Senin, 07 Agustus 2017

Ekonomi RI Tumbuh Konstan, ITB dan ITK Naik?


Infografis PDB RI Kuartal II 2017, sumber foto: bps.go.id

Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis angka pertumbuhan ekonomi untuk kuartal II 2017 (07/08/2017). Pertumbuhan ekonomi secara nasional tercatat sebesar 5,01 persen.

Besar angka pertumbuhan ekonomi tersebut relatif sama di kuartal I kemarin, yakni 5,01 persen, mungkin beda digit di belakang koma saja.

Di kuartal II ini yang nampak jelas terletak pada komposisi share pertumbuhan PDB menurut lapangan usahanya. Industri manufaktur sepertinya sedikit mengalami penurunan share dibanding kuartal I kemarin. Pada kuartal I, industri manufaktur tumbuh sebesar 0,92 persen, menjadi 0,76 persen saja di kuartal II.

Kondisi yang sama terjadi pada lapangan usaha pertanian dan konstruksi. Meski tumbuh secara positif, namun relatif menurun. Di kuartal I 2017, keduanya tumbuh masing-masing sebesar 0,59 persen dan 0,66 persen. Di kuartal II ini, keduanya mengalami penurunan relatif, masing-masing menjadi 0,59 persen dan 0,61 persen.

Lebih khusus, menurut lapangan usaha, informasi dan komunikasi tercatat sebagai lapangan usaha yang 'berjaya' di kuartal II tahun ini. Lapangan usaha ini mengalami pertumbuhan yang bisa dibilang signifikan, yakni sebesar 10,88 persen.

Kondisi ini dapat diartikan bahwa peluang usaha di bidang informasi dan komunikasi saat ini nampaknya menjanjikan. Terlebih, jumlah pengguna jejaring sosial atau media daring terus meningkat setiap waktu. Ini berdampak meningkatkan sentimen positif usaha di Indonesia. Hal tersebut diperlihatkan oleh meningkatnya Indeks Tendensi Bisnis (ITB).


ITK dan ITB Kuartal II 2017, sumber foto: bps.go.id

Jika dilihat dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga nampaknya masih memberikan share besar angka pertumbuhan ekonomi kuartal II. Kondisi ini didukung pula oleh meningkatnya Indeks Tendensi Konsumen (ITK) nasional.

Di kuartal II ini yang nampak jelas terletak pada komposisi share pertumbuhan PDB menurut lapangan usahanya. Industri manufaktur sepertinya sedikit mengalami penurunan share dibanding kuartal I kemarin. Pada kuartal I, industri manufaktur tumbuh sebesar 0,92 persen, menjadi 0,76 persen saja di kuartal II.

Kondisi yang sama terjadi pada lapangan usaha pertanian dan konstruksi. Meski tumbuh secara positif, namun relatif menurun. Di kuartal I 2017, keduanya tumbuh masing-masing sebesar 0,59 persen dan 0,66 persen. Keduanya mengalami penurunan relatif, masing-masing menjadi 0,59 persen dan 0,61 persen.

Lebih khusus, menurut lapangan usaha, informasi dan komunikasi tercatat sebagai lapangan usaha yang 'berjaya' di kuartal II tahun ini. Lapangan usaha ini mengalami pertumbuhan yang bisa dibilang signifikan, yakni sebesar 10,88 persen.

Kondisi ini dapat diartikan bahwa peluang usaha di bidang informasi dan komunikasi saat ini nampaknya menjanjikan. Terlebih, jumlah pengguna jejaring sosial atau media daring terus meningkat setiap waktu. Ini berdampak meningkatkan sentimen positif usaha di Indonesia. Hal tersebut diperlihatkan oleh meningkatnya Indeks Tendensi Bisnis (ITB). BPS mencatat ITB kuartal II mencapai 111,63. Artinya, iklim usaha dan optimisme pengusaha untuk kuartal ke depan relatif meningkat dibandingkan sebelumnya.

Jika dilihat dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga nampaknya masih memberikan share besar angka pertumbuhan ekonomi kuartal II. Kondisi ini didukung pula oleh meningkatnya Indeks Tendensi Konsumen (ITK) nasional, yakni sebesar 115,92.

Hal ini dapat dimaknai bahwa kondisi ekonomi dan tingkat optimisme konsumen mengalami peningkatan relatif dari sebelumnya.

Di sinilah uniknya. Saat pertumbuhan ekonomi relatif konstan, pada waktu yang sama ITB dan ITK mengalami peningkatan. Ini memberi sinyal bahwa untuk berusaha dan melakukan aktivitas ekonomi itu lebih mudah. Besar ITB juga tak jauh dari ITK yang mengindikasikan adanya stabilitas antara peluang supply dan demand sedemikian rupa sehingga menjamin stabilitas harga.

Masyarakat merasa mudah untuk berusaha dan menilai bahwa investasi bisnis ke depan lebih menguntungkan.

Demikian halnya dengan konsumen. Mereka merasa bahwa ke depan perekonomian semakin membaik sehingga permintaan (demand) mereka dapat terpenuhi.

Secara nasional, konsumsi lembaga non-profit (LNP) memberikan sumbangan pertumbuhan terbesar. Konsumsi LNP ternyata mencapai 8,49 persen dan menjadi sumber pertumbuhan utama PDB kuartal II 2017. Hal ini secara eksplisit menunjukkan bahwa LNP mulai memberikan peran dalam perekonomian. Selain itu, menjamurnya komunitas dan perkumpulan sosial juga menjadi pemicu besarnya pengeluaran LNP secara agregat.(*)