Kamis, 27 Juli 2017

Apa Itu Estimasi, Peramalan dan Proyeksi?

Bahasa begitu memegang peranan penting di dalam distribusi ilmu pengetahuan. Eksistensi bahasa dan ragamnya mampu mentransfer satu ilmu antar manusia dengan instrumen tatabahasa dan istilah yang disepakati secara umum. Alih bahasa pun demikian, ia menempatkan diri sebagai sentrum bahasa dan sebagai integral transfer istilah hingga sampai kepada pemahaman bahkan hidayah bagi manusia.

Di dalam bahasan kita mengenai ekonometrika, terdapat sedikitnya 3 istilah atau kosakata yang banyak digunakan, namun sedikit banyak menimbulkan kerancuan ilmu ekonometrika itu sendiri. Tiga istilah atau kosakata itu adalah estimasi, peramalan dan proyeksi. Kita tentu sering menggunakan ketiganya di dalam penulisan yang berhubungan dengan fenomena ekonomi, matematik dan statistika. Kendati demikian, kerancuan penggunaan ketiga istilah ini justru menjadi kebiasaan yang umum. Tak hanya dalam penulisan ilmiah atau non-ilmiah, tetapi dari segi rule bahasa dinilai "berbahaya" dan kelak justru menimbulkan masalah.

Kita berangkat dari Kamus Besar Bahasa Indonesia yang terbaru. Estimasi didefinisikan sebagai perkiraan. Sementara perkiraan sendiri dalam konteks bahasa merupakan hasil mengira sesuatu sesuai dengan perasaan, bersifat non-ilmiah dan tanpa perhitungan matematis. Sedikit berbeda ketika kita memakai taksiran, taksiran dimaknai sebagai perhitungan yang kasar. Artinya, konteks ini menjelaskan kepada kita bahwa taksiran meskipun masih tergolong perkiraan dan melibatkan perasaan, namun dengan perhitungan. Sedangkan estimasi di dalam konteks ekonometrik dipandang sebagai satu titik hasil perhitungan. Dari sini, kita jelas mendapatkan taksiran relatif lebih relevan digunakan sebagai arti lain dari estimasi.

Sedikit berbeda dengan peramalan. Kita sering menggunakan istilah peramalan di dalam konteks ekonometrika. Tak dapat dipungkiri bahwa dalam bahasa Inggris, forcasting sering kita gunakan. Tetapi, bila kita tinjau ulang menurut kebahasan Indonesia, peramalan itu merupakan suatu proses meramal sesuatu dengan menggunakan ilmu non-ilmiah. Hingga kini, istilah forcasting dalam konteks ekonometrika masih belum relevan bila ditransfer ke tatabahasa Indonesia sebagai peramalan. Konteks peramalan masih tidak murni sebagai hasil perhitungan secara matematis, ia masih mengandung unsur non-ilmiah dan tentu diperlukan revisi sedemikian rupa sehingga lebih jelas. Murni sebagai hasil hitungan. Sebab, konsep ekonometrika selalu dihubungkan dengan perhitungan matematis dengan tool statistik sebagai modelnya. Melihat konteks ini, ada semacam pandangan bahwa konsep dan definisi forcasting dimaknai sebagai taksiran waktu mendatang.

Proyeksi juga demikian, diidentikkan dengan peramalan dan estimasi. Padahal dari segi bahasa, maknanya beda. Menurut KBBI, proyeksi itu dimaknai sebagai perhitungan matematis atas suatu hal pada waktu yang akan datang dengan menggunakan informasi yang lampu hingga saat ini. Kerancuan proyeksi terlihat nampak bila disandingkan dengan forcasting. Sebab, ekonometrika umumnya melakukan pemodelan statistik untuk menentukan kondisi yang akan datang dengan data atau informasi masa lalu. Kesamaan ini banyak kita temukan di dalam literatur-literatur yang sesungguhnya menjadi masalah serius transformasi satu bahasa ke dalam bahasa yang lain. Dalam konteks geometrika sendiri, proyeksi sebuah garis dengan panjang tertentu pada satu bidang menghasilkan garis yang lebih pendek, sama atau bahkan lebih panjang.

Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa proyeksi adalah perhitungan matematis kondisi tertentu dengan mempertimbangkan sudut pandang kita. Bila sudut pandang kita ke depan terlalu besar dari acuan kita, maka proyeksi kita terhadap sesuatu yang akan terjadi semakin pendek. Demikian sebaliknya, jika sudut pandang kita kecil terhadap realita model ekonometrika (ideal), maka akan menghasilkan proyeksi terhadap sesuatu yang akan terjadi di masa depan akan panjang (jauh). Sudut pandang inilah yang di dalam konteks ekonometrika dapat disebut sebagai error term.