Sabtu, 29 Juli 2017

Rupiah Terapresiasi Kok Malah Inflasi?


Sepertinya rupiah memberikan sedikit kabar gembira di Bulan Juni tahun ini. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa rupiah mengalami apresiasi terhadap mata uang dolar sebesar 0,21 persen. Tidak hanya itu, rupiah juga mengalami apresiasi terhadap yen Jepang, yakni sebesar 0,52 persen.

Apresiasi rupiah bulan Juni bukanlah tanpa asalan. Jika diamati datanya, rupiah terapresiasi karena adanya surplus neraca perdagangan sebesar USD 1,6 miliar. Ini sebagai dampak menurunnya nilai ekspor sebesar 18,82 persen. Sedangkan dari sisi impor juga mengalami penurunan, yakni sebesar 10,01 persen.

Ketika rupiah terapresiasi, secara teori dikatakan bahwa kondisi nilai riil rupiah menguat dibandingkan dolar dan yen Jepang. Pedagang lebih berminat menjual barangnya di dalam negeri daripada diekspor ke luar negeri. Sebab, kalau dijual di dalam negeri tentu akan lebih menguntungkan daripada diekspor.

Kondisi surplus bulan Juni terlihat karena penurunan nilai ekspor, yakni USD 11,64 miliar, melebihi nilai impor, yakni USD 10,01 miliar.

Saat rupiah terapresiasi, orang akan berbondong-bondong 'memegang' rupiah daripada dolar dan yen Jepang. Pada saat yang sama, normalnya rupiah akan mengalami deflasi karena daya beli terhadap produk impor menurun alias lebih murah.

Namun apa yang terjadi? Ternyata bulan Juni malah inflasi sebesar 0,69 persen. Sepertinya tidak sesuai dengan teori ekonomi secara umum. Tapi kita patut menelisik lebih dalam lagi. Menurut BPS, penurunan ekspor itu didominasi oleh komoditas lemak dan minyak hewani/nabati. Sedangkan peningkatan ekspor terjadi pada komoditas kayu dan pulp. Di sisi impor, terbesar didominasi oleh komoditas mesin dan peralatan listrik. Sedangkan peningkatan impor terjadi untuk komoditas kapal laut dan bangunan terapung.

Dari sini jelas bahwa deflasi tidak terjadi karena penurunan impor dan ekspor terjadi untuk komoditas yang tidak berhubungan langsung dengan kebutuhan bulan Juni yang notabene merupakan bulan puasa dan lebaran. Semestinya mekanisme ekonomi yang terjadi bila rupiah terapresiasi malah yang terjadi bukan deflasi melainkan inflasi.(*)