Kamis, 27 Juli 2017

Jumlah Uang Beredar


Uang Pecahan Baru 2017, sumber foto: https://www.google.com/amp/m.viva.co.id/amp/bisnis/860942-bi-batasi-penukaran-uang-baru

Tempo hari saya sempat berdiskusi panjang dengan ibu saya. Diskusi berlangsung ketika ibu saya sedang masak beras, sementara saya asyik meniupi api supaya tetap menyala. Biasa, budaya memasaknya orang desa kan demikian. Saat itu topik yang kita usung adalah soal jumlah uang di Indonesia ini. Ho? Masak? Ya sudah kalau tak percaya, hehe...

Ibu saya lulusan SD. Tapi, kadang beliau melontarkan soal-soal yang kritis kepada saya. "Lee, sebetulnya jumlah duit di Indonesia ini seberapa yo? Bukannya banyak? Kok sepertinya ndak habis-habis. Terus kemana duit yang lama-lama zaman dulu itu?" Menjawab soal seperti ini memang susah. Tetapi baiklah, saat itu kucoba jelaskan kepadanya soal jumlahnya uang itu bagaimana.

Sebetulnya, jumlah uang di Indonesia ini tetap. Tidak bertambah, tidak pula berkurang. Jadi begini, ketika harga barang naik, risiko orang pegang uang kan tinggi. Nah, mediator keuangan seperti bank itu akan menaikkan suku bunga tabungan. Orang akan berpikir, "wah ketimbang uang saya nilainya rendah, mending saya tabung saja di bank, toh bunga tabungan besar." Orang merasa aman untuk memilih simpan uang di bank untuk menghindari risiko tadi. Tidak hanya di pasar, di bank uang beredar masuk banyak. Aktivitas saving bertambah saat itu. Sebaliknya, saat harga barang sudah stabil atau turun, orang merasa uang yang tadinya merasa berisiko pegang uang, menjadi tidak lagi.

Karena apa yang dibutuhkannya dapat ia beli. Saat itulah daya belinya naik sehingga uang yang tadinya di bank ia ambil kembali. Menanggapi hal ini, bank akan menurunkan bunga menabung. Lah, saat harga naik kan orang cenderung menabung, uang setor ke bank. Saat itulah, bank menarik uang-uang yang sudah lama, rusak tapi laku, untuk dihancurkan dan diganti dengan pecahan uang baru atau sejenis tapi yang sudah bagus. Jadi jumlah uang yang diedarkan kembali ke masyarakat tetap.

Seusai menjelaskan hal tersebut, ibu saya menjawab, "oh begitu, tak kira bisa berkurang diambil tuyul."