Minggu, 01 Oktober 2017

Viral! Parpol Pendukung Prabowo Terbanyak Yakini PKI Bangkit! Ini Buktinya

Gerakan 30 September PKI yang dulu sempat membuat porak-poranda negara ini kini diisukan muncul kembali. Isu kebangkitan PKI ini banyak disinyalir mencuat ke permukaan publik seusai pilpres 2014 beberapa tahun lalu. Entah benar entah sekadar isu bohong, yang jelas, ada organisasi masyarakat (ormas) serta Parpol tertentu yang meletup-letupkan kembalinya PKI di republik ini.

Presiden Joko Widodo beberapa kali mengatakan kepada awak media bahwa PKI bangkit itu hanya isu, kalau pun bangkit presiden menantang untuk melaporkannya disertai bukti-bukti nyata. Bukan sekadar opini atau berita-berita bohong (hoax). Presiden menambahkan bahwa di Indonesia ini TAP MPR sudah jelas melarang hidupnya paham komunis (PKI). Namun, media sosial sedemikian banter berujar kebangkitan PKI.

Sebagai awalan, penulis ingin menyatakan posisi penulis sendiri. Penulis menyatakan diri tegas dalam independensi. Dalam tulisan ini, penulis berusaha memberikan fakta dan data. Sekali lagi, berbicara dengan berdasarkan data. Akurat dan valid tentunya. Bukan maksud untuk semakin memperlemah posisi capres yang kalah pada kontestasi pemilihan presiden (pilpres) 2014 lampau. Pun, dalam tulisan ini penulis nyatakan bahwa pemerintahan yang sah adalah yang patut kita kawal dan kita dukung pemerintahannya. Bukan karena kita terjerembab pada salah satu capres 2014, lantas selama 5 tahun hingga 2019 nanti, kerjaan kita hanya memperlemah pemerintah dan bahkan memelihara mulut yang penuh hujatan. Bukan demikian. Jikalau pada pilpres 2014 lalu, yang terpilih bukan Jokowi pun, penulis akan tetap mendukung dan mengawal proses pemerintahannya. Intinya kita dukung yang menjadi pilihan sah.

Kembali pada isu munculnya kembali PKI di Indonesia, beberapa waktu lalu, di dunia maya sempat viral. Ditambah dengan perhelatan "semu" di kubu TNI dan BIN soal adanya pembelian senjata oleh institusi di luar TNI.

Kalau masyarakat yang belum begitu stay tune terhadap perkembangan berita dunia maya mungkin datar-datar saja. Bahkan malah banyak yang belum tahu. Namun, pengguna internet di Indonesia yang terus meningkat menjadi keniscayaan viralnya informasi isu kebangkita PKI kali ini. Padahal sebelumnya, di masa SBY tidak ada isu kebangkitan PKI. Pemutaran film G30S/PKI pun juga tak dilontarkan oleh panglima TNI semasa itu.

Beberapa kalangan menilai, terutama para politisi mengendus adanya upaya manuver politik terhadap kemenangan kubu PDIP di pilpres 2014. Bangsa Indonesia dibuat susah "move on" dari rasa kekalahan pilpres 2014. Taktiknya pun begitu mudah, murah dan secara kontinu digembar-gemborkan sehingga nadanya pun "memperlemah" pemerintah yang sah. Sepanjang bergulirnya kebijakan Jokowi-JK, beragam kritikan pedas hingga blunder juga dilakukan, termasuk baru-baru ini soal PKI.

Setiap rezim itu pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya. Yang jelas, kebobrokan rezim sekarang lebih banyak disebabkan oleh akumulasi kebobrokan rezim-rezim sebelumnya. Kelemahan pemerintahan setiap rezim inilah yang menjadi "angin segar" bahan pelemahan terhadap pemerintahan yang sedang berkuasa.

PKI memang organisasi yang terlarang dan pernah berbuat biadab kepada negara ini. Kendati demikian, apakah lantas seluruh nyawa yang hilang akibat pra G30S dan pasca G30S lantas 100% kesalahan PKI? Bila demikian, sepertinya Anda perlu banyak piknik dan banyak membaca literatur sejarah baik yang haluan kanan, kiri serta memoar para saksi sejarah saat itu (penjelasannya bisa Anda baca di sini).

Dari film pun kita bisa saksikan secara jelas dan gamblang. Bahwa G30S PKI tak luput dari meletusnya perpecahan kubu militer negara ini saat itu yang ditunggangi oleh PKI. Pada titik ini, kita bisa mencatat bahwa kerusakan negara ini terjadi ketika "pagar negara" sudah mulai terpolarisasi karena politik kekuasaan.

Sedemikian menguatkan isu kebangkitan PKI ini, sampai-sampai Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) melakukan survei empiris soal opini publik. Sebab, beberapa minggu ini, perhatian masyarakat tersita oleh isu yang dilontarkan pihak tak bertanggungjawab bahwa PKI bangkit.

Hasilnya? Sungguh di luar dugaan dan bermuatan politis. SMRC mengungkapkan bahwa mayoritas publik tidak percaya isu PKI bangkit. Sementara pihak yang percaya PKI bangkit justru mayoritas adalah pendukung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Gerindra yang merupakan satu koalisi pemenangan Prabowo pada pilpres 2014.

Apakah survei SMRC hoax atau blunder? Tidak. Survei yang hasilnya dirilis SMRC beberapa hari lalu telah menggunakan Standard Operational Procedure (SOP) statistik. SMRC menggunakan sampel sebanyak 1.220 responden dengan teknik pemilihan sampel (sampling) acak banyak tahap atau multistage random sampling. Margin erornya sebesar 3,1 persen dengan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen melalui wawancara (detik.com, 29/09/2017).

Hasil survei itu memperlihatkan sebesar 37 persen pemilih PKS mempercayai bahwa PKI telah bangkit kembali. Kemudian diikiti oleh pemilih Gerindra sebanyak 20 persen mereka percaya PKI bangkit, selanjutnya PAN (18%), Hanura (17%), PPP (16%), Demokrat (14%), PDIP (11%), PKB (11%), Nasdem (6%) dan Golkar (6%).

Dari kubu pendukung Prabowo-Hatta di pilpres 2014 yang percaya PKI bangkit dikalkulasikan sebesar 19 persen. Sedangkan dari kubu Jokowi-JK sebesar 10%.

Tak hanya itu, berdasarkan paparan rilis SMRC, didapatkan kenyataan bahwa 75,1 persen responden tidak setuju bahwa Presiden Joko Widodo terkait dengan PKI. Sebesar 86,8 persen responden juga tidak tidak percaya PKI bangkit. Pun, sebesar 76,5 persen responden merasa aman-aman saja meski isu PKI bangkit kian semerbak.

Hasil survei SMRC ini menguatkan argumen penulis di awal tadi. Bahwa ada upaya-upaya pendukung kontra Jokowi-JK untuk memperlemah elektabilitasnya hingga menjelang pilpres 2019 nanti. Tak pula kita pungkiri, bahwa banyak kalangan di sekitar ada keterlibatan salah satu ormas juga dalam memblow-up isu kebangkitan PKI ini. Sebagai warga negara yang baik dan independen, tentunya kita semua diharapkan untuk senantiasa mengklarifikasi setiap berita yang menyelenting di depan kita. PKI bangkit itu cuma isu sebagai manuver politik "balas dendam" lama kekalahan pilpres 2014. Meski secara statistik belum cukup bukti bahwa elektabilitas Jokowi-JK menurun dengan adanya isu PKI tersebut. Maklum, hanya sekadar isu.(*)