Kamis, 27 Juli 2017

Inflasi, Siapa yang Menikmati?


Inflasi Mengurangi Daya Beli Masyarakat, sumber foto: https://www.google.com/amp/s/ekbis.sindonews.com/newsread/1034731/33/bi-inflasi-indonesia-tertinggi-di-asean-1439977834

Di kalangan ibu-ibu, kalau sedang kumpul, bicara soal harga sembako tak ada habisnya. Lama...seperti kereta api. Kalau inflasi terjadi, mereka semua mengeluhkan harga cabai mahal, bawang mahal, daging mahal, beras mahal, sampai harga tas yang dipakai pun katanya mahal. Duh, ibu-ibu.

Inflasi memang merupakan konsekuensi logis adanya instabilitas harga di pasar. Adanya ketidakseimbangan antara permintaan (demand) dan penawaran (supply). Inflasi menjadi kenyataan pahit, apalagi bila ibu-ibu belum diberi uang suaminya. Meski, jalan keluar satu-satunya adalah utang tetangga sebelahnya, tetap saja akibat inflasi, daya belinya menurun. Kalau sebelumnya dengan Rp. 6.000,- ia dapatkan sekotak teh, maka saat inflasi, dengan uang sebesar itu ia hanya mampu beli sesachet teh. Sungguh miris kan?

Inflasi memang bagi ibu-ibu rasanya pahit. Tapi, jangan salah, ada loh pihak-pihak yang justru merasakan nikmatnya inflasi. Siapa saja mereka? Ya, tengkulak/penimbun dan importir.
Tengkulak/penimbun. Wah, cerdik mereka. Meski cara usahanya tak baik. Tapi inflasi memicunya untuk menimbun komoditas yang strategis. Yaitu komoditas yang punya volatilitas tinggi terhadap harga pasar. Saat harga turun, mereka beli dan mereka timbun. Saat inflasi, mereka jual semua. Dari segi untung juga drastis lah.

Kemudian importir. Enak nih mereka, saat terjadi inflasi kan harga di Indonesia naik nih. Nah, itu jadi momen bagus untuk mereka jual komoditas luar negeri di Indonesia. Meski restriksinya, perlu dilihat dulu komoditas impor mana yang menyumbang inflasi terbesar dan berpotensi meraup keuntungan baginya.

Wah, ternyata inflasi ada pula ya manfaatnya...