Jumat, 17 November 2017

Pertumbuhan Ekonomi dan Penyerapan Tenaga Kerja

Pertumbuhan Ekonomi dan Daya Serap Tenaga Kerja, dokpri.


Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis angka pertumbuhan ekonomi Provinsi Maluku Utara pada triwulan III 2017. Sebagai salah satu indikator makroekonomi, angka pertumbuhan ekonomi ini selalu ditunggu-tunggu oleh para pelaku kebijakan. Selain berfungsi untuk melihat struktur perekonomian, pertumbuhan ekonomi juga dapat digunakan untuk melihat seberapa besar pangsa pasar sekaligus peluang usaha yang relevan di suatu wilayah.

BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Maluku Utara (Malut) pada triwulan III ini adalah sebesar 7,78 persen. Angka pertumbuhan Malut kali ini jauh melebihi angka pertumbuhan ekonomi secara nasional yang pada triwulan III ini hanya sebesar 5,06 persen. Secara umum angka pertumbuhan ekonomi Malut di triwulan III 2017 disumbang oleh seluruh lapangan usaha. Apabila diamati menurut lapangan usahanya, industri manufaktur atau pengolahan menjadi lapangan usaha utama pertumbuhan ekonomi Malut. Lapangan usaha ini tumbuh mencapai 41,95 persen sekaligus menjadi sumber utama pertumbuhan ekonomi. Kalau dilihat dari sisi pengeluaran, komponen ekspor luar negeri juga mendominasi angka pertumbuhan ekonomi Malut, yakni mencapai 563,29 persen.

Secara kumulatif, dari triwulan I sampai triwulan III 2017, ekonomi Malut tumbuh sebesar 7,46 persen. Lagi-lagi, industri pengolahan masih menjadi satu-satunya tumpuan gerakan ekonomi Malut dengan pertumbuhan kumulatif mencapai 27,19 persen. Kondisi yang sama juga menunjukkan bahwa ekspor luar negeri juga menjadi pusat pertumbuhan ekonomi Malut dari segi pengeluaran.

Secara teori dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi menunjukkan akumulasi nilai tambah yang dihasilkan seluruh aktivitas perkonomian mengalami pertumbuhan. Maka tentunya, tumbuhnya nilai tambah tersebut dihasilkan dengan menggunakan faktor produksi salah satunya adalah tenaga kerja. Tanpa tenaga kerja, proses menambah nilai (value added) suatu barang atau jasa tidak akan terjadi. Oleh karena itu, maka dapat dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi memiliki kualitas yang baik jikalau mampu menyerap tenaga kerja yang tersedia.

Kendati demikian, ternyata pertumbuhan ekonomi Malut yang sebesar 7,78 persen tersebut justru mengandung beberapa kejanggalan, salah satunya terkait dengan angka pengangguran di Malut hingga triwulan III. Tecatat hingga Agustus 2017, angkatan kerja di Malut adalah sebanyak 516,2 ribu orang, 97,8 ribu orang di antaranya merupakan angkatan kerja wilayah Ternate. Bila ditelisik lebih jauh, tenaga kerja yang tersedia di Malut begitu melimpah dan siap digunakan untuk memutar roda perekonomian dan mencetak pertumbuhan ekonomi. Walaupun begitu, tak dinyana Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Malut mengalami penurunan, dari 69,48 persen di Februari menjadi 63,48 persen pada per Agustus 2017. Terdapat penurunan sebesar -2,54 persen terjadi dari Februari hingga Agustus. Belum lagi bila dibandingkan terhadap Agustus 2016, TPAK Malut bahkan mengalami penurunan hingga -5,83 persen.

Sebagai salah satu indikator yang mengukur tingkat partisipasi angkatan kerja, kondisi penurunan TPAK ini menjadi sebuah sinyal tidak baik di tengah penguatan pertumbuhan ekonomi Malut. Mayoritas tenaga kerja masih mendominasi lapangan usaha pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan dan perikanan, yakni sebesar 199,0 ribu orang. Sementara itu, kenyataan data mengatakan bahwa sumber pertumbuhan ekonomi Malut triwulan III 2017 adalah lapangan usaha industri pengolahan. Hal ini bermakna bahwa daya serap industri pengolahan di Malut masih terbilang kecil terhadap angkata kerja yang tersedia.

BPS juga menyebutkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Malut adalah sebesar 5,33 persen pada Agustus. Angka itu terlihat meningkat jika dibandingkan terhadap kondisi Februari yang sebesar 4,01 persen. Sebagai sebuah indikator mengukur sisi permintaan (demand) di bursa tenaga kerja, peningkatan ekonomi Malut masih belum percaya diri untuk menggunakan ketersediaan tenaga kerja.

Lebih jauh, bila diurai menurut jenjang pendidikan terakhir angkatan kerja yang ada di Malut, pun terdapat permasalahan serius. Pada Agustus 2017, TPT untuk penduduk pendidikan terakhir Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah yang tertinggi, yaitu sebesar 9,65 persen. Kemudian diikuti oleh mereka yang berpendidikan terakhir Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), yakni sebesar 8,15 persen. Angka tersebut dapat diintepretasikan bahwa untuk setiap 100 orang angkatan kerja, ada sebanyak 9 – 10 orang lulusan SMA dan sebanyak 8 – 9 orang lulusan SMK yang menganggur di Malut.

Di tengah pertumbuhan ekonomi Malut yang kian gemilang, justru Malut memiliki tantangan berat bagaimana meningkatkan daya serap ekonomi terhadap tenaga kerja tinggi. Lulusan SMA dan SMK memang sangat berbeda dengan lulusan Sekolah Dasar (SD) atau di bawahnya. Mereka biasanya terlalu banyak pilihan mengingat orientasi mereka adalah mendapatkan pekerjaan yang nyaman dan layak. Inilah yang menjadikan partisipasi angkatan kerja lulusan SMA dan SMK rendah. Belum lagi mereka yang beralasan sulit mendapatkan lapangan pekerjaan juga menyumbang rendahnya partisipasi angkatan kerja. Sedangkan lulusan SD atau di bawahnya, mereka lebih mudah memilih pekerjaan, apa saja jenis pekerjaannya. Dengan demikian, lulusan SD atau kebawah dalam pengkategorian “bekerja” selalu masuk dan menyumbang besarnya angkatan kerja. Inilah mengapa partisipasi angkatan kerja lulusan SD ke bawah selalu lebih tinggi daripada SMA dan SMK.

Pertumbuhan ekonomi Malut sebetulnya bakal berkualitas, asalkan pertumbuhan itu memiliki daya serap terhadap tenaga kerja secara maksimal. Industri pengolahan Malut nampaknya mulai menggeser orientasinya dari padat karya ke padat modal, makanya percuma bila TPAK selalu tinggi, wong mereka harus bersaing dengan mesin. Memiriskan bukan?(*)