Selasa, 21 November 2017

Hari Pohon Dunia: Menjaga Eksistensi Pohon

Selamatkan Pohon Kita, dokpri.
Pohon adalah pundi-pundi kehidupan. Tanpanya, semua mahluk akan mati karena kekurangan oksigen. Satu pohon dinyakini dapat mencukupi kebutuhan oksigen bagi tiga orang. Bisa dibayangkan bila jumlahnya banyak, tentu berita jual-beli udara tak akan pernah terdengar.

Di China, saking banyaknya industri dan populasi penduduknya yang padat mengakibatkan stok oksigen (udara segar) makin menipis. Bahkan kabar terbaru menyebutkan telah ada usaha jual-beli udara. Per kantung udaranya kalau dikonversikan sebesar Rp. 2.000,- untuk mensuplai kebutuhan sekali napas. Mengerikan bukan?

Inilah dampak dari berkurangnya jumlah pohon di bumi, utamanya di Indonesia. Bila dibandingkan China, hutan di Indonesia masih jauh lebih luas berikut jenis pohonnya. Meski dengan jumlah penduduk yang diperkirakan lebih dari 262 juta jiwa, pepohonan masih terbilang cukup untuk mensuplai kebutuhan udara bersih dan beroksigen tinggi. Indonesia masih banyak menyimpan hutan dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk memfilter udara panas, sinar matahari serta karbon yang mencemari lingkungan setiap hari. Tak hanya itu, masih banyaknya pohon juga berpotensi membersihkan udara dari emisi beracun yang dapat mengancam kesehatan.

Walaupun demikian, keberlimpahan pohon tidaknya menunjukkan kondisi yang baik-baik saja. Aktivitas penebangan hutan untuk pasokan bahan baku industri menjadi salah satu permasalahan hingga kini. Pohon merupakan tanaman yang menghasilkan bahan baku pembuatan kertas dan pulp (bubur kayu). Kertas dan pulp merupakan produk unggulan Indonesia yang sampai saat ini masih banyak diekspor.

Betapa tidak, tahun 2016 saja pertumbuhan industri kertas dan barang dari kertas mengalami kenaikan sebesar 13,95 persen (BPS, 2017). Selain itu, industri kehutanan yang berbahan baku pasokan dari konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) di tahun 2016 juga berhasil menyumbang devisa hingga 10,7 miliar dollar AS (Kompas, 10/02/2017). Kenyataan ini mengisyaratkan bahwa industri berbahan baku kertas dan pulp memiliki daya saing yang tinggi meskipun memberi dampak pada lingkungan, utamanya populasi pohon di Indonesia.

Secara tahunan, industri mikro dan kecil kertas dan barang dari kertas tumbuh sebesar 23,37 persen pada kuartal II 2017 (BPS). Artinya, hutan bakal berkurang seiring aktivitas penebangan pohon untuk keperluan meningkatkan nilai tambah pohon itu. Selain dorongan permintaan kertas yang terus meningkat, permintaan terhadap pulp juga tinggi. Dalam setahun, pasokan pulp dari Indonesia bisa mencapai 6 ton sampai 8 ton. Fantastis bukan?

Nilai ekonomis pohon mungkin sangat menjanjikan bagi industri kertas dan pulp, tetapi sadarkah kita bahwa jika hal itu akan membawa dampak buruk? Maraknya penebangan hutan tanpa dibarengi reboisasi hutan tentu membuat populasi pohon terus berkurang. Udara kian memanas bahkan mengancam ketersediaan oksigen yang cukup untuk bernapas. Kalkulasi sederhana rofaeducationcenter (2017) memperlihatkan bahwa 1 pohon usia 5 tahun bila dijadikan kertas setara dengan 57.727 lembar atau sekitar 115 rim. Bila kita misalkan 1 rim kertas ukuran A4 katakanlah saat ini seharga Rp. 83.000,-, maka 1 pohonnya dapat kita nilai Rp. 12.865.000,-.

Oleh karenanya, salah satu solusi untuk mengurangi penggunaan bahan baku kayu ini adalah melakukan integrasi antara industri kertas dan pulp. Selain itu, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) juga diharapkan terus memantau dan mengawasi aktivitas industri pengolahan berbahan kayu ini. Tak hanya itu, program penanaman kembali hutan-hutan yang gundul akibat kegiatan industri perlu untuk ditingkatkan, tentunya peran seluruh lapisan masyarakat menjadi sebuah keniscayaan.(*)