Kamis, 27 Juli 2017

Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi

Kenaikan harga-harga secara relatif atas suatu barang jasa selama periode tertentu di suatu wilayah mengindikasikan terjadinya inflasi. Saat harga-harga naik, secara otomatis menambah ongkos produksi. Aktivitas perekonomian memang terus berputar. Tapi tersendat. Tak selancar ketika harga stabil.

Inflasi memang memengaruhi pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi secara gampangnya didefinisikan sebagai tumbuhnya total Nilai Tambah Bruto (NTB) seluruh sektor ekonomi di suatu wilayah. Dalam perhitungannya, NTB itu sama dengan Output/nilai produk yang dihasilkan dikurangi dengan biaya antara.

Saat terjadi inflasi, biaya antara ini membenkak dan berakibat rendahnya NTB yang dihasilkan. Di waktu NTB rendah maka pertumbuhannya tentu akan tertekan. Memang sih, bila inflasi masih < 10%, pertumbuhan ekonomi juga relatif baik dari segi kualitasnya. Selain itu, inflasi mengubah dirinya sebagai motivator bagi pelaku usaha untuk meningkatkan produknya.

Namun sebaliknya, bila inflasi > 10%, ongkos produksi dan margin perdagangan akan membesar sehingga membuah pelaku usaha mengetuk keningnya karena pusing, hehe. Sebagai contoh krisis ekonomi 97/98, inflasi yang hyper atau terlampau tinggi mengakibatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia minus. Rupiah saat itu tak lebih sekadar dedaunan yang masih sah sebagai instrumen pembayaran.