Sabtu, 28 Oktober 2017

Ternyata! Pemuda Indonesia Sekarang Ini dalam Pusaran Zonk Demografi, Buktinya Bikin Kaget!

Hari Sumpah Pemuda, #BeraniBersatu
Pemuda merupakan generasi kunci kemajuan Indonesia. Keberhasilan Indonesia di masa depan juga tergantung seberapa besar sumbangsih pemuda dalam pembangunan nasional.

Pemuda, dalam suasana Hari Sumpah Pemuda kali ini, pembahasan tentang pemuda sontak menjadi trending topik jagad maya. Tahukah kita mengenai pengertian dasar pemuda? Seringkali kita menyebutkan kata ini tetapi dalam perkembangannya belum ada definisi jelas siapakah yang masuk dalam kategori pemuda. Dalam kesempatan ini, kita ambil dua dasar pengertian pemuda untuk mengetahui batasannya. Menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan, disebutkan bahwa pemuda adalah warga negara Indonesia yang berusia 16 - 30 tahun. Sedikit berbeda dengan batasan pengertian pemuda menurut World Health Organization (WHO), pemuda merupakan penduduk berusia 10 - 24 tahun atau dalam bahasa lain disebut sebagai Young People, sedangkan penduduk yang berusia 10 - 19 dikenal sebagai remaja.

Berdasarkan dua pengertian tersebut, dapat kita tarik benang merah bahwa pemuda adalah penduduk yang berusia 10 - 30 tahun.

Indonesia sebagai negara yang kaya Sumber Daya Manusia (SDM), ada banyak potensi terpendam di dalamnya. Salah satunya adalah potensi penduduk usia produktif yang menjadi irisan penduduk tergolong pemuda tadi. Penduduk usia produktif menurut Badan Pusat Statistik (BPS) merupakan penduduk usia 15 - 64 tahun. Dengan demikian, bisa ditarik titik simpul bahwa sebagian rentang pemuda merupakan usia produktif.

Pada tahun 2016, BPS mencatat bahwa jumlah pemuda Indonesia telah mencapai 62.061.400 jiwa. Dengan mengacu hasil proyeksi penduduk saat itu sekitar 260.000.000 jiwa, maka dapat dikatakan 1 dari 4 penduduk Indonesia merupakan pemuda. Kondisi ini tentu memberikan angin segar bagi Indonesia di masa depan. Apalagi, pada menjelang tahun 2025 nanti, Indonesia akan mencapai kondisi klimaks Bonus Demografi. Menjadi tantangan besar bagi Indonesia untuk mampu 'mendidik' dan 'mengarahkan' generasi pemuda yang masuk dalam penduduk produktif.

Bonus Demografi (BD) merupakan fenomena langka yang umumnya terjadi sekali dalam seumur hidup sebuah negara. Meski Indonesia mempunyai pemuda yang berpotensi besar sebagai "mesin" penggerak kehidupan dan kemakmuran nasional, tapi perlu diingat bersama bahwa BD adalah pedang bermata dua. (bahasan Bonus Demografi bisa Anda baca di sini)

Selain sebagai peluang alias opportunity of wealth, BD juga bisa menjadi ancaman hancurnya masa depan Indonesia. Mungkin saat ini Indonesia boleh lah menyatakan diri siap menyambut dan menggapai BD, tetapi bisa jadi justru Zonk Demografi (ZD) yang terjadi. Mengapa? Coba kita amati kenyataan yang terjadi pada pemuda saat ini.

Rasio ketergantungan Indonesia saat ini masih sekitar 48,1 atau mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Setiap 100 jiwa penduduk usia produktif menanggung beban usia non-produktif sebanyak 48-49 jiwa.

Meski demikian, pengangguran terbuka masih sebanyak 7 juta jiwa per Februari 2017 (Sakernas BPS). Dalam arti lain, tingkat ketergantungan memang rendah, namun tak semua dari penduduk usia produktif itu mampu meningkatkan nilai tambah perekonomian. Meski hasil Sensus Ekonomi (SE) 2016 Listing didapatkan ada sebanyak 26,71 juta usaha non-pertanian di Indonesia. Namun, kemajuan teknologi justru hanya menjadi iming-iming bagi SDM yang tersedia. Karena daya serap lapangan usaha terhadap tenaga kerja yang di dalamnya termasuk pemuda masih minim. Kehadiran teknologi mentransformasi kebutuhan SDM bergeser pada mesin. Kalau dulu orientasi perusahaan masih padat karya, sekarang berubah menjadi padat modal. Semua fungsi industri digantikan oleh mesin dan robot.

Kalau kondisinya begitu, meski generasi pemuda zaman ini ditempa sedemikian rupa, alih-alih mencapai BD seolah isapan jempol belaka.

Pemuda diberikan skill sekian tinggi, malah mereka kelak akan bersaing dengan mesin dan robot yang memiliki kapasitas dan kapabilitas yang kuat. Di saat mereka dipersiapkan sebagai generasi produktif, malah semua terancam zonk dan impactnya menjadi generasi yang pasif dan individualis.

Keniscayaannya, teknologi kelak bahkan menjadikan manusia melupakan fungsi anggota tubuhnya sebab tergantikan mesin. Pemuda Indonesia yang awalnya bersiap diri meningkatkan nilai tambah suatu barang dan jasa, justru tersisa namanya saja usia produktif. Semua dampak tersebut pastinya bukan harapan kita semua. Terlebih dengan jumlah pemuda yang melimpah, keseimbangan antara demand dan supply tenaga kerja perlu dikontrol secara ketat. Belum ditambah dengan kian bebasnya persaingan pasar, pemuda pembawa tongkat estafet masa depan harus dibekali kemampuan dan mentalitas prima agar mampu mengikuti perubahan zaman.

Keadaan pemuda Indonesia saat ini makin memiriskan dengan serbuan Narkoba. Pun gencarnya aksi-aksi "tak penting" sama sekali semisal demonstrasi yang tak membawa perubahan apapun bagi kemajuan bangsa. Juga akibat domino negatif internet melalui perusakan moralnya lewat tayangan pornoaksi dan pornografi. Otak pemuda yang semula merupakan gelas kosong yang siap menerima air bersih,

Justru terisi air lumpur bahkan najis. Alhasil, 2025 yang dicapai bukannya Bonus Demografi, tapi Zonk Demografi. Ini semua perlu sumbangsih peran serta seluruh elemen bangsa untuk berpikir apa yang salah pada pemuda kita, bukan mencari siapa yang salah sehingga pemuda kita tak pandai, amoral bahkan tak lebih dari sekadar zombie setiap zaman.(*)