Senin, 14 Agustus 2017

Skala Data

Skala Pengukuran Data, sumber foto: http://keywordsuggest.org/gallery/764946.html

Suatu data pastinya memuat informasi yang di dalamnya merupakan hasil pengukuran. Entah dalam bentuk kuantitatif entah berbentuk kualitatif. Namun pada intinya informasi itu diperoleh dari pengukuran terhadap objek pengamatan, survei, sensus atau eksperimen.

Setiap pengukuran, pastilah memerlukan sebuah alat (tool) untuk mengukur. Dan nilai dari objek itulah yang kemudian dikategorikan menurut skalanya.

Dalam statistika, terdapat empat jenis skala data, yaitu skala nominal, skala ordinal, skala interval dan skala rasio.

Skala Nominal

Skala Nominal adalah skala pengukuran yang menyatakan identitas, kategori, kelas atau nama suatu objek. Skala nominal hanya bersifat simbolis dan tidak menunjukkan derajat, strata atau jabatan suatu objek hasil pengukuran.

Beberapa ahli menyebut skala nominal sebagai skala kategorik. Skala ini menunjukkan identitas kualitatif yang sebenarnya.

Skala nominal biasanya digunakan untuk objek-objek demografi untuk memberikan kejelasan identitas atau nama. Salah satu contoh skala nominal adalah gender (laki-laki dan perempuan), katakanlah bahwa laki-laki itu disimbolkan 1, sedangkan perempuan itu 2, maka di dalam skala nominal tidak menunjukkan strata maupun operasi penjumlahan. Laki-laki yang disimbolkan 1 tidak menunjukkan bahwa laki-laki itu lebih baik daripada perempuan dengan simbol 2. Kepentingan dalam pengukuran bisa jadi laki-laki disimbolkan 2, dan perempuan disimbolkan 1.

Pun, bukan berarti bahwa 1 + 2 = 3, antara laki-laki dan perempuan tidak dapat dilakukan operasi penjumlahan sedemikian rupa sehingga simbol 3 menunjukkan kombinasi dari laki-laki dan perempuan. Skala nominal merupakan skala pengukuran data yang paling sederhana dan tidak menunjukkan apapun selain sebagai simbol. Beberapa contoh lain dari skala ini adalah jabatan, usia, tingkat pendidikan terakhir, agama, ras, warna kulit, kewarganegaraan, atau budaya.

Skala ordinal

Skala ordinal merupakan jenis skala pengukuran data yang dipandang setingkat lebih tinggi daripada skala nominal. Skala ini selain mencakup ciri dari skala nominal, juga memberikan tingkatan, strata atau peringkat terhadap atribut atau karakteristik objek pengamatan.

Meski demikian, skala ini tidak dapat digunakan dalam penjumlahan antar tingkatan, strata atau peringkat objek. Beberapa contoh dari skala ordinal adalah kepuasan layanan sebuah bank dalam beberapa ekspresi likert, yaitu sangat tidak puas (1), tidak puas (2), cukup puas (3), sangat puas (4) atau pilihan murid saat pergi ke sekolah, misalkan ekspresi pilihannya menggunakan kendaraan pribadi (1), menggunakan kendaraan umum (2) dan jalan kaki (3).

Terlihat bahwa di dalam skala ordinal terdapat aspek prioritas yang menjadi dasar penskalaannya. Tapi penskalaan itu tidak berarti bahwa sangat tidak puas (1) + cukup puas (3) = sangat puas (4), pun bukan berarti menggunakan kendaraan pribadi saat ke sekolah (1) + menggunakan kendaraan umum (2) = jalan kaki (3). Skala prioritas dalam skala ordinal juga tidak menunjukkan bahwa skala 1 lebih baik daripada skala 2 dan skala 3 atau lainnya, tidak.

Lebih mudahnya, skala ordinal adalah skala nominal dengan pertimbangan skala prioritas. Skala ini lebih fokus kepada penyematan indikasi posisi karakter objek dalam peringkat.

Skala ordinal pada konteks tertentu juga dikenal sebagai skala asimetris. Sifat asimetris inilah yang mengunikkan skala ordinal, ketika pilihan menggunakan kendaraan pribadi lebih baik dari pada jalan kaki, lantas bukan berarti menggunakan kendaraan umum lebih baik dari jalan kaki. Sebab, lebih baik atau tidaknya tergantung konteks di mana pilihan itu diberikan, kalau jarak rumah ke sekolah dekat, cuma 3 meter, justru jalan kaki malah lebih baik.

Skala Interval

Berbeda dengan skala nominal dan ordinal, skala interval merupakan skala pengukuran dengan ciri terdapat jarak antar titik pada skala. Sebenarnya pada skala ordinal, ada jarak antara puas dan tidak puas, namun jarak tersebut tidaklah dapat diukur secara pasti. Sebab, jarak itu hanya menyangkut perasaan atau opini saja.

Skala interval dapat kita temui pada alat ukur seperti termometer. Di termometer itu terdapat skala-skala termasuk jarak antar skala. Sebagai catatan pula, bahwa skala interval tidak mempunyai nilai nol absolut. Nilai nol pada skala interval tidak sama antar alat ukur sehingga nilai nol merupakan sebuah nisbi. 0° C belum tentu 0° F, begitu pula nilai 100° R, belum tentu 100° K. Masing-masing skala memiliki nilai minimal dan maksimal tersendiri.

Meski demikian, skala interval memiliki ciri dapat dijumlahkan secara matematis. Bahwa 40° C merupakan dua kali lebih panas dibandingkan 20° C.

Meski dalam konteks lain, ada ciri skala interval yakni penjumlahan yang justru merupakan rata-rata dari dua nilai tertentu. Air yang suhunya 70°C + air yang suhunya 20° akan mencapai suhu setimbang.

Skala Rasio

Skala ini dipandang sebagai skala pengukuran yang paling tinggi di antara skala yang ada.

Selain jarak antar nilai diketahui, skala ini juga mempunyai nilai nol mutlak. Kalau nol memang benar-benar bernilai nol, tidak nisbi terhadap skala pada alat ukur lainnya terhadap objek yang sama.

Selain itu, operasi matematik berupa penjumlahan nilai berlaku pada skala pengukuran ini. Beberapa contohnya adalah jumlah buku, jumlah penduduk, jumlah kendaraan, kalau jumlahnya 0, maka memang menunjukkan tidak ada sama sekali. Jumlah buku 5 + 2 buku akan sama dengan 7 buku.(*)