Kamis, 27 Juli 2017

Gagal Tolak Hipotesis Null, Penelitian Gagal?

Sebagaimana ulasan sebelumnya, hipotesis merupakan pijakan awal diadakannya sebuah penelitian. Ada anggapan bahwa penelitian itu ada karena ketidakpercayaan terhadap hipotesis tertentu. Asumsi dasarnya, kita tak percaya bahwa biaya iklan tidak memberi pengaruh terhadap volume penjualan.

Apabila penelitian diadakan sebagai wujud keinginan untuk menolak hipotesis awal (Ho), apakah bila gagal menolak, lantas dikatakan penelitian yang kita lakukan gagal?.

Tidak. Penelitian kita tidak tepat jika dikatakan gagal. Kegagalan dalam menolak hipotesis awal sejatinya menghasilkan suatu analisis baru, termasuk keberhasilkan penelitian dalam mendukung kekuatan hipotesis awal itu. Bila hipotesis awal menyatakan bahwa tidak ada hubungan linier antara biaya iklan dan volume penjualan, maka error term dapat digunakan sebagai variabel non-deterministik tentang fenomena yang terjadi. Ketidaknormalan pengaruh kedua variabel itu juga menerangkan seberapa besar potensi yang belum kita gunakan di dalam model ekonometris.

Anggapan bahwa penelitian "gagal" ketika gagal menolak hipotesis awal juga perlu dibawa pada konteks uji hipotesis. Bila uji hipotesisnya tentang uji asumsi, sudah seharusnya menerima hipotesis awal (gagal menolak). Bila dibawa pada konteks uji pengaruh antara variabel biaya iklan dan volume penjualan, maka umumnya menolak hipotesis awalnya.

Saat dalam model, biaya iklan tidak signifikan memengaruhi volume penjualan (gagal menolak hipotesis awal), terdapat beberapa kemungkinan. Pertama, kurangnya jumlah sampel yang kita gunakan. Semakin kecil ukuran sampel, maka semakin kecil informasi variabel yang kita dapatkan, membuat kemungkinan semakin kecilnya sampel "menerangkan" karakteristik populasi yang sebenarnya. Tipologi populasi target hendaknya diketahui, relatif homogen atau homogen. Ukuran sampel tentunya lebih besar bila populasi targetnya relatif heterogen.

Kedua, kurang mampunya variabel bebas menjelaskan proporsi keragaman variabel terikatnya. Meski secara teori biaya iklan memberi pengaruh positif terhadap volume penjualan, namun biaya iklan pada realitanya justru belum mampu menjelaskan aspek perikalanan itu sendiri. Untuk itu, kita memerlukan variabel lain sebagai variabel yang menjadi ukuran periklanan. Kita juga bisa menetapkan indikator tertentu yang menjadi ukuran iklan itu, misalnya frekuensi promosi kepada konsumen.

Kemungkinan ketiga adalah perbedaan waktu, lingkungan, terutama secara geografis. Konfirgurasi model ekonometris yang kita dapatkan bisa sesuai dengan teori jika dalam melaksanakan pengumpulan informasi atau data di waktu yang tepat. Model ekonometris antara biaya iklan terhadap volume penjualan akan tepat bila informasi lapangan kita peroleh saat cuaca cerah. Model ekonometris dapat berbeda bila informasi yang diperoleh pada saat musim hujan.

Lingkungan pun secara geografis juga memiliki pengaruh terhadap model ekonometris yang terbentuk. Variabel biaya iklan bisa berpengaruh positif terhadap volume penjualan ketika penelitian dilkakukan di Indonesia. Namun, tidak berpengaruh ketika penelitian yang sama dilakukan di negara Eropa.

Dengan demikian, kegagalan penelitian bukanlah ditinjau dari kegagalan dalam uji hipotesis. Tetapi, secara jeli hendaknya dibawa pada konteksnya serta bagaimana peneliti mampu menjelaskan fenomena eksternal apa yang memengaruhi model ekonometrisnya.