Kamis, 27 Juli 2017

Usia Ideal Menikah

Usia menikah, sumber foto: dokpri.

Menikah merupakan salah satu kunci kebahagian kehidupan manusia di dunia. Menikah merupakan sebuah konsekuensi logis bahwa Tuhan menciptakan banyak hal secara berpasang-pasangan. Ada laki-laki, ada perempuan, ada siang, ada malam, ada kanan, ada kiri, ada hidup, ada mati, ada terang, ada gelap, dan segala hal sejenisnya, itu mempunya pasangannya masing-masing. Sebelum membahas perihal nikah, alangkah baiknya kita mengetahui terlebih dahulu pengertian menikah itu sendiri.
Menurut Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974, pernikahan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagai suami istri dengan tujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Yang perlu digarisbawahi dalam pengertian tersebut adalah bahwa menikah itu adalah sebuah ikatan lahir dan batin.

Ikatan lahir dan batin ini memiliki makna yang sangat dalam, sebab seberapa intim jarak dua orang berpelukan, itu hanya terbatas oleh jarak tubuhnya. Namun, dalam hal ikatan lahir dan batin, ini merupakan ikatan yang suci tidak hanya apa yang terlihat secara kasat mata, tetapi juga menyangkut seluruh jiwa dan raga terikat sebuah perjanjian suci yang disaksikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam pandangan biologis, dengan melangsungkan pernikahan, manusia dapat menjaga keberlangsungan keturunannya. Tidak hanya itu, manusia juga mempunyai kehendak untuk menjaga kualitas keturunannya. Dengan menikah, aspek bilogis manusia dapat tersalurkan secara baik dan benar sehingga tidak menimbulkan keburukan. Dalam aspek keagamaan, pernikahan juga digunakan sebagai media penyebaran agama. Begitu pula bila ditinjau dari aspek lainnya.

Di Indonesia sendiri, efek domino dari proses pernikahan terletak pada besarnya populasi penduduknya. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2014 saja menunjukkan bahwa jumlah populasi penduduk Indonesia adalah 252,2 juta jiwa. Secara sederhana, kondisi ini memperlihatkan bahwa pernikahan merupakan mekanisme utama peningkatan populasi penduduk. Kalau ditelisik lebih dalam, pertumbuhan penduduk pada tahun 2014 saja sekitar 1,35 persen. Angka ini secara langsung merupakan dampak dari mekanisme pernikahan yang terjadi selama tahun 2013 hingga 2014.

Akan tetapi, di balik kondisi tersebut, hingga kini masih terdapat berbagai macam permasalahan yang timbul di Indonesia, terutama hal-hal yang menjadi dampak dari sebuah proses pernikahan. Di beberapa daerah masih didapati pasangan nikah usia dini. Usia dini adalah usia dimana seseorang belum matang secara medis maupun secara psikologis. Masih tergolong usia anak-anak ternyata sudah menikah, atau menikah dalam situasi belum cukup usia.

Menurut data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Indonesia masih menduduki peringkat 37 negara dengan jumlah status pernikahan usia dini di dunia. Peringkat ini tentu bukanlah sebuah prestasi yang baik bagi Indonesia, apalagi saat ini pemerintah terus berupaya menekan jumlah populasi penduduk secara nasional.

Data BPS tahun 2013 memang menunjukkan bahwa median usia menikah penduduk Indonesia mengalami peningkatan sepanjang tahun 1991 – 2012. Lebih jelasnya dapat mengamati grafik berikut:
Usia Ideal Menikah, Kunci Membentuk Keluarga Bahagia
Grafik median usia menikah penduduk Indonesia tahun 1991 - 2012 (sumber: dok.Pri)

Berdasarkan grafik tersebut, terlihat bahwa median usia menikah penduduk Indonesia pada tahun 2012 telah mencapai 20,7 tahun. Namun kenyataan hasil Riset Kesehatan Dasar (Rikesdas) tahun 2010 masih menyebutkan bahwa persentase jumlah pernikahan dini di Indonesia pada rentang usia 15 – 19 tahun adalah 41,90 persen dan 4,8 persen merupakan pasangan menikah dengan rentang usia 10 – 14 tahun.

Kondisi ini semakin terlihat miris dan karenanya tak ayal bila populasi penduduk Indonesia masih tidak terkontrol dengan baik. Selain itu, kenyataan itu juga menunjukkan bahwa diperlukan upaya khusus baik secara internal maupun secara eksternal tentang dampak dari pernikahan usia dini.

Strategi membentuk keluarga sejahtera

Latar belakang soal pernikahan usia dini masih menyelimuti sebagian besar masyarakat Indonesia. Apalagi, beberapa di antara kalangan masyarakat masih menyakini paradigma lama, misalnya banyak anak banyak rejeki, cepat menikah agar hidup berkah dan sejenisnya. Paradigma lama inilah yang masih merangsang kecenderungan masyarakat untuk menikah pada usia dini. Beberapa stereotip negatif juga muncul di kalangan masyarakat, terutama menyangkut perempuan atau anak perempuannya.

Menurut Darnita (2013), bagi sebagian perempuan, kalau sudah mencapai pubersitas belum nikah ada stereotip merupakan aib karena memalukan bagi keluarga. Tekanan semacam ini merupakan gangguan eksternal bagi perempuan yang sebenarnya baru saja mengalami tanda-tanda pubersitas sehingga justru sejak awal membuat psikisnya terganggu.

Tidak hanya itu, urgensi mendapatkan pasangan suami yang mapan secara ekonomi juga menjadi pressingtersendiri bagi perempuan yang baru ‘mengenal’ lawan jenis. Pada laki-laki juga terjadi hal yang serupa, misalnya menikah harus sedini mungkin agar mampu merasakan nikmatnya surge dunia. Atau alasan yang agamis, namun berisiko secara biologis, misalnya menikah harus sedini mungkin untuk menghindari terjadinya hamil di luar nikah.

Menanggapi hal ini, pendidikan dan pengetahuan mengenai dampak buruk dari pernikahan usia dini sangat diperlukan. Sebab, dengan mengetahui dampak pernikahan usia dini, setidaknya mampu menyadarkan generasi muda dan bijak di dalam merencanakan usia pernikahan dan membentuk sebuah keluarga. Menurut hasil riset UNICEF (2001), makin dini usia pernikahan, maka kerentanan terkena HIV semakin tinggi.  Pernikahan terlalu dini dapat berdampak buruk terhadap pendidikan, ekonomi (Wijayanto, 2009), kesehatan reproduksi (Hanum dalam Suhadi, 2012).

BKKBN (2010) juga merekomendasikan untuk tidak menikah pada usia dini sebab organ reproduksi untuk perempuan masih belum kuat, sedangkan untuk laki-laki masih dianggap belum mampu menopang hidup sebuah keluarga. Hal ini juga ditegaskan oleh Walgito (2012), yang menyatakan bahwa remaja usia 19 tahun umumnya belum mempunyai sumber penghasilan.
Artinya, dari segi kekuatan ekonomi saja, pasangan nikah usia dini mempunyai kerentanan ekonomi lebih tinggi daripada pasangan berstatus menikah di usia ideal.

Bila ditelisik dari segi psikologis, pasangan nikah di usia dini masih terlalu labil dalam aspek mentalitasnya. Sebab, menurut Smitson dan Garlow (1976), indikasi bahwa seseorang telah mempunyai daya olah emosional adalah kematangan seseorang di dalam caranya merespon segala situasi. Banyaknya angka perceraian dan talak di dalam rumah tangga bahkan kejadian kekerasan rumah tangga bisa juga disebabkan kurangnya kemampuan pasangan dalam mengolah mentalitasnya setelah menikah.

Hal ini bukan berarti untuk menikah, syarat perlu bagi seseorang adalah menginjak usia tua. Bukan. Tetapi dengan semakin tua usia seseorang, dikatakan oleh Blood (1978) seseorang dapat memiliki kematangan di dalam mempersiapkan pernikahannya. Menanggapi dampak tersebut, maka diperlukan langkah-langkah strategis khusus di dalam memulai sebuah niatan untuk menikah dan membentuk sebuah keluarga, yaitu:

Fase Pra-Nikah
Langkah awal di dalam memasuki fase pranikah adalah mempersiapkan mental. Mempersiapkan mental dapat dilakukan dengan melakukan konsultasi kepada para ahli, misalnya kepada dokter untuk menimbah ilmu kesehatan reproduksi, atau kepada ahli psikologis mengenai bagaimana membangun mental yang kuat dan siap untuk melangsungkan pernikahan.

Metode lain untuk meningkatkan dan menguatkan mental adalah menimbah pengalaman dengan bekerja di usia muda. Dengan bekerja, secara alamiah akan membentuk kerangka pikir dan pola pikir menjadi lebih dewasa. Lingkungan kerja akan membentuk kejiwaaan seseorang lebih siap menghadapi tantangan masa depan, bijak di dalam mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah serta mampu membangun sebuah sistem organisasi yang kelak disebut keluarga.

Seiring dengan waktu, pengalaman kerja akan membangun paradigma yang strategis dan konstruktif di dalam menghadapi berbagai polemik, baik pribadi ataupun situasi lingkungan yang tidak kondusif. Selain itu, pengalaman kerja secara signifikan akan menempa diri seseorang untuk lebih adaptif dalam menyesuaikan diri serta mampu menguasai suasana lingkungan apapun.

Langkah kedua adalah melakukan perencanaan finansial. Perencanaan finansial yang baik tentu dapat diciptakan dengan mengais pendidikan finansial yang baik. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengikuti seminar atau pelatihan finansial, mempelajari literatur serta menumbuhkannya dalam lingkungan kerja.

Manfaat dari perenacanaan finansial dapat menumbuhkan kerangka pikir dalam melakukan alokasi finansial saat pranikah, nikah dan pasca nikah. Selian itu juga menumbuhkan pola pikir yang strategis di dalam membangun manajemen saat pranikah, nikah dan pasca nikah. Urgensi perencanaan finansial adalah merangsang terciptanya alternatif apabila mengalami kegagalan atau masalah finansial di kemudian hari.

Langkah ketiga adalah meningkatkan pemahaman terhadap agama. Hal ini bisa direalisasikan dengan mengikuti pendidikan agama dan formal. Dalam masa pendidikan agama, seseorang dapat mempelajari dan mendalami ilmu agama, misalnya melalui kajian-kajian bersama ahli agama atau kajian literatur.

Sedangkan pendidikan formal dapat dilakukan dengan meningkatkan level pendidikan lebih lanjut. Harapannya adalah mampu mengetahui seluk beluk tentang pernikahan, adab-adab di dalam menikah, usia ideal untuk menikah, mengatasi permasalahan di dalam pernikahan, mengetahui soal warisan dan bagaimana menciptakan manajemen keluarga yang baik dan benar.

Langkah akhir pada fase ini adalah pengembangan diri. Pengembangan diri dapat dilakukan dengan cara belajar dari literatur untuk merangsang potensi-potensi dalam diri sedemikian rupa sehingga tereksplore dan menjadi nilai tambah kualitas diri. Selain itu, menekuni hobi dan secara konsisten mampu meningkatkan kualitas hidup, dan kemungkinan lain berpotensi menciptakan kantung usaha yang pada waktunya akan mampu menopang perencanaan finansial baik pra nikah, nikah dan pasca nikah.

Fase Pernikahan

Sebelum mencapai fase pernikahan, peralihan dari pranikah ke nikah inilah yang memerlukan perhatian khusus. Sebab, di ‘dalamnya’ terdapat pertanyaan besar yang memerlukan jawaban dengan segera, yaitu pada usia berapa saya menikah?...

Dengan melakukan perencanaan dan strategi melangkah ke sebuah pernikahan, setidaknya seseorang atau sebuah calon pasangan dapat lebih arif dan bijak dalam mengambil keputusan. Pada fase inilah, pembicaraan soal usia ideal menikah menjadi fokus perhatian. Berlandaskan pada dampak pernikahan usia dini pada penjelasan sebelumnya, menurut BKKBN, (2010), usia ideal bagi perempuan untuk menikah adalah 21 – 25 tahun dan untuk laki-laki 25 – 28 tahun. Sebab, pada usia tersebut organ reproduksi untuk wanita lebih kuat baik secara psikis maupun secara biologis. Sedangkan pada laki-laki, menikah di usia rentang tersebut dikatakan merupakan usia ideal dimana seseorang telah mampu menopang kehidupan keluarganya.

Menurut hasil Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) tahun 2007, usia ideal yang didapatkan dari perhitungan nilai median usia menikah di Indonesia untuk perempuan adalah 23,1 tahun. Sedangkan usia median untuk menikah bagi laki-laki adalah 25,6 tahun. Menurut Harlock (1999), usia menikah yang baik adalah usia 20 – 35 tahun baik perempuan maupun laki-laki dan usia pasangan nikah untuk kelahiran anak pertama yang tepat adalah 20 – 30 tahun.

Selain itu, Hasil Penerlitian Mudhaniva, Inne B. dan Purwanto, I.N. (2014) dengan menggunakan teknik FuzzyAHP-Topsis juga menunjukkan bahwa usia ideal untuk menikah adalah usia 27 tahun. Hal ini diperkuat oleh rekomendasi dari Departemen Kesehatan RI (2011) yang menyatakan bahwa apabila ditinjau dari segi biologis, usia ideal bagi perempuan untuk menikah adalah 20 tahun, sedangkan untuk laki-laki adalah 25 tahun. Secara empiris, dapat ditentukan bahwa usia ideal bagi seseorang untuk menikah adalah rentang 20 – 30 tahun.

Keputusan untuk menentukan pada usia berapa seseorang akan melangsungkan pernikahannya ini masih dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang memengaruhi keputusan seseorang dalam mengambil keputusan usia menikah, di antaranya adalah kehendak sendiri, tumbuhnya persepsi pribadi, misal persepsi pacaran atau tidak dan persepsi perawan tua atau tidak.

Usia menikah bisa saja secara spontanitas muncul dalam benak seseorang, tanpa melihat situasi dan kondisi sehingga bila tidak terdapat kontrol dari orang tua, maka tentu pernikahan usia dini akan terjadi. Pada perempuan, pun laki-laki, timbul pula persepsi akibat pacaran. Karena ‘kecelakaan’ akibat pacaran sehingga hamil di luar nikah, sementara belum cukup usia, tentu pernikahan dini merupakan solusi satu-satunya.

Pada beberapa perempuan, ditemukan pula adanya gangguan psikis akan menjadi perawan tua alias ‘tidak laku’ apabila dalam usia yang tergolong tua nanti belum menikah. Hal ini tentu mendorong perempuan untuk segera menemukan ‘jodoh’ dan menikah dengannya. Padahal, keputusannya terlalu prematur bila dilihat dari segi usia.

Sedangkan faktor eksternal merupakan faktor yang memengaruhi keputusan seseorang dari lingkungan sekitarnya. Faktor tersebut meliputi tradisi, konflik/masalah aib, pendidikan orang tua, faktor geografis, ekonomi, agama, media massa. Faktor tradisi atau adat merupakan faktor yang hingga kini terlihat masih berpengaruh terhadap keputusan seseorang untuk menikah. Dalam lingkungan masyarakat masih ditemui tradisi hubungan intim setelah proses tunangan, padahal belum sah secara hukum dan agama.

Tidak hanya itu, budaya ‘tag-tag-an’ menantu alias orang saling menjodohkan anaknya juga masih bisa ditemui. Keputusan semacam ini tentu tak terlepas dari peran orang tua, misalnya bila dilihat dari faktor pendidikannya. Sebab menurut Aryal (2006), pendidikan orang tua dan pendapatannya juga memengaruhi keputusan di usia berapa mereka menikahkan anaknya.

Riyawati (2009) juga menyebutkan bahwa semakin tinggi pendidikan seorang perempuan, maka semakin tinggi kematangan emosionalnya.Demikian halnya dengan faktor geografis, saat ini banyak ditemukan calon pasangan yang Long Distance Relationship (LDR), tentu saja faktor ini menyebabkan gangguan psikis sehingga apabila tidak kuat akan memengaruhi keputusan usia menikah.

Selanjutnya adalah faktor ekonomi. Menurut hasil penelitian UNICEF pada tahun 2005, faktor penentu pernikahan usia dini adalah kemiskinan. Hasil ini ternyata terbukti di Indonesia, dengan menggunakan olah data BPS tahun 2015 tentang data kependudukan didapatkan hasil bahwa korelasi antara jumlah pernikahan di 33 provinsi dan jumlah penduduk miskin adalah sebesar 0,95 pada tahun 2013, dan sebesar 0,94 pada tahun 2014.

Artinya, semakin banyak jumlah penduduk miskin di suatu provinsi, kecenderungan akan terdapat banyak jumlah penduduk yang melangsungkan pernikahan. Terkait hal tersebut, ditemukan pula korelasi yang positif sebesar 0,96 antara jumlah kejadian cerai terhadap jumlah penduduk miskin di 33 provinsi. Artinya, secara kasat mata dapat dikatakan bahwa kondisi ekonomi penduduk mempunyai hubungan yang linier terhadap tingkat perceraian rumah tangga.

Lebih lanjut bila dikaitkan dengan gender dengan indikator Sex Ratio (SR), terdapat korelasi yang negatif sebesar -0,28 antara SR dan jumlah penduduk yang melangsungkan pernikahan. Artinya, semakin banyak proporsi laki-laki di suatu daerah di Indonesia, maka jumlah pernikahan yang terjadi cenderung semakin kecil. Hal ini secara tak langsung menunjukkan bahwa korban pernikahan di Indonesia lebih banyak dialami oleh perempuan.

Terakhir adalah faktor media massa, saat ini media massa menjadi actor utama dalam memengaruhi pikiran seseorang, terlebih soal kapan menikah. Kecenderungan-kecenderungan keputusan nikah usia dini tampaknya lebih disebabkan karena ketidakkuatan psikis atau mental terhadap kondisi lingkungannya sehingga memberikan pertimbangan lebih baik segera menikah daripada terjerumus dalam pergaulan bebas.

Fase Pasca-Nikah

Pada tahapan pasca-nikah ini, strategi membentuk sebuah keluarga yang sejahtera dan harmonis sangat diperlukan. Sebuah pasangan tentunya kembali membuat rencana, yaitu tempat tinggal, jumlah anak, rencana kelahiran anak pertama, pengaturan jarak kelahiran anak, jaminan kesehatan, manajemen finansial keluarga dan jaminan hari tua.

Hal ini dipandang sangat perlu karena dengan perencanaan yang matang, maka eksistensi atau keberlangsungan keluarga akan tetap terjaga. Tidak hanya itu, perencanaan ini juga menentukan risiko masa depan serta beban keluarga mengingat akan adanya buah hati yang kelak akan tiba.
Pada fase inilah, kematangan di dalam menentukan usia ideal menikah dipertaruhkan, sebab, apabila usia pernikahan terlalu dini, tentu mempunyai risiko tidak mampu menopang tanggungan ekonomi anak serta beban merawat anak. Tentu sangat lucu bila seorang anak menggendong anaknya, karena terlalu dini menikah.

Tentu mengherankan bila ditemui seorang yang berkeluarga, namun masih menjadi benalu atau parasite kehidupan orang tuanya, misalnya menyekat rumah orang tua untuk tempat tinggal keluarga. Tentu sangat aneh, bila sebuah keluarga kewalahan dan merepotkan orang tua saat persalinan dan menguruskan administrasi kesehatannya.

Dengan simulasi secara ekonomi saja, pernikahan usia dini begitu rentan mengalami kegagalan di dalam menopang kehidupan berumah tangga. Laki-laki berusia 17 tahun menikah dengan perempuan berusia 16 tahun, kemudian mempunyai anak pertama dengan rentang 2 tahun dari pernikahannya. Maka di usia 24 tahun, si laki-laki harus siap menanggung beban sekolah anaknya.

Belum lagi misalkan di usia itu, ia tidak mempunyai pekerjaan tetap yang jelas. Belum lagi bila jarak kelahiran anak keduanya adalah 3 tahun dari anak pertama, maka ia harus siap menanggung biaya anaknya. Bila anak pertama kelas 3 SMA, anak kedua kelas 3 SMP, biayanya tentu akan terlalu banyak. Restriksi semacam inilah yang harus dipikirkan dan menjadi pertimbangan utama sebelum melangkah ke tahap pernikahan.

Dari keseluruhan pembahasan, maka jelaslah bahwa pernikahan usia dini meski boleh jadi benar secara agama, tetapi tidak baik di dalam rangka membentuk sebuah keluarga yang sejahtera. Usia ideal pernikahan juga menjadi kunci penentu di dalam merealisasikannya, setidaknya di atas 25 tahun bagi laki-laki dan terpaut setidaknya 1 – 4 tahun dengan usia ideal perempuan, yaitu lebih dari 21 tahun. Dengan demikian, proses membentuk sebuah keluarga yang langgeng, kokoh, sejahtera dan bahagia dapat tercapai dengan baik dan lancar.

Sumber Refrensi:

Badan Pusat Statistik (BPS). (2015). Statistik Indonesia 2015. Jakarta: BPS.

BKKBN. (2010). Laporan Riskedas 2010. Jakarta: BKKBN.

Departemen Kesehatan RI. (2011). Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Depkes RI.

Mudhaniva, Inne B dan Purwanto, I.N. (2014). Pengambilan Keputusan Usia Target Menikah Menggunakan Fuzzy AHP-Topsis. Malang: Universitas Brawijaya.

Murcaya, Ardhianto. (2010). Dinamika Psikologis Pengambilan Keputusan untuk Menikah Dini. [Skripsi]. Surakarta: UMS.

Nurpratiwi, Aulia. (2010). Pengaruh Kematangan Emosi dan Usia Saat Menikah Terhadap Kepuasan Pernikahan Pada Dewasa Awal. [Skripsi]. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah.

Qibtiyah, Mariatul. (2014). Faktor Yang Mempengaruhi Perkawinan Muda Perempuan. [Jurnal Biometrika dan Kependudukan]. Surabaya: Universitas Airlangga. Vol. 3. No. 1. hal. 50 – 58.

Zahro, Fatimatuz. (2009). Implikasi Nikah di Bawah Umur Terhadap Hak-Hak Reproduksi Perempuan. [Skripsi]. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah.