Minggu, 17 September 2017

Waduh! 40 Kasus Perceraian Per Jam Terjadi di Indonesia, Ternyata Penyebabnya adalah ini

Maraknya kasus perceraian di Indonesia, sumber foto: dokpri.

Pada tahun 2016, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa jumlah pernikahan di Indonesia mencapai 1.958.394. Sedangkan kejadian talak dan jumlah perceraian ada sebanyak 347.256 dalam kurun waktu setahun. Ini menunjukkan betapa banyaknya jumlah kasus perceraian di Indonesia.

Badan kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) juga menyebutkan bahwa di tahun 2013 saja, angka perceraian yang terjadi di Indonesia menempati posisi pertama se-Asia dan Pasifik. Hal ini begitu mengejutkan untuk sebuah negara yang pada umumnya dikenal sebagai bangsa yang ramah dan murah senyum. Dan daerah yang tercatat sebagai daerah dengan jumlah kasus perceraian terbanyak, yaitu Jawa Timur, tepatnya Banyuwangi. Diperkirakan lebih dari 30 persen penduduk berstatus nikah melakukan perceraian dalam setahun itu.

Tak hanya sampai di situ, menurut situs gulalives.co, tingkat perceraian di Indonesia adalah yang tertinggi di dunia. Berkaitan dengan kondisi ini, direksi urais dan binsyar kemenag menyatakan tingkat perceraian di Indonesia semenjak tahun 2009 hingga 2016 memang mengalami peningkatan, rentang 16 persen hingga 20 persen per tahunnya. Mayoritas kejadian perceraian juga dialami oleh pasangan nikah usia 35 tahun ke atas.

Menurutnya, rasio perceraian dikalkulasi mencapai 84 persen dari total kasus yang diselesaikan oleh peradilan agama. Tahun 2016 kemarin saja, kasus gugat cerai di Indonesia telah berjumlah 224.240. Yang resmi cerai terhitung sebanyak 152.395 kasus. Anehnya, mayoritas penggugat cerai yang terjadi selama 2016 dilakukan oleh perempuan.

Hal semacam ini sebenarnya haruslah dihindari. Sebab, korban perceraian sendiri lebih banyak dialami oleh perempuan. Dari kejadian perceraian selama 2016, setidaknya tercipta sekitar 212.000 janda baru di Indonesia. Ini sungguh memiriskan. Terlebih bila pasangan suami-istri (pasutri) telah memiliki anak, tentunya selain berdampak buruk bagi kesehatan batin keluarga, anak juga lebih dalam lagi mengalami penderitaan, minimal secara psikis mereka labil atau bahkan trauma.

Kehidupan berumah tangga memang tak seindah bayangan kita sewaktu remaja atau bagi mereka yang menjalin hubungan (pacaran). Kehidupan rumah tangga begitu kompleks dan nikah bukanlah soal hidup bersama istri sehari dua hari, tetapi untuk selamanya. Oleh karenanya, apabila selama menjalani masa pasca nikah, pasutri diharapkan untuk bekerja sama selalu memanajemen segala hal secara baik dan benar.

Bagian penelitian dan pengembangan (litbang) kemenag (2016) menyebutkan perempuan yang melakukan gugatan cerai di Indonesia telah menyentuh angka 70 persen dari total kasus perceraian. Kalau kita amati, seolah-olah nikah yang menjadi ikatan janji suci itu mudah ternodai di Indonesia. Nikah yang merupakan ikatan sakral dan abadi tak lebih dari sekadar mainan ijab qobul atau beri-memberi mahar saja.

Litbang kemenag telah melakukan studi empiris mengenai fenomena ini. Setidaknya ada empat alasan umum yang menjadi faktor utama perceraian di Indonesia, yaitu salah satu pihak tidak bertanggung jawab, hadirnya pihak ketiga (selingkuh), faktor ekonomi dan yang paling utama yang perlu diulas adalah tak harmonisnya hubungan pasutri.

Sebenarnya siapa yang harus memulai dalam membina hubungan harmonis? Suami, atau istri? Tentunya suami dong. Sebab, dalam rumah tangga, yang bertanggung jawab atas seluruhnya termasuk terhadap istri ialah suami. Untuk menjaga keharmonisan, seorang suami perlu memiliki sifat yang romantis. Sifat romantis inilah yang sepertinya menjadi core value yang hilang ketika pasutri telah terjalin lama. Romantis inilah yang menyebabkan mawaddah dan wa rahmah itu. Tanpa romantisme seorang suami, tentu tak ada keindahan di dalam keluarga. Lantas, hal-hal apa saja sih yang menjadi indikasi bahwa seorang suami bersifat romantis?

Setidaknya adalah tiga belas hal yang menjadikan seorang suami itu dapat kita katakan sebagai suami yang romantis. Apa saja itu?

1. Cium dahi, pipi dan bersalaman dengan istri sebelum pergi kerja

Hal ini sepele, tetapi apabila dilakukan saban hari, romantika indahnya bersuami-istri itu akan terus terjadi. Hal semacam ini akan menjaga memori pernikahan dan sebuah ikatan suci.

2. Telepon istri saat kerja sebab pengin bilang kangen

Interaksi setiap hari akan memupuk ikatan batin yang kuat. Apalagi jika jalinan sebuah pasutri terpisah oleh jarak dan waktu. Long Distance Relationship (LDR) tentunya akan menjadikan hubungan pasutri tetap harmonis karena suami yang romantis menelpon setiap saat, misalnya saat istirahat kerja atau waktu luang lain.

3. Berada di sisi istri saat ia melahirkan

Ini perlu, sebab dalam kondisi melahirkan, istri butuh banyak dukungan moral, spiritual dan biaya untuk persalinan, lebih-lebih ketika persalinan pertama kali. Hal samacam ini juga akan menjaga batin istri tetap stabil selama proses melahirkan, ia merasa gembira dan penuh keikhlasan karena sang suami ikut menemaninya berjuang.

4. Rajin ibadah berjamaah dengan istri dan mengajak istri dekat dengan Tuhan

Suami yang romantis adalah suami yang sholeh. Ia selalu mengajak istri pada ketaatan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Suami yang romantis adalah suami yang selalu mengajak istrinya berbuat baik dan bermanfaat bagi keluarganya, masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

5. Suka membantu istri di rumah dan bersedia bangun pagi untuk bantu ia memasak

Seorang suami begitu romantis bila ia pandai memasak, apalagi memasak sendiri dan istrinya tinggal menunggu hidangan siap di meja. Kendati demikian, jika seorang suami tak bisa memasak, minimal ia membantu memasak, seperti mengupas bawang, menghaluskan cabai untuk sambal, membersihkan beras sebelum ditanak atau membeli ikan dan sayur di pasar. Ini sepele, tapi ketika seorang suami sudah melakukan hal ini setidaknya rasa kebersamaan akan selalu ada. Ujungnya adalah keabadian bahtera rumah tangga.

6. Tatap wajah istri saat akan tidur

Menatap wajah sambil tersenyum ketika istri akan tidur akan menambah kehangatan dalam rumah tangga. Karena sebuah senyuman sebelum tidur merupakan ikhtisar semua aktivitas dalam seharian penuh, entah berakhir bahagia entah tidak, itu terangkum dalam senyuman sebelum tidur.

7. Bersenda gurau dengan istri

Tersenyum itu secara medis akan mengurangi penuaan dini, terutama keriput pada wajah. Bersenda gurau dengan istri akan menciptakan suasana rileks dan bahagia. Wajah tidak manyun atau nyaprut terus.

8. Memeluk istri secara tiba-tiba

Ini yang mungkin jarang dilakukan, apalagi bagi pasutri yang LDRan. Padahal, hal ini juga menunjukkan bahwa suami itu romantis, seperti di film Titanic kan begitu, hehehe...memeluk istri darj belakang akan meningkatkan gairah berkeluarga lebih baik. Sehingga istri merasa bahagia dan ikatan batin semakin kuat.

9. Setia menemani istri berbelanja

Menemani istri berbelanja merupakan hal lumrah seorang suami yang romantis. Meski istri memilih barang berlama-lama, namun karena ia adalah istrinya, ia akan tetap setia menunggu, meski kadang sampai tertidur di tempat tunggu atau depan toko.

10. Membuat acara makan makan malam romantis secara tiba-tiba

Keputusan memang berada pada suami. Apapun acaranya selama bersama istri. Tapi begitu indah bukan, jika tiba-tiba suami mengajak makan di sebuah tempat makan dan bercengkramah dengan istri? Inilah suami yang romantis. Meski istri harus menerima di mana pun tempat makannya, entah di resto, entah di warung pinggir jalan. Kan menyesuaikan budget, hehe...

11. Memberi istri hadiah saat ulang tahun dan ulang tahun pernikahan

Suami yang harmonis itu, ketika ia mampu memutar kembali memori indah dalam kehidupan istri. Hal ini bisa dilakukan saat istri sedang berulang tahun atau mengenang tanggal pernikahan setiap tahunnya.

12. Memijat dan urut istri saat setelah melakukan aktivitas karena capai

Istri itu kerjaannya banyak dalam kenyataannya, meski secara teori segala hal termasuk mencuci pakaian dalam adalah tugas suami. Namun dikarenakan tak setiap waktu suami berada di rumah, misalnya karena mencari nafkah untuk suami. Istrilah yang biasa melakukan kegiatan di rumah, mulai dari memasak hingga momong anak jika sudah punya. Oleh karena itu, seorang suami yang romantis tentulah perlu 'membayar' jasa istri ketika seharian telah menjalankan tupoksinya dalam rumah tangga, misalnya memijat atau mengurut istri. Ini seple tapi perlu agar hubungan pasutri tetap harmonis.

13. Mendengarkan segala keluh kesah istri

Terakhir, indikasi seorang suami dikatakan romantis adalah kesetiaannya mendengarkan curahan hati (curhat) sang istri. Dalam sebuah keluarga, keterbukaan begitu diperlukan agar segala masalah dapat terselesaikan secara baik dan lancar. Dalam keluarga diperlukan adanya diskusi soal apapun untuk mencapai mufakat bersama. Ketika hal ini dapat dilakukan, maka segala masalah, apapun itu topik dan judulnya, pasti akan menjaga hubungan pasutri tetap stabil dan langgeng. Terlebih lagi saat ini banyak kasus cerai akibat salah paham. Tentu musyarawah di antara pasutri haruslah diterapkan.