Sabtu, 04 November 2017

Orangutan Bukan Hama Sawit, Ia Juga Berhak Hidup

Rintihan orangutan akibat ulah penjahat lingkungan
Indonesia merupakan salah satu negara dengan hutan hujan tropisnya yang luas. Letak geografis yang demikian tepat di sekitar ekuator menjadikan hutan Indonesia begitu hijau dan terjaga kealamiannya. Bila kita amati, begitu banyak spesies pohon yang hidup di Indonesia.

Pun banyaknya kanopi menjadikan hutan Indonesia sangat sesuai bagi kehidupan ekosistem. Maka tak heran, bila dunia menjadikan Indonesia sebagai jantungnya dunia.

Hutan merupakan tempat hidupnya binatang (fauna), kalau di Indonesia, salah satu binatang yang kini jadi sorotan adalah orangutan. Orangutan merupakan salah satu spesies kera. Setidaknya ada tiga kerabat dari orangutan yaitu gorila, simpanse dan bonobo (biasa ditemukan di Afrika).

Orangutan berbeda dengan spesies kera lainnya. Kehidupan orangutan biasanya cenderung sendiri atau semi-koloni (semi-solitary). Sedangkan spesies lainnya hidup secara berkelompok atau (koloni).

Sebagai salah satu satwa yang kini menduduki predikat langka, "status" orangutan demikian memiriskan. Betapa tidak, langkanya orangutan bukannya menjadikan manusia sadar untuk mempertahankan eksistensinya justru menjadi ancaman kehidupannya.

Dari 100 persen populasi orangutan yang ada di Indonesia, kini 90 persennya hanya dapat kita temukan di Sumatera dan Kalimantan (Borneo). Data yang dilansir oleh laman covesia.com (6/12/2014) menyebutkan bahwa di Sumatera sendiri, populasi orangutan adalah sebanyak 6.500 ekor.

Sedangkan di Borneo sendiri terpantau sebanyak 54.000 ekor. Sementara itu, data terbaru Population and Habitat Viability Assesment (PHVA) mencatat bahwa populasi orangutan pertengahan 2016 di Sumatera dan Borneo mencapai 71.820 ekor (detik.com, 22/08/2017). Sebanyak 57.350 ekor di antaranya berada di Borneo, sedangkan sisanya diperkirakan hidup di Sumatera dan daerah di luar wilayah hutan konservasi.

Jikalau kita amati, populasi antara tahun 2014 dan 2016 ada sedikit peningkatan. Kendati demikian, soal kehidupan satwa satu ini tak pas bila ditinjau dari aspek jumlahnya saja. Lebih jauh coba kita amati data terkait kepadatan populasi orangutan per luas wilayah (dalam km persegi).

Fakta mengejutkannya, telah terjadi kecenderungan penurunan tingkat kepadatan populasi orangutan per kilometer perseginya. Data 10 tahun yang lampau menunjukkan bahwa kepadatan orangutan adalah 0,45 - 0,76, pada posisi 2016 tingkat kepadatannya justru menjadi 0,13 - 0,47.

Artinya, populasi orangutan per 100 kilometer perseginya dihuni sebanyak 13 sampai 47 ekor saja.

Kondisi tersebut menjadi indikator semakin terancamnya orangutan di Indonesia. Bila dulu hutan merupakan habitat orangutan yang begitu tenang dan ramah, sekarang justru menjadi sebuah ranjau yang siap membunuh mereka. Sejumlah kasus matinya orangutan akibat pembakaran hutan sawit serta ditemukan beberapa ekor orangutan yang tertembak menjadi bukti nyata. Alih-alih sebagai hama pohon sawit, orangutan kian tak tenang hidupnya.

Keseimbangan ekosistem rusak seketika karena ulah oknum manusia yang hanya berorientasi pada keuntungan pribadi. Padahal, hutan adalah tempat tinggal orangutan. Di sanalah mereka dapat mempertahankan hidupnya dan keluarganya. Kalaupun mereka berkeleriaran hingga merusak habitat manusia, itu menjadi dampak oleh aktivitas penjahat lingkungan.

Lima November setidaknya menjadikan kita untuk "melawan lupa" terhadap kejadian kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan yang disengaja oleh perusahaan kelapa sawit. Sebagai Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, kita perlu menguatkan komitmen kembali untuk terus melindungi flora dan fauna langka negeri ini, utamanya orangutan.

Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman juga mengungkapkan bahwa penyusutan populasi orangutan di Indonesia telah mencapai angka 20 persen per tahunnya. Sebegitu urgennya bagi kita untuk menggalakkan perlindungan terhadap orangutan sebagai salah satu ikon satwa nasional.

Luasan hutan yang makin tergerus oleh pembangunan hendaknya menjadi orientasi ke depan bahwa pembangunan haruslah berwawasan lingkungan. Bilamana kita mengutarakan dengan tegas kita berhak untuk hidup, maka orangutan pun juga punya hak untuk hidup.

Penyusutan hutan akibat eksploitasi dan eksplorasi ilegal harus segera dihentikan. Terlebih, orangutan merupakan satwa yang dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Sungguh tak lucu jika Indonesia yang mendapat predikat jantung dunia tercoreng hanya karena tak becus melindungi orangutan.

Biar pun populasinya meningkat tapi habitatnya hancur karena penjahat lingkungan, maka siklus kehidupan ekosistem juga tak seimbang. Populasi yang meningkat pun juga memerlukan ketersediaan makanan dari alam, dan itu akan terwujud bila luasan hutan habitat asli orangutan terjaga.(*)