Jumat, 13 Oktober 2017

Astaga! GTI Indonesia Tempati Posisi 38 Dunia


Teroris merupakan salah satu fenomena dunia yang hingga kini masih menjadi ancaman. Teror bisa terjadi kapan saja, di mana saja dengan target siapa saja. Banyak kalangan menilai aksi terorisme banyak merugikan negara, tidak hanya dari sisi infrastrukturnya saja, tetapi juga dari sisi kemanusiaan.

Kini, hampir tidak ada lagi negara di dunia yang terhindar dari ancaman teroris. Apabila sebuah negara dari aspek pemerintahannya tidak disetujui, boleh jadi teroris akan terbentuk dalam wujud pemberontakan. Di lain kondisi, teroris juga terbentuk akibat ketidakadilan kebijakan pemerintah sehingga pihak yang merasa dirugikan berkoloni sebagai pemberontak dengan upaya untuk mengkudeta negaranya sendiri. Selain dua kondisi tadi, yang juga menonjol ke permukaan dunia saat ini adalah motif perbedaan agama dan ekonomi. Banyak kasus terorisme yang terjadi di beberapa negara semisal timur tengah, motifnya adalah perbedaan keyakinan dengan buntutnya penguasaan pusat-pusat ekonomi.

Institute for Economics and Peace (IEP) ternyata telah melakukan studi empiris mengenai fenomena terorisme di dunia. Salah satu produk statistik yang mereka kenalkan adalah Indeks Risiko Terorisme (IRT) atau Global Terrorism Index (GTI) yang mulai konsisten dipublikasikan setiap tahunnya. IEP memandang perlu adanya pengukuran fenomena terorisme di dunia ini untuk melakukan pemetaan terhadap peristiwa terorisme untuk setiap negara dengan indikator-indikator tertentu. Di samping pemetaan, GTI sekaligus menjadi ukuran seberapa besar dampak terorisme terhadap perekonomian sebuah negara termasuk di dalamnya tren, ukuran kelompok-kelompok serta jaringan teroris serta dampak kemanusiaan yang ditimbulkannya.

2015, kasus terorisme di dunia 
meningkat 650%

Perlu kita ketahui bahwa pertumbuhan terorisme di dunia menunjukkan tren yang meningkat setiap tahunnya. Yang terparah adalah di tahun 2015 di mana puluhan ribu manusia menjadi korban meninggal dan lainnya terluka. Jumlah kasus terorisme pada tahun 2015 tercatat meningkat hingga 650 persen dibandingkan tahun 2014. Salah satunya disebabkan munculnya ISIS atau ISIL di Timur-Tengah.

Berdasarkan publikasi IEP tahun 2017, sekitar 76 negara memang mengalami pemulihan kondisi dari sebelumnya. Kendati demikian, masih ada sebanyak 53 negara yang terjerembab dalam ancaman terorisme. Lantas bagaimana dengan Indonesia?

GTI Indonesia pada tahun 2016 berada pada urutan ke-38 terparah dari 130 negara yang menjadi sampel pemantauan IEP. Besar GTI Indonesia adalah 4,429 dari skala 0 - 10. Skala 10 menunjukkan kondisi GTI terparah dengan dampak yang besar, sedangkan 0 menunjukkan GTI paling baik atau bersih dari dampak terorisme.


Secara grafis, kondisi GTI negara-negara di dunia disajikan sebagai berikut.
Bila kita amati pada lingkaran kuning, GTI Indonesia terbilang cukup parah. Artinya, GTI Indonesia masih lebih tinggi ketimbang negara ASEAN yang lain, misalnya Malaysia, Laos dan Myanmar. GTI yang mendekati nol menunjukkan dampak terorisme di Indonesia besar, utamanya di bidang ekonomi dan kemanusiaan.


Coba kita amati, bahwa pada tahun 2015 saja, cukup banyak letupan-letupan insiden terorisme yang terjadi di Indonesia. Pemerintah dalam hal ini Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sepertinya belum mempunyai data yang valid untuk memetakan sebaran terorisme di Indonesia. Jaringan teroris pun masih sulit untuk dipetakan serta belum tersedianya database untuk perhitungan soal kerugian negara akibat peristiwa terorisme yang terjadi setiap waktunya. Atas landasan inilah, BNPT menggandeng Badan Pusat Statistik (BPS) untuk membangun sebuah data pemantauan tentang terorisme di Indonesia yang telah digulirkan tahun ini melalui Survei Risiko Terorisme (SRT).

Di negara-negara timur-tengah semisal Afganistan, Irak, Syria, terorisme terjadi akibat adanya kelompok pemberontak pemerintah serta militan ISIS, di Indonesia nampaknya sedikit berbeda. Dalam beberapa waktu, kejadian terorisme justru belum jelas penyebabnya. Namun yang jelas, jejak-jejak yang disisakan oleh pelaku teror sendiri kebanyakan adanya sikap militan terhadap negara dengan hasrat mendirikan negara berbasis agama tertentu. Kalau kita amati pula, sasaran pelaku teror juga beragam, mulai dari hotel dan kafe turis asing hingga petugas keamanan, misalnya polisi. Motif-motif inilah yang semestinya perlu dipetakan sekaligus pemantauan gerakan separatis terorisme di Indonesia. Dengan adanya database terorisme yang valid dan komprehensif, diharapkan pemerintah dapat lebih jeli dalam melihat gerakan teroris. Tidak hanya itu, pemerintah juga dapat pula mengambil kebijakan di bidang keamanan dan menelusuri motif-motif terjadinya terorisme di Indonesia.(*)