Jumat, 28 Juli 2017

Listrik Masih Jadi Tantangan Ekonomi Halmahera Utara


Listrik untuk Kesejahteraan Rakyat, sumber foto:
https://www.infonawacita.com/rumah-ibadah-mau-ubah-daya-listrik-bisa-dapatkan-potongan


Listrik merupakan salah satu komponen utama dalam mendukung aktivitas perekonomian. Tanpa listrik, perekonomian tidak mampu mengalir. Perekonomian akan mati dan menimbulkan dampak kerugian yang sangat besar.

Seiring dengan pertumbuhan penduduk yang meningkat setiap tahunnya, permintaan listrik juga semakin meningkat. Listrik mempunyai peran utama dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, seperti memasak, penerangan di malam hari dan untuk industri. Di Maluku Utara misalnya, pertumbuhan ekonomi tahun 2015 yang mencapai 6,1 persen, pertumbuhan lapangan usaha kelistrikan mencapai 15,18 persen. Meskipun demikian, sumbangan lapangan usaha ini terhadap agregat Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku (PDRB adhb) masih kecil, yakni 0.06 persen saja.

Daya dorong kelistrikan terhadap pertumbuhan ekonomi Maluku Utara nampak besar di tahun 2015, tetapi secara kualitas masih terbilang kecil. Kondisi yang sama juga terlihat di Kabupaten Halmahera Utara (Halut). Pertumbuhan ekonomi Halmahera Utara pada 2015 adalah sebesar 6.41 persen, sedikit lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Malut. Pertumbuhan lapangan usaha kelistrikan juga besar, yakni 11.81 persen. Meski demikian, bila dilihat dari sharenya, lapangan usaha ini hanya memberikan serpihan kecil terhadap kue ekonomi Malut, yaitu 0.05 persen.

Penduduk meningkat, otomatis permintaan terhadap pelayanan listrik dan ketenagalistrikan juga meningkat. Di Halmahera Utara sendiri, fenomena kecilnya sumbangsih kelistrikan cukup logis. Kendatipun di sisi pembangunan konstruksi kelistrikannya terus meningkat, namun dari sisi penambahan kapasitas dan kapabilitas kelistrikan masih sangat kurang. Hampir di semua wilayah Halut seringkali mengalami fluktuasi daya sehingga frekuensi pemadaman listrik begitu tinggi. Di daerah yang dikategorikan perkotaan setiap minggunya paling tidak terjadi pemadaman listrik dua kali dalam waktu yang lama. Juga tidak ada pemberitahuan resmi kapan dan berapa lama pemadaman terjadi. Itu di perkotaan, bagaimana dengan daerah-daerah yang terletak jauh dari perkotaan?.

Soal listrik sebenarnya soal kebutuhan primer untuk saat ini. Di kecamatan Kao Teluk, Halut, kondisi kelistrikan hingga kini masih tergolong parah. Pasalnya, masyarakat Kao Teluk mengeluhkan pemadaman listrik yang sangat lama. Masyarakat Kao Teluk biasanya hanya mampu menikmati listrik pada malam hari. Menurut masyarakat Kao Teluk, acapkali terjadi pemadaman listrik berhari-hari dan tanpa pemberitahuan yang pasti dari pihak terkait. Letak Kao Teluk yang sangat jauh dari pusat pemerintahan menjadikan daerah ini termarjinalkan dari sisi kelistrikan. Ini baru Kao Teluk, daerah Loloda Kepulauan lebih memiriskan lagi.

Sebenarnya pemerintah daerah telah berupaya meningkatkan pelayanan kelistrikan di Halut. Tidak hanya dalam bentuk percepatan pembangunan infrastruktur kelistrikan, namun juga pelayanan listrik masyarakat. Di sepanjang jalan perkotaan pun juga telah ditambah dengan fasilitas panel surya sebagai alternatif menambah kapasitas penerangan di malam hari. Tetapi hal itu tidak serta merta mampu memenuhi kebutuhan listrik seluruh kabupaten.

Dampak Ekonomi Akibat Lumpuhnya Kelistrikan

Listrik menjadi kebutuhan utama pelaku usaha atau industri. Di Halut sendiri, setidaknya terdapat sekitar 30 persen hingga 40 persen industri kecil hingga besar. Kapasitas dan kapabilitas kelistrikan yang begitu kecil menyebabkan frekuensi pemadaman listrik sangat sering. Ini secara langsung berdampak buruk merugikan pelaku usaha, terutama UMKM. Karena adanya pemadaman listrik, biasanya mereka harus menambah biaya untuk membeli minyak gensetnya. Disadari atau tidak, dalam kondisi itu juga menambah beban biaya produksi barang dan jasa. Apabila biaya produksi meningkat, maka tentu berpengaruh pada tingkat harga produsen yang berhilir pada peningkatan harga di tingkat pedagang ke konsumen barang atau jasa.

Seukuran rumah makan saja, kerugian akibat pemadaman listrik sejam bisa mencapai rata-rata 10 persen. Kerugian rata-rata itu belum dikalikan dengan jumlah seluruh rumah makan di Halut yang sekitar 30 persen dari seluruh unit usaha yang ada. Belum lagi kerugian yang dialami oleh perusahaan besar, semisal perusahaan air mineral yang menggunakan daya yang  besar. Pemadaman sejam saja bisa mengakibatkan kerugian jutaan rupiah. Karena pengaruh omset yang besar, maka diperlukan tenaga listrik yang besar pula untuk menghasilkan barang. Apalagi dalam perusahaan berskala besar menggunakan tahapan tak sekaligus untuk menghasilkan barangnya. Lagi dan lagi, perusahaan di daerah dituntut untuk menyiapkan alternatif sumber daya listriknya sendiri. Itu biayanya cukup besar dan pemerintah tidak tahu menahu soal itu.

Dampak karena lemahnya kelistrikan Halut sebetulnya juga dirasakan dalam administrasi pemerintahan. Seringkali kegiatan administrasi pemerintahan terhenti karena listrik mati. Bila demikian maka tentu merugikan bagi pemerintah sendiri dalam proses pelayanan masyarakat. Untuk itu, beberapa upaya alternatif hendaknya diambil untuk mendukung kapasitas dan kapabilitas kelistrikan, misalnya menambah sumber daya listrik yang baru serta memperbanyak jumlah panel surya untuk daerah-daerah yang jauh dari pusat perekonomian dan pemerintahan. Dengan demikian, jelaslah bahwa listrik adalah elemen vital untuk meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi. Tak hanya itu, keterjaminan kelistrikan ke depan menjadi konsekuensi logis untuk ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan pelaku usaha yang pada waktunya mampu menciptakan kesejahteraan.

Artikel ini dimuat di Koran Malut Post