Selasa, 07 November 2017

Astaga! Penganggur Terbanyak Adalah Lulusan SMK? Ternyata Inilah Alasannya

Bekerja merupakan aktivitas manusia sehari-hari. Padahal matahari belum menyingsing, mungkin sebagian manusia telah berangkat kerja. Sampai-sampai, karena saking enaknya bekerja, pulangnya pun hingga larut malam. Namun, tahukah kita bahwa tak semua aktivitas bisa dikatakan bekerja?

Konsep Bekerja
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), bekerja merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud untuk memperoleh pendapatan atau membantu memperoleh pendapatan paling sedikit selama 1 (satu) jam secara berurut-urut (tanpa putus-putus) selama seminggu yang lalu, termasuk pekerja tak dibayar, yakni sebagai pembantu dalam suatu usaha tertentu.

Konsep tersebut bukanlah buatan BPS sendiri, melainkan mengacu pada konsep dan definisi yang telah disepakati secara internasional (International Labor Organization, ILO). Jadi, misalkan ada seseorang yang saat ini tidak bekerja, namun seminggu yang lalu ia pernah bekerja dan mendapatkan upah selama sejam, maka ia sudah terkategorikan sebagai orang yang bekerja.

Bicara soal bekerja, BPS baru-baru ini telah merilis angka-angka statistik terkait struktur angkatan kerja di Indonesia. Per Agustus 2017 kemarin, penduduk usia kerja di Indonesia tercatat sebanyak 192,08 juta orang. Dari jumlah itu, terdapat 128,06 juta orang yang berstatus sebagai angkatan kerja. Angkatan kerja adalah penduduk usia kerja (usia 15 tahun ke atas) yang bekerja atau sementara tidak bekerja serta termasuk di dalamnya penduduk yang sedang menganggur.
Jumlah angkatan kerja dan pengangguran, sumber: BPS
Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk yang bekerja per Agustus 2017 adalah sebanyak 121,02 juta orang. Dari jumlah itu, 87,20 juta orang bekerja secara penuh (full time), 24,68 juta orang sebagai pekerja paruh waktu (shift time/part time) dan sebanyak 9,14 juta orang berstatus setengah menganggur.

Sampai saat ini, meski di tengah membaiknya pertumbuhan ekonomi dengan laju sebesar 5,06 persen di triwulan III, persoalan tentang pengangguran masih menjadi topik hangat sekaligus masih menjadi Pekerjaan Rumah (PR) pemerintah. Betapa tidak, jumlah pengangguran di Indonesia posisi Agustus 2017 mencapai 7,04 juta orang. Kalau dipersentasekan, jumlah pengangguran Indonesia masih sekitar 5,49 persen dari seluruh angkatan kerja.

Lapangan kerja jikalau kita amati secara kasar demikian banyak. Iklim investasi di Indonesia juga kian meningkat, baik di sektor industri manufaktur, konstruksi, perdagangan, transportasi dan infokom. Tapi, nyatanya masih ada 7,04 juta orang yang belum digunakan tenaganya untuk meningkatkan nilai tambah produk domestik. Jutaan orang penganggur tersebut juga masih ada yang baru mempersiapkan membuka usaha. Pun di antara mereka ada pula yang sedang bingung mencari di mana lapangan kerja. Yang bisa dikatakan "parah" adalah masih adanya sejumlah penganggur yang beralasan malas bekerja.

Investasi demikian besar berdatangan dari negara lain, industri-industri baru juga mulai buka. Kendati sepertinya, jutaan penganggur tersebut "tersingkir" akibat persaingan. Mereka tereliminasi dalam kompetisi dengan target formasi dan kuota Sumber Daya Manusia (SDM) yang akan dipakai perusahaan. Bahkan, tak sedikit penganggur merupakan korban kebiadapan mesin canggih perusahaan. Atau, mereka tereliminir karena ternyata pekerjaannya tak cocok.

Bila kita tinjau dari struktur lapangan pekerjaan utama, sebetulnya sektor pertanian masih melambai-lambaikan tangan kepada 7,04 juta orang penganggur itu. Indonesia punya lahan pertanian yang masih cukup untuk menampung mereka. Walakin, alih-alih pengin mendapatkan upah layak menjadikan sektor pertanian merupakan sektor rendahan atau marjinal. Coba kita amati datanya berikut:
Jumlah penduduk bekerja menurut sektor, sumber: BPS
Bila dibandingkan antara kondisi Agustus 2016 ke Agustus 2017, jumlah orang yang bekerja di sektor pertanian ternyata kian menyusut. Pada Agustus 2016, jumlah orang yang bekerja di sektor ini sebanyak 31,90 persen atau 37,77 juta orang. Tapi justru menurun sekitar 2 jutaan orang pada Agustus 2017, yakni menjadi 29,69 persen atau sebanyak 35,93 juta orang.

Anehnya, justru terdapat peningkatan di beberapa sektor lain selain pertanian. Misalkan di sektor perdagangan, Agustus 2016 sebesar 22,54 persen (26,69 juta orang), pada Agustus 2017 naik menjadi 23,28 persen (28,17 juta orang). Demikian halnya bila kita amati sektor jasa dan industri, ternyata seluruhnya mengalami kenaikan. Artinya, daya serap sektor pertanian nasional masih sangat lemah. Sebaliknya, ada sinyalemen bahwa terdapat banyak penduduk yang melakukan alih profesi dari bertani ke berdagang atau bekerja di bidang jasa. Tak hanya itu, lahan pertanian yang makin menyusut akibat pembangunan infrastruktur juga menyumbang faktor lemahnya daya tarik sektor pertanian terhadap ketersediaan tenaga kerja. Lebih-lebih, bagi mereka yang berpendidikan tinggi. Meskipun lulusan jurusan pertanian, tak dinyana bahwa ketertarikan terhadap profesi petani masih kurang.

Sektor pertanian terus melemah daya pikatnya akibat stagnansi sistem pertanian nasional yang tradisionalis. Pendidikan jalur ilmu pertanian hanya menghasilkan para ahli-ahli teori dan peneliti serta pengamat. Tidak menghasilkan para petani andal dengan menerapkan sistem bertani modern. Inilah mengapa tingkat pendidikan di Indonesia tak mudah diserap oleh lapangan kerja yang ada. Hal ini terbukti bila kita amati data Tingkat Penganguran Terbuka (TPT) menurut pendidikan terakhir berikut:
TPT menurut pendidikan terakhir, sumber: BPS (diolah)
Coba kita amati, SMK yang merupakan program pendidikan kejuruan dan melahirkan tenaga kerja terdidik dan terlatih nyatanya memiliki TPT tertinggi di Indonesia. TPT untuk pendidikan SMK adalah 11,41 persen mengartikan bahwa bila terdapat 100 orang angkatan kerja, maka 11 sampai 12 orang di antaranya adalah pengangguran. Diikuti oleh TPT untuk penduduk berpendidikan SMA sebesar 8,29 persen. Artinya, bila terdapat 100 orang angkatan kerja, 8 sampai 9 orang di antaranya hidup sebagai penganggur terbuka. Sebaliknya justru TPT untuk penduduk lulusan Sekolah Dasar adalah yang paling kecil, yakni 2,62 persen saja. Artinya, bila terdapat 100 penduduk lulusan SD yang berstatus angkatan kerja, maka 2 hingga 3 orang di antaranya adalah penganggur. Ini disebabkan rata-rata orang lulusan SD bekerja di sektor pertanian dan jasa-jasa nonformal. Perbedaan paradigma yang signifikan antara lulusan SD dan lulusan yang lebih tinggi menjadikan pertimbangan bekerja juga berbeda.

Lulusan SD dalam menentukan pilihan jenis pekerjaan lebih cepat daripada lulusan yang lebih tinggi. Kecepatan dalam memutuskan pilihan jenis pekerjaan inilah yang berpotensi besar menyumbang status penduduk yang tidak bekerja karena sedang mencari, sedang menunggu, sudah mendapatkan kerjaan namun belum mulai bekerja, atau memang tidak bekerja karena merasa tidak dapat menemukan lapangan kerja.(*)