Minggu, 22 Oktober 2017

Inilah Alasan Mengapa Sampel Cadangan Itu Penting Dalam Sebuah Penelitian

Penelitian selalu dihadapkan pada pilihan antara efisiensi biaya dan optimalnya ukuran sampel. Bila sampel terlalu besar ukurannya, memang semakin membuat hasil inferensi penelitian baik. Tapi, kalau dilihat dari segi biayanya, sampel besar tentunya butuh biaya relatif banyak.

Sebaliknya, bila ingin menekan biaya seefisien mungkin, seringkali ukuran sampel yang diperlukan malah tidak "lulus" segi kecukupan atau sufficient. Inilah mengapa para ahli mengembangkan beragam formula untuk mencari ukuran sampel yang tidak hanya hemat biaya, tapi ukuran sampelnya juga cukup. Cukup dalam artian dengan sebanyak sampel tertentu, statistik yang dihasilkan sudah bisa dipercaya mampu mendekati nilai parameter yang sebenarnya (true value).

Dalam sebuah penelitian dengan obyek tertentu, sejumlah sampel tentu diperlukan. Alasan mengapa mengambil sampel juga balik lagi pada seberapa besar biaya penelitian, waktu dan SDM yang dibutuhkan. Namun, dalam praktiknya, kita juga perlu mempersiapkan yang namanya sampel cadangan. Sampel cadangan merupakan sejumlah sampel yang dapat digunakan apabila terdapat sampel utama yang nonrespon. Sampel cadangan merupakan  sampel pengganti sehingga kecukupan sampel tetap terpenuhi. Sebab, bila sampel tidak cukup, maka analisis inferensi tidak layak dilakukan. Lantas, bagaimana menentukan sampel cadangan?

Ukuran sampel cadangan bisa saja kita tentukan secara purposive, tapi bisa juga kita hitung dengan kalkulasi matematis. Sebagai contoh sederhana, misalkan kita menggunakan teknik pengambilan sampel sistematik random sampling dalam penelitian kita. Dalam penerapannya, sistematik menggunakan sebuah nilai interval tertentu dengan rumus:

I = N / n

I adalah interval sistematik
N adalah jumlah populasi finite atau terbatas
n adalah ukuran sampel yang hendak digunakan

Untuk menentukan sampel cadangan dengan menggunakan rumus tersebut, kita cukup menambahkan sejumlah sampel tambahan sebagai cadangan, misalkan nc (sampel cadangan) sebagai pembagi dari jumlah populasi (N) sedemikian sehingga:

I' = N / (n + nc)

Barulah kemudian kita tentukan sampel yang terpilih dengan menggunakan interval tersebut. Berapa besarnya sampel cadangan yang diperlukan? Tentunya harus kita pertimbangkan biaya, waktu dan tenaga. Misalkan 1 persen dari ukuran sampel utama (n). Bila sampel utama sebanyak n, sampel cadangan bisa jadi sebanyak n, atau nc = n. Hal ini dikarenakan kemungkinan nonrespon sampel relatif besar, misalkan jika unit observasinya adalah perusahaan. Selain itu, kasus nc = n dapat digunakan apabila n adalah sampel kecil atau untuk kasus yang jarang.