Rabu, 25 Oktober 2017

Hari Listrik Nasional 2017, Indonesia Masih Koleksi 15 Juta Penduduk Belum Nikmati Listrik, Miris!

Hari Listrik Nasional 2017, Masih Banyak Penduduk Belum Nikmati Listrik
Sejatinya, kesejahteraan masyarakat itu dapat diukur minimal dengan tiga hal, yaitu terpenuhinya sandang dan papan, terpenuhinya air dan yang tak kalah pentingnya adalah terpenuhinya listrik. Soal listrik hingga kini masih menjadi tantangan pemerintah baik pusat maupun daerah. Betapa tidak, sebuah negara yang selama 72 tahun menyatakan dirinya telah Merdeka, ternyata listrik untuk masyarakatnya masih belum terpenuhi.

Demikian peliknya soal listrik ini, gencarnya pemerintah menggelontorkan dana untuk kesejahteraan masyarakat dari segi peningkatan level ekonominya, pada waktu yang sama daya belinya. Ini begitu nampak salah satunya dicabutnya subsidi listrik oleh pemerintah. Pun, harga Tarif Dasar Listrik (TDL) dibuat naik secara berkala dengan kenaikan yang tak signifikan sehingga masyarakat tak sadar bahwa TDL sudah naik.

Persoalan kelistrikan nasional ini tidak bisa dianggap sepele. Setidaknya terdapat 42.352 desa dari 82.190 desa yang belum teraliri listrik pada tahun 2016 lalu (tirto.id). 1.200 desa di Nusa Tenggara Timur (NTT) belum teraliri listrik hingga April 2017 (bisniskeuangan.kompas.com), 1.300 dusun di Jawa Barat juga belum mendapatkan listrik hingga April 2017 (kumparan.com), 76 persen desa di Papua belum juga teraliri listrik hingga Mei 2017 (finance.detik.com). Kenyataan ini sebenarnya memiriskan, pasalnya di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur, daerah masih saja menjadi korban kemajuan daerah lain. Bila masyarakat di Pulau Jawa memiliki persentase penikmat listrik lebih dari 70 persen misalkan, di daerah pelosok, terpencil dan terluar justru hidup dalam terang rembulan setiap harinya.

Penulis sendiri mendapati begitu timpangnya pembangunan kelistrikan nasional. Pemerintah mengklaim bahwa rasio elektrifikasi nasional saat ini telah mencapai target, namun di saat yang sama, masyarakat kepulauan justru tak bisa menikmati klaim pemerintah itu. Rasio elektrifikasi nasional, kalau kita saksikan datanya memang menunjukkan adanya peningkatkan setiap tahunnya.

Rasio Elektrifikasi Indonesia Tahun 2006-2017 (diolah dari beragam sumber)

Rasio elektrifikasi dalam pengertian sederhananya merupakan rasio antara jumlah penduduk yang telah mendapatkan (menikmati) listrik terhadap total penduduk pada suatu wilayah tertentu dan pada waktu tertentu. Berdasarkan data di atas, terlihat hingga September 2017, rasio elektrifikasi Indonesia telah mencapai 94,1 persen. Artinya, dari 100 penduduk terdapat sebanyak 94 sampai 95 penduduk yang telah menikmati listrik di rumahnya.

Dalam momentum Hari Listrik Nasional yang jatuh pada tanggal 27 Oktober nanti, setidaknya pemerintah diharapkan untuk terus memacu kesejahteraan masyarakat melalui pemenuhan kebutuhan listrik nasional. Rasio kelistrikan memang menjadi indikator untuk melihat berapa banyak masyarakat yang telah menikmati listrik, kendati demikian, dalam angka tersebut juga mengandung PR bagi pemerintah. Jikalau 94,1 persen telah menikmati listrik, maka PR pemerintah adalah bagaimana memenuhi sekitar 5,9 persen sisanya itu. Katakanlah jumlah penduduk saat ini sebanyak 262.000.000 jiwa (tribunnews, 2 Agustus 2017), maka terdapat sebanyak 15.458.000 jiwa yang belum menikmati listrik. Tak hanya itu, jikalau kita amati masyarakat yang telah menikmati listrik itu pun juga belum tentu benar-benar menikmati sepenuhnya. Mungkin boleh jadi mereka hanya menikmati 6 jam dalam sehari atau bisa jadi menikmati listrik beberapa jam saja dalam seminggu.(*)