Kamis, 03 Agustus 2017

Haruskah Konsep dan Definisi Sama di Setiap Survei?


Survei untuk Menduga Parameter Populasi,sumber foto: http://www.marketing.co.id/survei-pelanggan-lima-hal-yang-harus-anda-tahu-bagian-1/

Konsep dan definisi merupakan elemen penting dalam pelaksanaan survei. Tanpa konsep dan definisi, tentu data akan amburadul sebab tidak ada batasan-batasan konsep definisi.

Dalam membangun konsep dan definisi, kita perlu memerhatikan aspek keseragaman. Apalagi jika tujuan survei berbeda-beda. Kesamaan konsep dan definisi nantinya akan menjadikan data yang dihasilkan sejumlah survei dapat diintegrasikan, utamanya soal aspek analisisnya.

Yang menjadi kendala dalam survei adalah ketika sebuah survei mempunyai konsep dan definisi yang berbeda. Sebagai contoh sederhana soal konsep dan definisi Anggota Rumah Tangga (ART) saja.

Survei A memiliki definisi bahwa ART adalah orang yang biasa tinggal dalam sebuah keluarga dan kesehariannya makan satu dapur.

Survei B beda lagi, misalkan tamu yang menginap semalam merupakan ART meski dia tidak biasa tinggal bersama dalam keluarga.

Ini sedikit banyak akan disalahpahami oleh pengguna data. Terlebih ia tak mempunyai informasi mengenai konsep dam definisi pada masing-masing survei soal yang disebut ART. Ia akan 'hanyut' dalam kesesatan pemahaman akibat menggunakan data sekunder.

Kalaupun dipisah, tentu akan sangat sukar ia lakukan. Boleh jadi, ia harus menghitung ulang raw data (data mentahannya). Di sinilah letak pentingnya penyeragaman konsep dan definisi dalam setiap survei. Kita lebih 'mampu' melindungi bias analisis yang dilakukan oleh pengguna data sebagai dampak kesalahpahaman tentang konsep dan definisi ART.

Betapa banyak penggunaan data sekunder yang 'kurang baik' untuk dijadikan model analisis. Adanya kesalahan implisit penggunaan data sekunder bisa jadi relatif lebih besar ketimbang data primer.

Rata-rata jumlah ART per rumah tangga hasil survei A kemungkinan besar lebih sedikit daripada hasil survei B. Jika di dalam survei A dan B masing memuat informasi yang sama dan dianalisis tentu menimbulkan masalah. Lebih-lebih unit analisisnya juga sama. Pengguna data kita asumsikan tidak mengetahui informasi ini sehingga tugas kita adalah bagaimana terjalin konsistensi konsep dan definisi di setiap survei untuk karakteristik yang sama.(*)