Minggu, 15 Oktober 2017

Anies-Sandi Resmi Dilantik, Rakyat DKI Jakarta Sepatutnya Melakukan Hal Ini

Setelah melalui proses dan penantian panjang, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno akhirnya secara resmi menjadi Gubernur DKI Jakarta. Detik-detik pelantikan gubernur baru DKI ini akan dilaksanakan pada Senin tanggal 16 Oktober 2017. Dengan resminya Anies Sandi, maka secara sah, DKI Jakarta tentu akan berubah. Tak dipungkiri, bahwa selama masa kampanye setiap pasangan calon kepala daerah pastinya mengucapkan janji-janjinya untuk rakyat yang hendak mereka pimpin. Maka sudah sepatutnya, rakyat ikut serta mengawal pelaksanaan janji-janji kampanye tersebut.

Memgingat permasalahan DKI Jakarta yang sungguh kompleks, kehadiran pemimpin yang baru ini akan merampungkan kebijakan yang belum sempat terlaksana oleh pemimpin sebelumnya. Selain itu, mereka juga punya PR untuk mengeksekusi program yang hendak diaplikasikan untuk rakyat DKI Jakarta sampai akhir masa jabatan. Rakyat zaman now, terlebih daerah DKI, karakteristiknya yang kritis dan tegas, tentu sudah selayaknya bisa dirangkul dengan baik sehingga program apapun yang akan dilaksanakan oleh gubernur dan wakilnya mendapat dukungan penuh seluruh rakyat.

Pepatah mengatakan "tiada gading yang tak retak" Setiap kepemimpinan pastinya punya kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Bila selama kepemimpinan Ahok-Djarot mendapatkan "dukungan" dari lawan politiknya. Tentunya harus fair dong, lawan politik harus mendukung program Anies-Sandi sebagai Gubernur dan wakil terbaru. Kalau sudah, ya sudah, partai politik lawan Djarot tak pantas menyalahkan soal Sampah DKI yang katanya belum usai termasuk soal Reklamasi. Begitu pun dengan pihak kontra Anies-Sandi, mereka tak perlu semilitan dan sekritis itu meletupkan amarah soal rumah DP 0 rupiah, termasuk soal kelakuan "aneh" berpose Jurus Bangau yang sempat viral di media sosial.

Rakyat seharusnya sama-sama legowo politik. Kalau sudah, ya sudah, tak lagi berkelanjutan saling nyinyir bahkan hina-menghina. Demokrasi saat ini memang sedang "sakit" tapi sebagai rakyat zaman now, mbok ya yang sabaran sedikit. Belum juga resmi dilantik, rencana demo kenaikan UMR DKI Jakarta sudah mau digelar seperti demo berjilid-jilid.

Presiden kan sudah mengimbau kepada kita semua, bahwa setelah pemilu, ya sudah, kerja dan kerja. Tak perlu demo terus. Negara lain sudah berpikir pengembangan teknologi pesawat, Indonesia masih sibuk adu mulut berbusa-busa melalui orasi demonya.

Aspek untuk saling legowo inilah yang hilang dari ruh demokrasi negara. Anies dan Sandi baru saja melakukan proses pemotretan, tapi sudah banyak yang menganggap itu adalah pencitraan. Pencitraannya itu di mananya? Blusukan dengan dokumentasi atau selfie itu perlu sebagai bentuk bukti nyata sudah mengerjakan sesuatu untuk rakyat. Kan begitu. Jangankan selfie saat melakukan blusukan, selfie berbarengan dengan tiga istri pun sekarang juga ada yang merasa perlu, kok.

Marilah saling legowo dan tak lagi mencari-cari keburukan pemimpin anyar maupun mantan pemimpin. Anies-Sandi diharapkan untuk meneruskan pembangunan yang belum selesai dan melakukan moderasi program kebijakan pemerintahan DKI, sedanhkan sang mantan memberi masukan apa yang sebaiknya dilakukan dan apa saja tugas yang belum selesai dengan sempurna. Demokrasi semacam ini kok tak pernah ada ya di Indonesia? Inilah yang aneh bagi penulis juga. Di saat pemimpin baru datang, di saat itu pula ia harus otodidak mengerjakan program, padahal bisa dibilang masih kikuk alias baru melakukan hal baru.

Tapi yang jelas, janji adalah utang, dan itu haruslah dibayar sesuai apa yang dilontarkan berbusa-busa selama masa kampanye politik. Rakyat DKI harus bersatu mengawal perubahan besar yang kelak berdatangan. Selaksa PR belum kelar harus kejar tayang demi kemaslahatan. Yang pro tak perlu menyalahkan Sang Mantan. Yang kontra tak etis nyinyir sembarangan. Bila yang terjadi di DKI selalu kegaduhan, quo vadis demokrasi masa depan?