Kamis, 27 Juli 2017

Sekolah Terlalu Dini Berdampak Buruk

Setiap orang tua mempunyai keinginan anaknya menjadi orang pandai. Jika orang tua kerjanya sebagai buruh tani, minimal anaknya jadi menteri. Jika orang tua kerjanya lulusan SDTT, maksudnya SD Tidak Tamat, anaknya harus jadi Sarjana. Pun orang tua juga berkeinginan anaknya memiliki titel berantai-rantai. Tak cukup titel depan, Prof, Doktor, Insinyur, Donterandes, orang tua ingin anaknya bertitel akhiran SPd., MPd., SH., MA., S.Si., MPd.i., SMS, dan lain-lain.

Jarang sekali ada orang tua yang ingin anaknya senasib dengan dirinya. Untuk itu, mereka menyekolahkan anak-anaknya. Menyekolahkan anak pun masing-masing ada cirinya, tergantung aturan sekolah mana yang hendak dituju.

Sebagai sebuah institusi pendidikan, setiap sekolah memiliki standard penerimaan siswa barunya. Salah satunya adalah usia siswa pada waktu pendaftaran. Hal ini penting mengingat usia sekolah seyogyanya relevan dengan jenjang pendidikan yang didapat siswa.

Kendati demikian, tak semua sekolah menerapkan aturan seperti itu. Ada saja sekolah yang menerima calon siswa, meskipun ia berusia di bawah usia jenjang sekolah yang seharusnya. Fenomena ini banyak terjadi di perdesaan, anak baru usia 6 tahun sudah masuk pada jenjang SD. Belum lagi siswa yang seharusnya naik kelas atau lulus SD, malah tinggal kelas atau tak lulus.

Sekarang kita coba cek datanya. Badan Pusat Statistik (2016) memiliki sebuah angka yang namanya Angka Partisipasi Kasar (APK). Khusus APK jenjang pendidikan SD, angka tersebut merupakan persentase jumlah siswa SD sederajat usia terhadap jumlah penduduk usia sekolah SD sederajat (usia 7-12 tahun). Nah, ternyata nilai APK SD Indonesia tahun 2016 adalah sebesar 109,20 persen.
"Waduh!, Kok nilainya lebih dari 100 persen, apa dong artinya?"

Artinya mudah saja. Bila nilai APK SD kurang atau melebihi 100 persen, maka diindikasikan terdapat siswa SD yang sebenarnya belum usianya masuk SD, namun sekolah menerimannya masuk SD. Atau terdapat sejumlah siswa SD yang tinggal kelas, tidak lulus atau seorang anak lompat kelas (akselerasi) yang menyebabkan usianya kurang dari atau melebihi usia normal jenjang pendidikan SD, 7-12 tahun.

Pendidikan terlalu dini pada anak-anak sebelum usianya memang sah-sah saja. Sebab dari aspek kemampuan menangkap ilmu pun dinilai banyak pihak lebih mudah dan cepat. Pun aspek kognitif lainnya juga masih dalam taraf pertumbuhan dan perkembangan. Asupan serta didikan yang baik tentu diharapkan mampu menjamin masa depannya.

Tapi tahukah kita, bahwa sekolah terlalu dini ternyata berdampak buruk pula lho pada anak. Terlalu dini dalam artian, belum usia sekolah pada jenjang tertentu malah "dipaksa" untuk sekolah. Gampangnya sekolah sebelum pas usianya. Mengapa demikian?

Hasil riset membuktikan bahwa anak yang masih terlalu muda kemudian dipaksa bersekolah yang tak sesuai dengan usianya memiliki potensi mengalami gangguan kejiwaan (Tempo, 2016). Logikanya memang benar, anak yang semestinya bersosialisasi dengan lingkungan sebayanya, malah ia bersosialisasi dengan anak yang lebih tua darinya. Situasi ini tentu berpotensi besar menimbulkan tekanan psikis yang besar. Tak dipungkiri bila banyak kasus bullying terjadi pada anak yang lingkungan sebanyanya lebih tua darinya.

Bukan cuma itu, potensi tekanan lainnya muncul dari beban belajar yang harus diemban. Belum waktunya belajar soal bagaimana  siklus hujan terjadi, seorang anak sudah "terpaksa" mempelajarinya. Tambahan lagi, beragam bentuk tugas dengan tingkat kesulitan yang normalnya dikerjakan oleh anak berusia di atasnya, harus ia selesaikan. Akibatnya, psikis anak mendapat berbagai tekanan dan jika ia tak kuat, maka akan menimbulkan gangguan pada kejiwaannya.
Hasil studi empiris yang pernah dilakukan Taipei Veterans Hospital Taiwan mengungkapkan bahwa anak-anak yang lahir kurang dari atau berdekatan dengan usia untuk memasuki jenjang kelas mempunyai kerentanan terhadap sindrom hiperaktif (Tempo, 2016). Dampak ini tentu kita tahu lebih disebabkan karena lingkungan sosialisasi anak yang lebih tua darinya. Sebagai elemen pembentuk karakter, lingkungan sekolah yang "lebih tua" tak dapat menjamin kepribadian seorang anak akan baik.

Banyak pretensi dan tendensi, lingkungan yang demikian justru mengarah pada pembentukan prilaku anak yang buruk. Hiperaktif pun perlu untuk diarahkan pada hal-hal yang membangun kognitif serta karakter anak. Dengan demikian, sedikit banyak dampak lingkungan yang "lebih tua" itu tak berakibat buruk pada pertumbuhan psikis dan mentalnya.(*)

Sumber data: BPS pada jenjang pendidikan formal