Kamis, 27 Juli 2017

Pengaruh Ibu Pengguna Ponsel pada Perilaku Anak

Kehidupan sehari-hari kita saat ini tak pernah lepas dari ponsel. Sangat jarang kita temui orang tak punya ponsel di sekitar. Setidakpunyanya seseorang, ponsel selalu ada di sampingnya. Minimalnya sih untuk usaha dan menghubungi sanak saudara yang jauh nun di sana.

Sebagai produk kemajuan teknologi dan informasi, begitu pesatnya transformasi ponsel. Dulu yang seukuran irisan tempe dan tombol yang besar-besar, kini  disulap menjadi ukuran minimalis, praktis dan layar sentuh atau touch screen. Ditambah beragam fitur yang tersedia di dalam ponsel membuat setiap orang tertarik untuk memilikinya, termasuk kaum ibu-ibu.

Tuntutan zaman menjadikan kaum ibu juga terseret menggunakan ponsel. Pengaruh penggunaan ponsel oleh ibu-ibu bahkan mengubah pola perilaku sosial mereka. Dulu sih, ibu-ibu ngegosip tetangganya harus dengan kumpul dulu sehabis beres-beres rumah. Sekarang lain, tempat kumpul sudah tak perlu, dengan ponsel pun sederetan tetangga 'habis' digosipkan.

Menggunakan ponsel dalam keseharian memang sah-sah saja. Siapa saja boleh memakainya, khususnya kaum ibu. Tetapi perlu diingat lho menggunakan ponsel, terutama bagi mereka yang sudah mempunyai anak. Seorang ibu yang sehari-harinya menggunakan ponsel secara intens, sedikit banyak memengaruhi perilaku anaknya.

Hasil penelitian Barcelona Institute for Health, UCLA, menyebutkan bahwa anak-anak usia 5-7 tahun yang ibunya sering menggunakan ponsel akan cenderung lebih hiperaktif perilakunya. Hiperaktif bagi anak-anak seusia itu dinilai membahayakan.

Menurut ahli kesehatan anak FK UNAIR, perilaku anak yang hiperaktif akan berdampak buruk bagi aktivitas orang tua. Suasana lingkungan keluarga akan terganggu dan kurang kondusif (detik_com, 2013). Terlebih jika anak tak segera mendapat penanganan terhadap hiperaktifnya, dimungkinkan berpotensi besar mengalami kegagalan saat dewasa nantinya. Sebab, perilaku anak yang hiperaktif justru membuka peluang besarnya salah pergaulan pada anak.

Ketika seorang ibu terlalu fokus menggunakan ponsel, aspek pengawasan terhadap anak juga bakal terabaikan. Buktinya, tak sedikit kasus anak celaka lantaran ibunya lalai saking fokusnya berbelanja online lewat ponselnya. Adapula kejadian seorang anak balita yang meninggal tenggelam dalam bak mandi akibat ibunya lupa karena sedang main game di dalam ponselnya. Pengawasan terhadap anak memang merupakan hal sepele, apalagi jika dilakukan di dalam areal rumah sendiri. Namun, hal itu justru menjadi hal serius karena kelalaian orang tua, terutama ibu, disebabkan terlalu nyamannya ia menggunakan ponsel.

Oleh karena itu, menggunakan ponsel bagi ibu-ibu memang diperbolehkan. Asal, mereka tak sampai lalai dalam melakukan proteksi terhadap anaknya, terutama yang masih berusia 5-7 tahun. Betapa sepelenya menggunakan ponsel, tapi kalau sudah mengakibatkan anak meninggal? Itu kan bukan sepele lagi, tapi konyol. Semoga kaum ibu dapat secara bijak dalam menggunakan ponsel ke depan, terlebih anak merupakan generasi penerus yang harus dilindungi dan diselamatkan.

Dilindungi dalam arti menjaganya agar terhindar dari kerusakan mental dan moral. Diselamatkan dalam artian terjaga jiwa dan raganya agar tetap sehat dan memiliki harapan hidup panjang demi masa depan.(*)