statistik Triwulan III 2017, sumber: BPS
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi triwulan III tahun ini adalah sebesar 5,06 persen. Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) No. 101/11/Th.XX juga disebutkan bahwa Produk Domestik Bruto nasional saat ini berada pada posisi Rp. 3.502,3 triliun.
Series Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III, yoy 2011 - 2017, sumber: BPS
Pertumbuhan ekonomi triwulan III kali ini relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan I dan II 2017 yang tampak stagnan pada angka 5,01 persen. Secara year on year, pertumbuhan ekonomi triwulan III juga meningkat dibandingkan Triwulan III pada tahun 2016. BPS mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi triwulan III ini adalah yang paling tinggi dibandingkan kondisi yoy dalam empat tahun terakhir.

Bila ditinjau menurut wilayah, Pulau Jawa masih mendominasi penyumbang besarnya PDB nasional pada triwulan ini, yakni 58,51 persen. Diikuti oleh Sumatera sebesar 21,54 persen, lalu Kalimantan sebesar 8,10 persen, Sulawesi sebesar 6,16 persen, Bali dan Nusa Tenggara sebesar 3,22 persen dan terakhir yaitu Pulau Maluku dan Papua sebesar 2,47 persen.

Pertumbuhan ekonomi triwulan III ini juga tak lepas dari peranan realisasi belanja pemerintah (APBN) triwulan III 2017 yang mengalami peningkatan sebesar 22,56 persen dari pagu 2017. Selain itu, aktivitas ekspor dan impor juga nampak mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya dan year on year (yoy).

Yang masih menjadi persoalan perekonomian Indonesia hingga akhir 2017 ini adalah menurunnya kinerja lapangan usaha pertanian. BPS mencatat bahwa laju pertumbuhan ekonomi lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan pada triwulanan III 2017 mengalami perlambatan, menjadi 2,92 persen. Laju pertumbuhan ini terlihat lebih kecil dari triwulan sebelumnya yang sebesar 3,33 persen.
Laju pertumbuhan, sumber: BPS
Perlambatan laju pertumbuhan lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan tersebut bukanlah tanpa alasan. Pasalnya, beberapa faktor cuaca, kenaikan produksi serta momentum hari keagamaan mempunyai pengaruh terhadap perlambatan kinerja lapangan usaha tersebut. Keadaan sebaliknya malah terjadi pada lapangan usaha industri pengolahan atau manufaktur.
Laju pertumbuhan industri pengolahan naik, sumber: BPS
Adanya peningkatan industri makanan dan minuman terutama karena adanya dorongan produksi kelapa sawit, peningkatan permintaan tekstil dan pakaian jadi, bergulirnya pekerjaan konstruksi dan upaya pemerintah memulihkan lapangan usaha pertambangan dan penggalian menyebabkan industri pengolahan memiliki laju pertumbuhan mencapai 4,84 persen.
Struktur dan Pertumbuhan ekonomi triwulan III 2017, sumber: BPS
Kendati demikian, dalam hal sumbangsih terhadap kue PDB nasional, lapangan usaha pertanian kehutanan dan perikanan tak kalah jauh daripada industri pengolahan. Bila share industri pengolahan pada triwulan III ini mencapai 19,93 persen, lapangan usaha pertanian kehutanan dan perikanan adalah penyumbang kue PDB nomor dua setelahnya, yaitu sebesar 13,96 persen. Walaupun begitu, kita tetap mencemaskan kondisi lapangan usaha pertanian kehutanan dan perikanan. Berdasarkan kalkulasi BPS, sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2017 lebih didominasi oleh lapangan usaha industri pengolahan, yaitu sebesar 1,02 persen. Diikuti oleh lapangan usaha perdagangan (0,72 persen), lalu konstruksi (0,69 persen), kemudian infokom (0,45 persen). Sementara lainnya lebih disumbang oleh lapangan usaha lainnya.

Dengan semakin mengecilnya peran dan fungsi lapangan usaha pertanian kehutanan dan perikanan, maka kelak pertumbuhan ekonomi nasional akan didominasi oleh industri manufaktur. Masalahnya adalah seberapa besar kualitas pertumbuhan ekonomi itu? Bilamana pertumbuhan ekonomi terus melaju, lantas apakah pengangguran berkurang? Ini yang menjadi persoalan.

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa lapangan usaha yang hingga kini masih welcome terhadap ketersediaan tenaga kerja adalah lapangan usaha pertanian kehutanana dan perikanan. Siapapun bila "banting setir" dan terjun dalam lapangan usaha tersebut. BPS menyebutkan bahwa angkatan kerja pada Agustus 2017 memang sebanyak 128,06 juta orang. Meski begitu, kondisi tersebut ternyata menurun sebesar 3,49 juta orang bila dibandingkan dengan kondisi Februari 2017. Pertumbuhan ekonomi yang berfluktuasi di sekitar angka 4 hingga 5 persen ternyata belum cukup mampu "memborong" seluruh angkatan kerja yang ada.

Buktinya, menurut data BPS, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada Agustus 2017 hanya sebesar 66,67 atau menurun dibandingkan kondisi Februari 2017 yang sebesar 69,02. Daya serap lapangan usaha terhadap ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) nampaknya mengecil, meski pemerintah mengklaim lapangan kerja semakin banyak dan bervariasi. Tenaga kerja yang ada sekarang justru bersaing dengan mesin. Meski pemerintah tahun ini membuka kran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) besar-besaran tapi hal itu hanya memenuhi kuota formasi kosong semata, tidak ada niatan berupaya mengurangi pengangguran.

Berdasarkan data BPS pula, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah lulusan yang menyumbang Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tertinggi, sekitar 12 persen. Ini memberikan makna kepada kita bahwa pertumbuhan ekonomi yang makin baik justru "keropos" karena pengangguran makin bertambah. SMK yang merupakan lahan menghasilkan tenaga kerja terampil dan kreatif harus dikorbankan demi memenuhi efisiensi proses peningkatan nilai tambah barang dan jasa. Mereka semua bersaing bukan dengan sesamanya, namun dengan mesin-mesin serba canggih dengan penggunaan bahan bakar yang irit. Jadi, pemerintah tak perlu terlalu bangga dengan pertumbuhan ekonomi yang membaik sebagaimana judul "pengantar tidur" Kompas.com edisi hari ini. Ada hal-hal krusial yang justru menyebabkan pertumbuhan ekonomi itu tak ada apa-apanya.(*)