Jumat, 22 September 2017

Astaga! Ini Pihak Selain PKI yang "Ambil Bagian" G30S/PKI

Siapa yang salah dalam peristiwa G30S/PKI, sumber foto: dokpri.
Isu munculnya ideologi komunis semakin semerbak menjelang 30 September tahun ini. Apalagi, ada sinyalemen politik tak sehat menunggangi kemunculan isu PKI untuk kepentingan kekuasaan. Baunya lumayan menyengat dan dapat kita perkirakan semakin menguat jelang pemilihan presiden 2019 nanti. Ini jelas manuver politik!

Ideologi PKI yang komunis itu jelas terkubur puluhan tahun lalu. Juga secara gamblang TAP MPR Indonesia jelas menyatakan bahwa PKI adalah organisasi yang dilarang. Maka sungguh aneh ketika negara ini sebenarnya berjalan secara normal, namun oleh banyak oknum yang tak bertanggungjawab digunakan untuk meletup-letupkan kembali PKI ini. Data pun nyatanya belum ada pihak yang secara valid menjelaskan kepada pemerintah, bahwa PKI telah hidup kembali, atau reinkarnasi dari ketiadaannya. Bukti yang lucu juga terlihat hanya berupa simbol-simbol semata, palu dan arit. Padahal simbol pun sebatas simbol, bila ketahuan juga segera ditindak oleh aparat.

Memang benar bila dikatakan bahwa PKI pernah menjadi partai terbesar di negeri ini. Bahkan, ia pernah menjadi pesaing berat Masyumi di panggung perpolitikan nasional. Tapi, apakah hanya karena sekarang yang menang adalah PDIP lantas diejawantahkan seenaknya sebagai munculnya kembali PKI? Sepertinya terlalu prematur kesimpulannya.

Bangsa Indonesia ini telah "dipasak" dalam-dalam oleh rezim Orde Baru. Dengan cara mewajibkan nonton film saja, memori akan kekejaman peristiwa G30S/PKI sudah terpatri dalam sanubari.

Kalau kita amati, film G30S/PKI sendiri hanyalah sebatas informasi, bahwa segenting itulah situasi saat itu dan bagaimana bisa terjadi pembunuhan tujuh perwira TNI oleh pihak tertuduh, yaitu PKI. Sudah hanya sebatas itu. Tetapi kalangan oknum media saat ini justru memanfaatkan deskripsi tersebut serta temperamen-temperamen politik dalam film itu sebagai bahan bakar propaganda pemerintahan yang resmi. Ini sungguh memperlihatkan politik yang tak lagi murni diterapkan.

Meningkatnya pendidikan nasional menjadikan masyarakat semakin jeli dan kritis sekaligus tak mudah dibodohi. Sebagaimana tatacara bermedia sosial yang baik, konfirmasi informasi dengan data yang jelas sewajarnya dijadikan acuan.

Itulah mengapa beberapa judul Gestapu itu adalah G30S/PKI. Terdapat makna tanda miring "/" dalam judul itu. Secara historis, kaum PKI dan organisasi masyarakat (ormas) yang berafiliasi pada PKI tak hanya sebagai pelaku utama Gestapu, baik Pra maupun pasca, tetapi tak sedikit pula pihak PKI yang menjadi korban hingga rakyat sipil tak berkaitan pun yang menjadi korban salah tangkap.

Dalam sebuah kesempatan, Gus Dur (Abdurrahman Ad Dakhil Wahid) menuturkan soal dalih pemaafan terhadap kaum PKI.

Gus Dur menyatakan bahwa korban kebiadapan Gestapu memang selain rakyat sipil, banyak ulama-ulama Nahdlatul Ulama (NU) yang dulu menjadi korban. Soeharto malah mencitrakan seolah-olah seluruh kesalahan pembunuhan massal hanya didalangi oleh PKI. Sedangkan TNI dianggap sebagai pihak yang bersih.

Kita dapat buktikan pernyataan Gus Dur ini. Tentunya bukan opini atau sekadar hoax, tetapi kita ungkap datanya. Berikut data pihak-pihak selain PKI yang ikut serta dalam Gestapu 1965 yang bersumber dari buku karya John Roosa (2008):
Data pihak yang ikut ambil bagian G30-S, sumber foto: John Roosa (2008)
Data ini bukanlah kibulan ataupun data palsu, antara pihak PKI, pihak sipil dan pihak militer, saat peristiwa pembantaian massal, malah lebih banyak dari militer. Kenyataan ini juga diperkuat oleh memoar kesaksian Dr. Soebandrio soal rencana Soeharto menyatakan dukungannya kepada Kolonel Untung yang saat itu hendak mendahului serangan "dewan jenderal" dengan mengirimkan anak buahnya.

Aksi ambil bagian inilah yang semakin membuat "lucu" film G30S/PKI. Sebab penonton hanya melihat begitu asyiknya upaya pembantaian tujuh perwira TNI yang diisukan sebagai Dewan Jenderal saat itu. Padahal  nyatanya, pihak militer sendiri mendominasi pihak yang mengambil bagian peristiwa Gestapu. Oleh karena itulah, ada benarnya bila judul yang pas dituliskan G30S/PKI, sebab ada beberapa pelaku dan beberapa korban. Tak hanya saja dari PKI yang menjadi biang kerok Gestapu, tapi bangsa ini tak pelak bersaksi bahwa dulu ada masalah internal dalam kubu TNI.(*)