Kamis, 27 Juli 2017

Menakar Potensi Usaha Indonesia


Pedagang Bunga, sumber: http://kolom.abatasa.co.id/kolom/detail/nasehat/969/pedagang-yang-jujur.html

Beberapa waktu lalu Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka hasil Sensus Ekonomi tahap listing usaha di Indonesia. Jumlah usaha yang beroperasi di Indonesia per Mei 2016 adalah sebanyak 26,71 juta unit. Banyak sekali bukan?

Dari hasil SE2016, lapangan usaha yang paling dominan di Indonesia adalah perdagangan besar dan eceran; reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor, yaitu 12,23 juta unit. Semua tersebar dari ujung barat ke ujung timur, dari utara ke seletan Indonesia. BPS juga mencatat bahwa daerah yang paling banyak jumlah usahanya masih terpusat di Pulau Jawa, dengan jumlah sebanyak 7.195.726 unit. Sementara itu, daerah yang paling sedikit usahanya jelas, Pulau Maluku dan Papua. Dari sini sebenarnya sudah terlihat bahwa terjadinya ketimpangan ekonomi di Indonesia itu lebih disebabkan oleh ketimpangan jumlah usahanya. Ini kasarannya.

Lalu, saat kita tengok menurut supply tenaga kerjanya, hasilnya juga timpang. Jumlah tenaga kerja terbanyak juga masih berpusat di Jawa dan terkecil juga Papua. Maka daripada itu, perlu kita analisis berdasarkan rasio jumlah usaha terhadap tenaga kerja. Caranya dengan membagi antara jumlah Usaha mikro kecil dan usaha menengah besar terlebih dahulu.

Hasil listing SE2016 ternyata menunjukkan bahwa jumlah UMK sebanyak 12.151.822 dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 20.009.990. Sedangkan jumlah UMB ada sebanyak 180.839 dengan jumlah tenaga kerja 2.359.409 orang. Bila dirasiokan, rata-rata UMK memiliki tenaga kerja sebanyak 1-2 orang dan UMB cuma sebanyak 13-14 orang. Ini mengindikasikan bahwa usaha yang ada di Indonesia sampai sekarang belum strenght dalam menyerap supply tenaga kerja. Selain itu, kemajuan teknologi semakin kapabel menggantikan tenaga manusia dengan mesin dan robot.

Secara geografis, sebetulnya peluang ekonomi di Indonesia dapat merata dengan adanya akses jalan yang memadai. Pemerintah harus menggenjot usaha konstruksi terlebih dahulu sebab, kemajuan infratsruktur pada waktu mampu mengimpuls munculnya usaha baru di sekitarnya. Terlebih lagi, baru-baru ini pemerintah sudah membuka akses jalan trans Sumatera, Kalimantan dan Papua, setidaknya akan membuka peluang bisnis dan investasi lebih sebagai upaya mengurangi ketimpangan ekonomi antar wilayah.

Kebijakan percepatan pembangunan yang terus bergulir dinyakini mampu mendorong terjadinya transmigrasi penduduk. Sebab, dengan strategi inilah pemerataan sumber daya manusia dari aspek kualitas akan menjadi harapan. Di sektor mikro, menggenjot iklim investasi mudah dan murah serta prosedur yang efisien juga bisa diimplementasikan. Apalagi, lapangan usaha lain seperti penyediaan makan minum, industri manufaktur dan transportasi masih besar peluangnya untuk dikembangkan.