Kamis, 27 Juli 2017

Cara Menipu Inflasi

Inflasi begitu membuat gusar pedagang kaki lima, pedagang gorengan hingga pengusaha mobil dan rumah makan. Kalau ia sampai muncul, semua pihak bergumam secara berjamaah. Padahal, aslinya sih inflasi itu dapat dihindari atau diminimalisir. Istilah plesetannya ya...ditipu lah, hehe.

Kali ini inflasi kita kaitkan dengan kebijakan otoritas keuangan yang biasa kita sebut bank. Katanya sih bank itu brangkasnya uang. Kata siapa?. Bank itu bukan tempatnya uang, bank itu cuma lembaga mediasi antara pihak yang kelebihan uang (surplus) ke pihak yang kekurangan uang (defisit).

Sederhananya, bank itu cuma perantara orang punya uang menyimpan uangnya untuk dipinjamkan ke orang lain yang butuh uang.

Saat terjadi inflasi, uang kan terasa "panas" tuh, penuh risiko. Pada saat itulah, bank memancing pihak surplus untuk menabung uangnya di bank. Iming-imingnya sih lagu lama, "yuk ditabung saja, kita punya bunga besar lho, yang bisa melindungi nilai riil uangnya di masa depan," kata bank sambil melambaikan tangan.

Suku bunga lah yang menjadi instrumen jitu bank untuk menarik pihak surplus tadi. Suku bunga seolah menjadi "bonus" sekaligus protektor lapisan nilai riil uang sehingga terjamin dan aman. Suku bunga otomatis meningkatkan aktivitas saving pihak surplus karena inflasi. Suku bunga naik, jumlah penabung naik. Perlu diketahui, suku bunga yang dimaksudkan adalah suku bunga tabungan ya...beda dengan suku bunga pinjaman. Saat inflasi, agar uang beredar kembali stabil, orang meminjam justru dipersulit, caranya dengan menaikkan suku bunga pinjaman. Orang bakal pikir-pikir, "wah, saya mau pinjam tapi bunga tinggi." Tendensi meminjam menjadi rendah.

Dari sini terlihat, bahwa inflasi itu dapat "ditipu" oleh bank. Dengan demikian yang awalnya jumlah uang beredar banyak pada waktunya akan kembali normal dan memicu harga-harga kembali stabil.