Jumat, 03 November 2017

BPS: IKJHI Indonesia 2017 Naik Lagi Menjadi 84,85%? Inilah Alasannya


Badan Pusat Statistik (BPS) tahun ini kembali merilis angka Indeks Kepuasan Jemaah Haji Indonesia (IKJHI). Indeks Kepuasan Jemaah Haji Indonesia (IKJHI) merupakan sebuah indeks yang mengukur tingkat kepuasan para jemaah haji yang difasilitasi oleh pemerintah. Indeks ini bertujuan untuk memberi penilaian sekaligus sebagai evaluasi mengenai tingkat kualitas pelayanan dan penyelenggaraan ibadah haji Indonesia.


Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, yakni sekitar 85 persen, manajemen penyelenggaraan ibadah haji selalu menjadi perhatian pemerintah setiap tahunnya. Hal ini selaras dengan Undang-Undang (UU) Nomor 13 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji. Pada pasal 6 disebutkan secara jelas bahwa kewajiban pemerintah sebagai penyelenggara ibadah haji adalah melakukan pembinaan, pelayanan dan perlindungan dengan menyediakan layanan administrasi, bimbingan ibadah haji, akomodasi, transportasi, pelayanan kesehatan, keamanan, dan hal-hali lain yang diperlukan oleh jemaah haji. Konsekuensi logis dari UU tersebut menyatakan bahwa pemerintah dalam penyelenggaraan ibadah haji setiap tahunnya menempati posisi sentral terhadap kehidupan para jemaah haji.


Implementasi pelayanan yang prima tentu diperlukan agar penyelenggaraan ibadah haji berlangsung dengan lancar. Pun, para jemaah haji mendapatkan keamanan sekaligus kenyaman dalam melaksanakan ibadahnya. Pengukuran kepuasan ibadah haji setiap tahunnya dilakukan untuk memotret seberapa puas jemaah haji baik saat persiapan hingga sepulang sampai di rumah. Kepuasaan inilah yang juga menjadi salah satu ukuran keberhasilan pemerintah sebagai penyelenggara tersebut.

Indeks Kepuasaan Jemaah Haji Indonesia 2010-2017, sumber: bps.go.id
Kalau diamati, IKJHI beberapa tahun ini nampak menunjukkan peningkatan kualitas. Pada tahun 2010, IKJHI masih sebesar 81,45, kemudian naik menjadi 83,31 di tahun 2011 dan sedikit menurun di tahun 2013, yakni menjadi 82,69. BPS juga mencatat bahwa selama tahun 2010 hingga 2017 terjadi dua kali penurunan IKJHI, yaitu pada tahun 2012 (81,32) dan tahun 2014 (81,52). Naik dan turunnya nilai IKJHI ini setidaknya menjadi catatan penting bagi pemerintah bahwa diperlukan upaya-upaya khusus terhadap peningkatan kualitas pelayanan jemaah haji secara berkala. Dengan peningkatkan kualitas pelayanan maka penilaian kepuasaan para jemaah haji pun akan terus meningkat.


Buktinya saja, semenjak tahun 2015 hingga 2017, IKJHI terus mengalami peningkatan. Tahun 2015 IKJHI menunjukkan angka 82,57, kemudian menjadi 83,83 di tahun 2016. Sedangkan pada tahun 2017 terjadi kenaikan sebesar 1,02 poin dibandingkan 2016 menjadi 84,85. Secara keseluruhan, IKJHI sebesar itu menempati posisi “Memuaskan” dan menjadi kabar baik bagi pemerintah sebagai panitia penyelenggaraan ibadah haji. Selain itu, menurut jenis pelayanannya, indeks yang menyumbang terbesar IKJHI tahun ini adalah transportasi bus antar kota (88,23 persen), sedangkan indeks yang terkecil adalah jenis pelayanan Tenda di Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armina) (75,55).


Tahun 2017 merupakan salah satu momentum jemaah haji Indonesia. Sebab, jemaah haji Indonesia merupakan salah satu yang terbanyak, yakni sebanyak 2,1 juta jemaah. BPS mencatat bahwa mayoritas jemaah haji tahun ini menurut gender lebih didominasi perempuan dengan persentase sebesar 55,62 persen. Sedangkan 44,38 persennya adalah jemaah haji laki-laki.
Sebegitu banyaknya jemaah haji tentunya diperlukan manajemen pelaksanaan termasuk risiko terhadap seluruh jamaah. Pelayanan tempat tinggal dalam hal ini sudah sewajarnya menjadi perhatian pemerintah ke depan karena memiliki IKJHI yang relatif kecil dibandingkan indikator kepuasaan pelayanan lainnya. Tak hanya soal kepuasaan, aspek kesehatan selama beribadah haji juga sangat diperlukan para jemaah. Terlebih bagi jemaah yang sudah berusia lanjut atau selama di perjalanan mengalami sakit.(*)