Selasa, 17 Oktober 2017

Inilah yang Terjadi Jika Rupiah Terdepresiasi Pada September 2017 Lalu

Pada bulan September 2017 kemarin, ada fenomena cukup menarik dalam perekonomian nasional kita. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka rupiah mengalami depresiasi terhadap mata uang dolar mencapai 0,23 persen. Sebenarnya kalau kita amati bersama, sejak Januari hingga akhir September tahun ini, tidak terdapat fluktuasi yang cukup berarti pada kurs rupiah terhadap dolar. Meskipun, kalau kita tarik benang merahnya, terdapat tren penurunan.
Kondisi sebaliknya malah berbeda, kurs rupiah justru mengalami apresiasi terhadap sejumlah mata uang asing. BPS mencatat terjadi apresiasi rupiah sebesar 0,5 persen terhadap uang dolar Australia, di mana 1 dolarnya senilai Rp. 10.504,47,. Rupiah juga terapresiasi terhadap mata uang Yen Jepang di mana 1 Yennya senilai Rp. 118,85. Selain itu, rupiah juga terapresiasi terhadap mata uang Euro di  mana 1 Euronya senilai Rp. 15.746,39. Secara teori seperti yang telah kita obrolkan beberapa waktu yang lampau (obrolan bisa Anda baca di sini), ketika rupiah terdepresiasi, maka nilai riilnya akan mengalami penurunan atau dengan kata lain nilai riil rupiah lebih murah dibandingkan dengan nilai riil mata uang lain. Sebaliknya, bila rupiah terapresiasi terhadap mata uang lain, maka nilai riilnya mengalami peningkatan atau bisa dibilang lebih mahal daripada mata uang lainnya.

Fenomena ini kita coba kaitkan dengan kondisi ekspor dan impor Indonesia selama tahun berjalan. Pada bulan September, BPS merilis statistik ekspor Indonesia. Setidaknya terdapat peningkatkan sebesar 15,60 persen selama bulan September kemarin. Sedangkan di sisi impor, BPS mencatat ada kenaikan sebesar 13,13 persen dibandingkan bulan Agustus. Nampak jelas bahwa peningkatkan ekspor masih lebih tinggi daripada impor sehingga necara perdagangan nasional Indonesia hingga September terdapat surplus mencapai 1.760,9 juta US$ (BPS, 2017). Secara teori, ketika rupiah terdepresiasi terhadap suatu mata uang asing tertentu, maka yang terjadi adalah peningkatkan ekspor.
Berdasarkan data BPS, saat rupiah terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS), terlihat adanya peningkatan ekspor, yakni sekitar 17,36 persen untuk periode September 2016 - September 2017. Begitu pula untuk ekpsor non-migas, ada peningkatan sebesar 17,27 persen yang disumbang oleh ekspor non-migas ke AS dengan nilai US$ 1,46 miliar.

Ketika rupiah terdepresiasi, maka produsen akan memutuskan melakukan ekspor produknya karena bila dijual di dalam negeri justru tidak menguntungkan karena nilai rupiah melemah. Inilah mengapa volume ekspor akan meningkat seiring terjadinya depresiasi rupiah terhadap mata uang tertentu yang dalam kasus ini terhadap mata uang dolar AS.

Sebaliknya, kita amati terdapat nilai impor terbesar ke Indonesia salah satunya disumbang oleh Jepang, yakni sebesar US$ 10,90 miliar atau dengan proporsi sebesar 11,46 persen terhadap total impor. Salah satu penyebab dari besarnya impor dari Jepang ke Indonesia ini adalah apresiasi rupiah terhadap mata uang Yen Jepang. Meski BPS menyebutkan bahwa impor Indonesia sedikit menurun di bulan September terhadap Agustus, yakni sebesar 5,39 persen. Apresiasi rupiah terhadap mata uang Yen Jepang menyebabkan nilai riil rupiah lebih tinggi daripada Yen Jepang sehingga produsen di negara Jepang lebih memilih untuk mengekspor ke Indonesia karena akan lebih menguntungkan daripada memasarkannya di Jepang sendiri.(*)