Selasa, 01 Agustus 2017

Mana yang Lebih Dulu, Penelitian atau Teori?


Penelitian, sumber gambar: teripangemas.com

Teori sangat penting kedudukannya dalam penelitian. Seperti pada bagian sebelumnya, kita mengenal pengertian tentang apa itu teori dan apa bedanya dengan teorema. Yang ingin tahu, bisa mencari ulasannya pada blog ini.

Berbicara mengenai penelitian dan teori, sebenarnya kita perlu berpikir ulang. Duluan mana yang harus ada, teori atau penelitian itu sendiri. Hal ini seperti bicara soal mana yang lebih dulu, ayam atau telur.

Kita melakukan penelitian, apapun bentuknya, intinya penelitian yang ilmiah atau empiris tentunya berangkat dari sebuah keingintahuan. Kenapa harus ingin tahu lebih dulu?

Yup! Sebagai seorang peneliti, kita harus paham bahwa semua keingintahuan kita terhadap sesuatu mestinya punya dasar atau landasan yang kuat. Mengingat apa yang kita teliti juga bukan copy dan paste, kita butuh fondasinya, itulah teori.

Dari teori yang tersedia, kita kaitkan dahulu antar teori, kemudian kita racik bahan-bahanya. Ya...seperti saat kita masak sayur. Agar terasa enak, tentu ada teorinya kan? Bentuknya resep masak sayur.

Setelah teori terkumpul, selanjutnya kita cari tahu alur hubungan antar teori. Ini kalau dalam masak sayur tadi diejawantahkan oleh bahan apa saja yang harus ada supaya enak.

Nah, anggapan-anggapan yang berasal dari teori inilah yang kemudian membentuk hipotesis. Hipotesis layaknya 'respon' dari sejumlah lidah yang menyicip masakan sayur yang sama.

Lidah yang satu mungkin berkata,"wah enak betul rasanya." Namun, oleh lidah lain beda lagi jawabannya,"hmm biasa saja," atau mungkin malah,"ah nggak enak rasa sayurnya."

Begitulah bunyi hipotesis, ia mengikuti kenyataan hasil penelitian dengan berdasarkan pada teori tadi. Hipotesis atas teori inilah yang biasanya kita uji.

"Kira-kira bener nggak ya? Bahwa pendidikan seorang ibu memengaruhi secara positif terhadap kecerdasan anaknya?"

Anggapan-anggapan yang sifatnya sementara inilah yang kita uji. Kenapa sih kita uji? Ya balik lagi, karena kita 'kepo', kita ingin tahu sekali soal kebenaran sebuah teori dari hipotesis-hipotesis yang mendukungnya.(*)