Kamis, 27 Juli 2017

Inflasi dan Kebijakan Pedagang

Bapak saya yang seorang petani tiba-tiba kaget. Ya, namanya saja rakyat cilik, kalau ada satu barang, terlebih bahan kebutuhan pokok naik, sontak lah begitu sangat terasa. Masyarakat petani di desa memang memiliki beragam pilihan untuk mensubstitusi kebutuhan mereka ketika terjadi kelangkaan atau kenaikan harga. Tapi, ada saja dampak yang dirasakan.

Saat menyimak pemberitaan harga apel melambung tinggi. Bapak saya malah ketir-ketir, pasalnya harga pupuk tanaman apel di pasaran serta herbisida ternyata malah ikutan naik. Rupanya pedagang benar-benar cerdik dalam menyium aroma harga apel yang tinggi.

Dalam pembahasan soal inflasi, ada hal yang sebenarnya menjadi kunci kebijakan. Ketika inflasi, tentu seseorang tidak lantas menyimpulkan oh semua barang naik, jafi saya harus menaikkan harga dagangan saya. Bukan. Namun, saat inflasi terjadi, kita perlu melihat apa komoditas yang menyumbang inflasi itu tinggi. Tentu keputusan pedagang naikkan harga pupuk dan obat apel tepat, bila yang menyebabkan inflasi adalah kelangkaan dari pupuk atau obat apel. Atau mungkin komoditas lain semisal BBM yang menyangkut margin perdagangan pupuk dan obat apel.

Sebaliknya justru tidak tepat, bila yang menshare inflasi terbesar adalah kelangkaan (scarcity) cabai rawit, malah pedagang menaikkan harga jual semua barang dagangannya termasuk pupuk dan obat apel. Ketidaktepatan ini sering sekali terjadi dalam perekonomian. Inflasi seakan menjadi fenomena mengerikan dan berisiko besar terhadap seluruh komoditas. Padahal tidak juga. Kan tadi, dilihat dulu, komoditas apa yang menshare angka inflasi menjadi tinggi.

Kalau saja pedagang mengerti bagaimana menanggapi inflasi. Tentu wajah bapak saya tidak akan cemberut waktu itu. Tapi tak apalah, yang penting tetap terus berusaha bertani, menanam terus. Sebab dalilnya jelas kok, "siapa menanam, dia lah yang memanen." Asalkan bukan menanam utang saja, ekonomi keluarga bakal terjamin, hehe...