Selasa, 24 Oktober 2017

Hari Dokter Nasional: Distribusi Dokter Kurang, Inilah yang Semestinya Dilakukan Pemerintah

Peringatan Hari Dokter Nasional, 2017

Keberhasilan pembangunan tidak hanya dilihat dari sisi ekonominya saja, tetapi juga dari sisi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang sehat. Inilah mengapa salah satu indikator output pembangunan nasional mencakup indeks kesehatan di dalamnya sebagai indikatornya. Indeks kesehatan inilah yang kemudian menyumbang besarnya capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), IPM Indonesia terus mengalami peningkatan. Tahun 2016 lalu, IPM sudah menyentuh angka 70,18 meningkat dari tahun sebelumnya yang sebesar 69,55. Salah satu penyumbang kenaikan IPM tersebut adalah naiknya Indeks kesehatan dengan indikator Angka Harapan Hidup (AHH) masyarakat.

Kesehatan masyarakat menjadi amunisi utama berputarnya roda perekonomian nasional. Bila masyarakatnya sehat, pastinya segala aspek kehidupan berjalan dengan lancar, harapan mereka untuk hidup juga tinggi. Itu tercermin dalam Angka Harapan Hidup (AHH) sebagai salah satu indikator komponen angka IPM. Sebaliknya, bila masyarakat tak sehat, maka segalanya akan terganggu dan merugikan bagi negara. Untuk menunjang kesehatan masyarakat inilah, pemerintah sangat berperan, khususnya dalam menyediakan tenaga kesehatan atau dokter.

Sebagai penunjang dan penolong kesehatan masyarakat, peran dokter di Indonesia semakin meningkat. Dokter sangat diperlukan mengingat jumlah penduduk di Indonesia yang terus bertambah setiap tahunnya. Rasio dokter pun juga setidaknya telah mencapai harapan pemerintah, yaitu 2,2 per 100.000 penduduk. Beruntungnya memang saat ini, rasio dokter di Indonesia sudah mencapai harapan tersebut, bahkan sedikit melampaui, yakni sebesar 2,6 per 100.000 penduduk.

Kendati demikian, permasalahan yang hingga kini masih menyelimuti dunia kesehatan Indonesia adalah persebaran dokter yang kurang merata. Meski menteri kesehatan beberapa waktu lalu sudah mengimplementasikan kebijakan terkait penempatan dokter nasional, namun beberapa tempat pelayanan kesehatan masih mengeluhkan kondisi kekurangan dokter. Ada pandangan bahwa selama ini, kebanyakan dokter apalagi yang swasta masih enggan untuk ditempatkan di daerah terdepan, terluar dan terpencil. Dokter sebagai profesional penyelamat nyawa dan kesehatan nampak "takut" bila mendirikan praktik di daerah terpencil. Kondisi ini tentunya menjadi tantangan tersendiri dalam suasana peringatan Hari Dokter Nasional setiap 24 Oktober setiap tahunnya. Beberapa pemberitaan media terkait kurangnya dokter di beberapa wilayah haruslah menjadi perhatian pemerintah sebagai eksekutor kebijakan di bidang kesehatan nasional. Beberapa pemberitaan miris kurangnya dokter  misalnya:


Rumah Sakit dan Puskesmas di Merauke Kekurangan Dokter


Rumah Sakit dan Puskesmas di Lumajang Kekurangan Dokter

RSUD Sultra Kekurangan Dokter

Lumajang Kekurangan Dokter

RSUD Praya Lombok Tengah Kekurangan Dokter Spesialis

RS Perbatasan Kekurangan Dokter Spesialis


Berdasarkan beberapa berita media tersebut, tampaklah jelas bahwa meski rasio dokter terhadap jumlah penduduk di Indonesia telah cukup. Namun, persebarannya tidak merata di semua wilayah. Akibatnya pun tak tanggung-tanggung, tak sedikit kabar mengenai pasien meninggal akibat tak tertolong oleh dokter berseliweran setiap waktunya. Banyak juga kasus pasien meninggal dalam perjalanan akibat pertolongan dokter begitu lamban. Dokter di Indonesia ini sebetulnya sudah banyak, tetapi karena fasilitas yang diberikan oleh pemerintah di daerah terpencil, terluar dan pedalaman sangat kurang menjadikan mereka enggan ditempatkan di sana.

Melalui momentum Hari Dokter Nasional inilah diharapkan dokter tak lagi berorientasi pada keuntungan semata, sebaliknya, dokter seyogyanya berorientasi pada upaya mendukung kesehatan nasional sepenuhnya. Dokter tidak takut atau enggan ditempatkan di daerah mana pun. Pun pemerintah juga semestinya mendukung persebaran dokter dengan langkah membangun kelengkapan infrastruktur dan instrumen kesehatan bagi masyarakat sehingga dokter dapat bekerja secara profesional dengan fasilitas yang berkualitas.(*)