Minggu, 16 Februari 2020

Try Out Nasional Online SKD CPNS (TKP) USM Polstat STIS 2020

TONAS USM STIS 2020 2021 2022
Try Out Nasional (TONAS) SKD CPNS: TKP USM Polstat STIS 2020
Selamat pagi teman-teman peserta Try Out Nasional (TONAS) Online Mini 7 USM Polstat STIS 2020. Apa kabar kalian? Semoga masih bersemangat belajar dan siap menuju USM Polstat STIS 2020 sekitar bulan Mei 2020 mendatang.

Minggu lalu kita telah menyelesaikan TO Mini 6 2020. Sebagai bahan evaluasi bersama, ada sebanyak 383 peserta yang berhasil submit atau mengumpulkan Lembar Jawaban kepada admin ngobrolstatistik.com. TONAS kali ini rupanya yang paling banyak sepanjang program TONAS Online bergulir. Kali ini, admin menyediakan sebanyak 3 slot grup WA yang berfungsi untuk menampung peserta yang pengin ikutan TONAS SKD CPNS USM Polstat STIS 2020. Oh iya, sekadar memberi informasi bahwa TONAS kali ini merupakan TONAS untuk USM Polstat STIS 2020 Tahap II, yaitu Tes Karakteristik Pribadi (TKP) dengan jumlah soal sebanyak 35 soal pilihan ganda.

Lembar jawaban peserta telah disediakan dalam bentuk form sehingga peserta dapat mengumpulkan jawaban dengan cara mengklik submit pada form yang tertera di bawah form soal. Untuk menjadi perhatian peserta, form lembar jawaban peserta hanya bisa diisi dan dikumpulkan sekali saja, maka perlu hati-hati dalam menggunakan form lembar jawaban.

TO Mini bersifat GRATIS tanpa dipungut biaya serupiah pun, jadi hati-hati penipuan yang berkedok TO online USM STIS yang mengatasnamakan ngobrolstatistik.com. Adapun waktu pengerjaan TO Mini ini adalah bebas jamnya berapa, jadi teman-teman peserta bebas menentukan sendiri kapan dimulai, yang jelas waktu pengumpulan Lembar Jawaban TO Mini 7 adalah tanggal 16 Februari 2020 jam 23.59 WIB.

Demikian sedikit pengantar dari admin, untuk password TO Mini 7 akan dibagikan admin di grup WA peserta. Terima kasih dan selamat mengerjakan, semoga kalian sukses Lolos USM Polstat STIS 2020/2021 nanti.

Bagi peserta yang bertanya, silakan chat WA admin: 081244019483




Lembar Jawaban Peserta (Pengumpulan maksimal tanggal 16 Februari 2020 maksimal jam 23.59 WIB)

 

Senin, 10 Februari 2020

Pengumuman Hasil Try Out Nasional Mini SKD CPNS USM Polstat STIS 2020

USM STIS 2020 2021 2022
Pengumuman TO Mini SKD CPNS USM Polstat STIS Tahap II
Selamat sore teman-teman, bagaimana try out nasionalnya kemarin? Jangan lupa ya bahwa dalam beberapa hari lagi di sini akan ada lagi TO Nasional Online SKD CPNS edisi TKP atau Tes Karakteristik Pribadi. Kalau kemarin yang telah kita lakukan adalah TWK dan TIU dengan standar atau ambang batas sesuai dengan Permenpan RB terbaru untuk TWK minimal dapat nilai 65 dan TIU minimal dapat nilai 80.

Kriteria seorang peserta dikatakan LULUS jika dua-duanya memenuhi nilai ambang batas. Sebaliknya, jika salah satu atau keduanya kurang dari ambang batas, maka dinyatakan TIDAK LULUS.

Untuk diketahui bahwa jumlah peserta yang mengikuti Try Out Nasional (TONAS) online SKD CPNS USM Polstat STIS 2020 edisi TWK TIU kemarin adalah sebanyak 283 peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Beruntung bagi teman-teman yang ikut karena kalian setidaknya mencoba mengetahui seberapa besar daya saing teman-teman terhadap yang lain.

Dalam pelaksanaan TONAS kemarin memang tak lepas dari gangguan, khususnya jaringan internet, kebanyakan histori pencarian dan sebagainya. Terlepas dari itu semua, admin mengucapkan terima kasih atas antusias teman-teman semua peserta mengikuti TONAS SKD CPNS kali ini. Tak lupa, dalam kesempatan baik ini, admin mengucapkan selamat kepada 2 peserta dengan nilai tertinggi dan LULUS dalam TONAS SKD CPNS kali ini, yaitu dek Intan Nur Maulida Rahmah dari MA Arrahmah, Provinsi Jawa Timur dengan total nilai 260 dan LULUS, serta dek Puteri Mariyani, dari SMAN 1 Kedungwaru Provinsi Jawa Timur dengan total nilai yang sama, 260 dan LULUS.

Demikian sedikit pengantar pengumuman kali ini. Nantikan program TONAS online selanjutnya di ngobrolstatistik.com.

Apa yang kalian raih adalah apa yang kalian usahakan.


Sabtu, 08 Februari 2020

Try Out Nasional (TONAS) Online SKD CPNS Mini Polstat STIS 2020

TONAS SKD CPNS USM POLSTAT STIS TRY OUT 2020 2021 2022 2023 2024
Try Out Nasional (TONAS) Online SKD CPNS Mini USM Polstat STIS 2020

Selamat pagi teman-teman peserta Try Out Nasional (TONAS) Online Mini 6 USM Polstat STIS 2020 (USM STIS). Apa kabar kalian? Semoga masih bersemangat belajar dan lebih siap menuju USM Polstat STIS 2020 sekitar bulan Mei 2020 mendatang.

Pada minggu lalu kita telah menyelesaikan TO Mini 5 2020. Sebagai bahan evaluasi bersama, dari sekitar 300 member grup WA peserta, ada sebanyak 169 peserta yang berhasil submit atau mengumpulkan Lembar Jawaban kepada admin ngobrolstatistik.com. Kali ini, admin menyediakan sebanyak 3 slot grup WA yang berfungsi untuk menampung peserta yang pengin ikutan TONAS SKD CPNS USM Polstat STIS 2020. Oh iya, sekadar memberi informasi bahwa TONAS kali ini merupakan TONAS untuk USM Polstat STIS 2020 Tahap II. TONAS SKD CPNS 2020 kali ini akan kita bagi menjadi 2 tahapan TONAS, yang pertama TONAS SKD CPNS tanggal 8-9 Februari 2020, itu terdiri atas subtes Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) dan Tes Inteligensi Umum (TIU), tahap berikutnya akan kita lakukan TONAS SKD CPNS subtes Tes Karakteristik Pribadi (TKP).

Sebagaimana biasanya, dalam TO Mini 6 ini, admin menyediakan sebanyak 30 soal TWK dan 35 soal TIU multiple choice bagi peserta. Lembar jawaban peserta telah disediakan dalam bentuk form sehingga peserta dapat mengumpulkan jawaban dengan cara mengklik submit pada form yang tertera di bawah form soal. Untuk menjadi perhatian peserta, form lembar jawaban peserta hanya bisa diisi dan dikumpulkan sekali saja, maka perlu hati-hati dalam menggunakan form lembar jawaban.

TO Mini bersifat GRATIS tanpa dipungut biaya serupiah pun, jadi hati-hati penipuan yang berkedok TO online USM STIS yang mengatasnamakan ngobrolstatistik.com. Adapun waktu pengerjaan TO Mini ini adalah bebas jamnya berapa, jadi teman-teman peserta bebas menentukan sendiri kapan dimulai, yang jelas waktu pengumpulan Lembar Jawaban TO Mini 6 adalah tanggal 25 Januari 2020 jam 10.00 WIB - 26 Januari 2020 jam 23.59 WIB.

Demikian sedikit pengantar dari admin, untuk password TO Mini 6 akan dibagikan admin di grup WA peserta. Terima kasih dan selamat mengerjakan, semoga kalian sukses Lolos USM Polstat STIS 2020/2021 nanti.

Bagi peserta yang bertanya, silakan chat WA admin: 081244019483



Lembar Jawaban Peserta (Pengumpulan maksimal tanggal 9 Februari 2020 jam 23.59 WIB)

 

Senin, 27 Januari 2020

Pengumuman Hasil Try Out Nasional (TONAS) Mini 5 USM Polstat STIS 2020

Polstat STIS 2020 2021 2022 2023 2024
Pengumuman Hasil Try Out Mini 5

Selamat pagi teman-teman semua. Masih tetap semangat kan belajarnya. Kita kemarin sudah melaksanakan TONAS Mini ke-5 USM Polstat STIS 2020/2021. Dari sekitar 300 peserta, ada sebanyak 191 peserta yang ikut serta dan sudah mengirimkan jawabannya sesuai peraturan. Bagi yang belum tercantum nilainya, berarti ada banyak faktor sehingga tidak dapat admin hitung dan tampilkan hasilnya.

By the way, yang ikut juga berasal dari berbagai daerah di Indonesia lho. Jadi, rugi kalau yang belum ikutan, setidaknya dari sini bisa kita petakan mengenai persaingan dalam USM Polstat STIS yang akan dilaksanakan kira-kira bulan Mei 2020 nanti.

Dalam kesempatkan ini, admin ngobrolstatistik.com dan grup WA pejuang USM Polstat STIS 2020 mengucapkan selama kepada 3 orang yang nilainya sempurna, ada dek Imam Dhaifullah dari Bengkulu, ada dek Faridatul Ulfa dari Jawa Timur, dan dek Ni Putu Natasya Priya Sintha Wijaya juga dari Jawa Timur. Sepertinya 3 peserta ini sudah matang persiapannya, tinggal tempur saja dalam ajang USM Polstat STIS 2020 nanti.

Semoga teman-teman yang lain juga sudah mempersiapkan diri secara matang ya, ingat bahwa dalam USM Polstat STIS tidak ada namanya "beli" bangku, atau bayar orang dalam, semua tahapan clean murni dari tes kemampuan teman-teman. Makanya persiapkan dengan baik dan jangan malas-malasan melulu, ke depan akan ada lagi TONAS yang admin selenggarakan lho, yaitu TONAS SKD CPNS USM Polstat STIS tahap II 2020. So, keep stay tune on this blog.


Sabtu, 25 Januari 2020

Try Out Nasional (TONAS) Online Mini 5 Polstat STIS 2020

USM STIS 2020 2021 2022 2023
Try Out Nasional (TONAS) Mini 5 USM Polstat STIS 2020
Selamat pagi teman-teman peserta Try Out Nasional (TONAS) Online Mini 5 USM Polstat STIS 2020 (USM STIS). Apa kabar kalian? Semoga tetap sehat dan masih semangat untuk mempersiapkan diri menuju USM Polstat STIS 2020 sekitar bulan Mei 2020 nanti ya.

Pada minggu sebelumnya kita telah menyelesaikan TO Mini 4 2020. Sebagai bahan evaluasi bersama, dari 2 grup WA yang penuh membernya, ternyata yang benar-benar ikutan TO Mini hanya sekitar 169 peserta saja atau cuma separuh dari satu grup WA. Hal ini berarti admin akan memperketat calon peserta mulai TO Mini 5 kali ini.

Sebagaimana biasanya, dalam TO Mini 5 ini, admin menyediakan sebanyak 10 soal multiple choice bagi peserta. Lembar jawaban peserta telah disediakan dalam bentuk form sehingga peserta dapat mengumpulkan jawaban dengan cara mengklik submit pada form yang tertera di bawah form soal. Untuk menjadi perhatian peserta, form lembar jawaban peserta hanya bisa diisi dan dikumpulkan sekali saja, maka perlu hati-hati dalam menggunakan form lembar jawaban.

TO Mini bersifat GRATIS tanpa dipungut biaya serupiah pun, jadi hati-hati penipuan yang berkedok TO online USM STIS yang mengatasnamakan ngobrolstatistik.com. Adapun waktu pengerjaan TO Mini ini adalah bebas jamnya berapa, jadi teman-teman peserta bebas menentukan sendiri kapan dimulai, yang jelas waktu pengumpulan Lembar Jawaban TO Mini 5 adalah tanggal 25 Januari 2020 jam 10.00 WIB - 26 Januari 2020 jam 23.59 WIB.

Demikian sedikit pengantar dari admin, untuk password TO Mini 5 akan dibagikan admin di grup WA peserta. Terima kasih dan selamat mengerjakan, semoga kalian sukses Lolos USM Polstat STIS 2020/2021 nanti.

 





Senin, 06 Januari 2020

Try Out Nasional (TONAS) Online Mini 4 Polstat STIS 2020

Try Out Nasional Online STIS Polstat STIS 2020 2021 2022
Selamat datang peserta TO Online Mini 4 - 2020

Hai teman-teman, apa kabar kalian semua, semoga tetap baik dan sehat wal afiat ya. Beberapa hari lalu kita telah melaksanakan Try Out Nasional (TONAS) Online USM Polstat STIS premium (berbayar), semoga yang ikutan dapat menjadi lebih semangat lagi untuk mempersiapkan diri menuju USM Polstat STIS 2020 nanti.

Kali ini, ngobrolstatistik.com kita bersama akan melaksanakan TONAS Online Mini lagi nih, ya benar, TO ini bersifat GRATIS!. TONAS Mini ini hanya terdiri atas 10 soal Matematika IPA (sebagaimana soal USM Polstat STIS pada tahap I setiap tahunnya). Mekanismenya seperti biasa ya teman-teman, jadi TO ini dilakukan semi online, yaitu dengan menuliskan jawaban kalian pada FORM PESERTA dengan aturan menjawab dari atas ke bawah 1-10 (admin bagikan di grup WA peserta), kemudian mengumpulkan jawaban kalian dengan mengirimkannya melalui email admin blog ini: 09.6016@stis.ac.id, dengan identitas word pada pojok kanan atas, NAMA LENGKAP/ASAL SMA/PROVINSI, dan subyek email: TO Mini 4.

TONAS Mini ini kita laksanakan pada hari Sabtu-Minggu, 11-12 Januari 2020. Maksimal pengumpulan jawaban teman-teman adalah tanggal 12 Januari 2020 jam 23.59 WIB. Email yang masuk di luar range waktu tersebut tidak akan masuk dalam penilaian admin. Semoga teman-teman LOLOS USM POLSTAT STIS 2020/2021 nanti ya, tetap semangat belajar dan jangan lupa terus berdoa. Berikut admin berikan soal TONAS Online Mini 4-2020. Selamat mengerjakan!

Catatan: kunci jawaban akan admin berikan melalui grup WA peserta TO Mini 4.



Sabtu, 30 November 2019

Memotret Nasib Petani Tembakau Sumenep Madura

Tembakau
Petani Tembakau
Sumenep terkenal dengan produksi tembakaunya yang melimpah. Hampir setiap penduduk menanam tembakau di lahannya. Katanya sih, kalau tidak menanam tembakau seolah dalam kehidupannya ada yang kurang. Jadi, meski sedikit, adalah puluhan sampai ratusan pohon tembakau yang mereka tanam. Tembakau di area Sumenep secara ketinggian tanah terbagi menjadi tiga, tembakau sawah, tembakau tegalan, dan tembakau gunung. 

Menurut kebanyakan petani, tembakau yang biasanya paling tinggi peminatnya adalah jenis tembakau gunung. Tembakau jenis ini dari sisi aromanya harum dan teksturnya juga relatif halus. Dari sisi harganya juga paling mahal dibandingkan tembakau sawah dan tegalan. Hal yang tak kalah penting dari komoditas ini adalah prosesnya sehingga menjadi bahan baku pembuatan rokok. Di tengah pangsa pasar akhir-akhir ini yang lesuh, petani tembakau di Sumenep tetap bertahan dengan memaksakan diri untuk merugi-rugi ria dengan menanam tembakau. Seolah bertani tembakau menjadi hobi, meski risiko usaha komoditas ini terbilang tinggi. 

Pantas saja, apabila salah teknik mulai dari pemetikan daun tembakau saja, perusahaan rokok tidak berminat untuk membeli. Katanya kualitasnya berkurang. Padahal, menurut petani, setiap perusahaan rokok punya kualifikasi masing-masing terhadap tembakau yang ditawarkan petani. Ada perusahaan yang menyukai daun bagian bawah pada batang, ada yang suka order daun bagian tengah, ada pula yang justru lebih demen daun bagian atas. 

Hakikatnya justru daun bagian tengah pohon tembakau yang punya kualitas paling baik untuk meracik rokok. Dari sisi pemasaran, tembakau Sumenep banyak diserap perusahaan rokok Djarum, Sampoerna, Wismilak, dan Gudang Garam Surya. Biasanya, permintaan mereka mencapai 200 ton dalam sekali angkut. Tahun 2018 saja, petani tembakau bahkan tidak melakukan penyetokan karena ludes diserap perusahaan. Harganya pun masih menggembirakan saat itu, rata-rata sekilo dihargai sampai 45.000. 

Tapi, tahun 2019 rupanya tak lagi menguntungkan. Harga tembakau di tingkat petani anjlok hingga Rp. 30.000 per kilogramnya. Padahal, ongkos usahanya melebihi dari apa yang mereka dapatkan. Menjadi petani tembakau ternyata tak segampang yang saya bayangkan. Proses mengolah daun tembakau butuh pengalaman dan teknik yang dilakukan secara hati-hati dan teliti. 

Pembibitan tembakau dilakukan dengan cara tunas pada sebidang tanah, setelah dewasa dipindahkan ke lahan yang lebih luas. Setelah dewasa, daundaun tembakau yang tumbuh dibedakan dalam tiga posisi, daun bawah, daun tengah, dan daun bagian atas (dekat kuncup atau bunga). 

Normalnya, dalam setahun, petani tembakau panen paling banyak 3 kali. Kondisi normal panen ini mereka alami sejak 2010, di mana saat itu harga per kilogram daun tembakau Sumenep masih tembus hingga Rp. 95.000. Hingga tahun 2018 kemarin, harga tembakau di tingkat petani yang kian menurun, membuat petani tak lagi mengikuti sistem panen menurut posisi daun. Saat ada permintaan dari perusahaan rokok, ya sudah, mereka langsung memanennya sekaligus. 

Rupanya, biaya perawatan tanam yang tinggi membuat petani tak mampu berlama-lama menunggu panen menurut posisi daun. Di tambah dengan risiko perajangan dan pengepakan, mereka ikhlas merugi bahkan hingga berujung maut karena stress usahanya rusak. Sistem pemanenan sekaligus tanpa diiringi permintaan yang tinggi menjadikan petani tembakau terpaksa menyimpan sisa tembakau yang tak laku di gudang masing-masing. Ada yang milik sendiri, ada yang milik kelompok tani, ada pula yang menyewa. Semua mereka lakukan demi menjaga kualitas daun tetap baik dan masih bernilai jika ada perusahaan rokok yang order. 

Saya pun tercengang karena saat daun tembakau usai dipanen, untuk menghilangkan getah di dalam daunnya dilakukan dengan cara meniriskan daun sedemikian rupa sehingga posisi tangkai daun berada di bawah (vertikal) atau posisi daun dijepit dan ditegakkan. Jika tak demikian, harga daun tembakau juga rusak karena rasanya akan pahit akibat ada getah yang terkandung di daunnya. 

Beberapa waktu ini tentu sempat kita mengetahui bahwa tahun depan (2020) pemerintah sepakat menaikkan harga rokok per bungkusnya. 

Kebijakan itu saat ini memang belum dieksekusi, tapi dampaknya justru sudah mulai terasa. Harga rokok yang bakal naik secara otomatis menunjukkan bahwa beban pengusaha rokok bertambah. Bukan tanpa sebab mereka harus menaikkan harga rokok, bea cukai yang menempel pada kemasan rokok kian tinggi. Tidak hanya berpengaruh pada upaya perusahaan rokok untuk lebih efisien dalam produksi, tapi juga menggerus semangat petani tembakau karena harga pada level mereka kian merosot. 

Pada intinya, kebijakan menaikkan harga rokok akibat cukai yang semakin tinggi justru korbannya adalah petani tembakau. Pendapatan mereka tak sebanding dengan seluruh usaha yang dikeluarkan demi segelintir daun tembakau. Usahanya terancam mati di masa depan, terlebih lagi stigma negatif terhadap komoditas ini terus berdatangan dari perusahaan di bidang kesehatan. 

Mengingat sebagian besar petani di Sumenep mengusahakan tembakau, tentu kontradiksi jika stigma negatif atas selembar daun tembakau semakin menguat, ada kebolehjadian, bila petani tembakau selalu RT (Rugi Terus) akan menambah angka kemiskinan Sumenep. 

Salah satu petani kemarin juga mengatakan pada saya bahwa di Sumenep, jika seseorang ingin cepat kaya, ya dengan menanam tembakau dan menjualnya, tapi jika seseorang ingin segera stress dan mati, juga bisa dengan menanam tembakau. Saya pikir memang risiko usaha tembakau itu besar. Kena hujan 3 jam saja sudah banyak tanaman tembakaunya yang mati karena busuk, terlalu kekurangan air akibat kemarau berkepanjangan juga mati. 

Bertani tembakau seolah telur di ujung tanduk. Namun, saya bangga dengan petani tembakau Sumenep, mereka tetap mengambil risiko besar tersebut untuk bertahan dan mengisi hidup. Bagaimana teknik bertani mereka? Para petani tembakau biasanya menggunakan sistem tanam campuran antara tembakau itu sendiri dan jagung. Pada waktu hujan terakhir musim hujan, mereka menanami tanah di antara dua pohon jagung dengan tembakau. Saat jagung sudah panen, tembakau siap mengisi kekosongan lahan. Setidaknya panen jagung inilah yang sedikit menghibur keluh-kesah petani akibat besarnya risiko mengusahakan tembakau. 

Sewaktu mengintip nasib petani tembakau Sumenep, diri saya sempat kaget. Betapa tidak, beberapa hari sebelum saya menyurvei mereka, ada kabar bahwa salah satu di antara mereka meninggal bunuh diri. Saat saya tanyai apa motif bunuh diri itu, mereka menjawab bahwa yang bersangkutan (alm) bunuh diri karena stress akibat mengalami kerugian besar akibat lesuhnya permintaan tembakau miliknya. 

Di Sumenep sebetulnya terdapat banyak pedagang, pengepul, maupun tengkulak tembakau. Hanya saja, permintaan yang begitu rendah menjadikan pedagang, pengepul, bahkan tengkulak sedikit menahan diri sehingga berton-ton tembakau tak laku dan berujung membusuk selama penyimpanan. Di satu sisi, petani tembakau Sumenep sedikit beruntung dengan menjamurnya industri rumahan pembuatan bungkus tembakau rajangan. Bahannya terbuat dari daun siwalan. Untuk kebutuhan membungkus seikat tembakau rajang, biaya pengepakan dengan anyaman daun siwalan itu dihargai Rp. 15.000. Bisa dihitunglah jika petani tembakau terpaksa menyimpan tembakau rajangannya akibat tak laku, misalnya saja sebanyak 100 ikat, sudah butuh biaya Rp. 1,5 juta. 

Bila dari 100 ikat itu 10 persennya tak tahan lama, ya kerugian bertambah lagi. Padahal, laku pun seikat saja belum tentu mampu menutupi kerugian tersebut. Sulit memang mengusahakan komoditas satu ini. Kalau tak kuat iman ya gulung tikar, stress, bunuh diri, atau minimal gila. Risiko kerugian juga terdeteksi selama pembibitan dan membesarkan tanaman tembakau. Di Sumenep sendiri, beberapa tahun yang lalu, ada program pemerintah setempat berupa subsidi pupuk dan bibit tembakau. Program ini memang sempat menghembuskan "angin segar" pada petani tembakau Sumenep. 

Mekanisme pencairannya pun terbilang mudah. Dengan membawa semacam kartu tani tembakau berwarna kuning pada petugas, petani dapat mengklaim jatah pupuk dan benih tembakau. Kendati begitu, program itu tak bertahan lama, sedikit demi sedikit petani tembakau mulai berpikir tentang kondisi usahanya yang ternyata terancam gagal. 

Dalam praktiknya, petani tidak bisa menjalankan usahanya mengelola tembakau kalau soal pupuk dan benihnya masih dijatah. Menurut mereka, dalam bertani, apabila dalam perjalanannya kekurangan pupuk, maka harus menambah pupuk, jika kurang air, ya harus mencari air, ada semacam effort sebagai langkah antisipasi dalam proses mendewasakan tembakau hingga layak panen. 

Pemikiran seperti itulah yang mendorong petani tembakau mengklaim subsidi pupuk dan benih dalam jumlah yang sama, namun di tempat lain. Apalagi, mereka yang punya lahan tembakau lebih dari satu atau dua tempat yang berbeda secara administrasi. Dampak negatifnya program kartu tani menimbulkan masalah baru hingga klimaksnya pemerintah Sumenep meniadakan program subsidi tersebut. Inilah sebabnya mengapa petani tembakau Sumenep kembang-kempis dan selalu berada di ujung kerugian besar. Di satu sisi mengenai kebijakan pemerintah yang belum terkawal dengan baik dan benar, juga masih kurangnya sosialisasi, pendidikan, dan penyuluhan dinas terkait soal bagaimana memanfaatkan jatah pupuk dan benih bersubsidi secara mangkus dan sangkil.

Kamis, 28 November 2019

Jawa Timur Darurat Regenerasi Petani

Petani
Petani
Revolusi industri 4.0 menyediakan tantangan dan peluang tersediri bagi sektor pertanian Jawa Timur. Kian sempitnya lahan pertanian dan berkurangnya jumlah petani di berbagai daerah merupakan dua hal yang patut menjadi perhatian utama. Benar saja, lahan pertanian Jawa Timur setiap tahun menyusut 1.950 hektar. Padahal, Jawa Timur menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional. Ironisnya, susutnya lahan pertanian juga diikuti dengan menurunnya jumlah petani. 

Langkah awal yang bisa kita ambil untuk menelusuri kondisi sektor pertanian Jawa Timur adalah mengamati pertumbuhan dan kontribusinya terhadap perekonomian Jawa Timur. Pada triwulan II 2019 saja, sektor pertanian Jawa Timur tumbuh sebesar 2,9 persen. Rupanya sektor ini merupakan salah satu sektor yang tumbuh tipis di Jawa Timur. Kontribusinya terhadap kue ekonomi pun menduduki urutan ketiga setelah perdagangan, yakni 12,08 persen. 

Sebagai kelompok sektor primer, sektor ini dinyakini memberi dampak besar terhadap sektor yang lain. Jika sektor pertanian meningkat, maka hasilnya dirasakan pula oleh sektor lain, misalnya sektor perdagangan, sektor pergudangan, dan sektor transportasi. 

Seiring berjalannya waktu, sentuhan teknologi menjadikan sektor pertanian berubah dengan cepat. Pemandangan petani yang dulu menggunakan tenaga kerbau saat membajak sawah, kini berubah menjadi traktor, beragam mesin dan alat pertanian disiapkan untuk melakukan pengolahan lahan serta perawatannya. Dampak modernisasi ini dirasa begitu nyata menggerus jumlah buruh petani karena tergantikan oleh mesin. 

Salah satu cara untuk mendapatkan informasi tentang jumlah petani di Jawa Timur adalah dengan melihat hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2019. Tercatat bahwa persentase penduduk bekerja di sektor pertanian Jawa Timur mengalami penurunan. Jumlah penduduk bekerja di sektor pertanian yang sebesar 6,68 juta orang pada Februari 2018, turun menjadi 6,67 juta orang pada Februari 2019. Artinya, dalam setahun jumlah petani di Jawa Timur menyusut sebanyak seribu orang. Entah beralih ke sektor lain, entah menganggur. 

Selain produktivitas lahan pertanian yang menurun akibat pencemaran dan musim yang tidak menentu, lahan yang terus berkurang akibat berdirinya konstruksi bangunan dan jalan tol lintas daerah juga memperburuk nasib sektor pertanian Jawa Timur. Berdasarkan analisis Location Quotient, sektor pertanian Jawa Timur pada triwulan II 2019 memiliki LQ sebesar 0,89 atau kurang dari 1. Artinya, sektor pertanian Jawa Timur bukan merupakan sektor basis atau unggulan. Kenyataan ini menegaskan bahwa pada triwulan II 2019, sektor pertanian belum mampu memenuhi kebutuhan pasar di Jawa Timur sendiri. Jawa Timur masih memiliki ketergantungan terhadap kemampuan sektor pertanian nasional. 

Bila dikaitkan dengan Pendidikan tertinggi yang ditamatkan, mayoritas petani di Jawa Timur berpendidikan SD ke bawah. Dalam teori modern dikatakan bahwa penduduk berpendidikan rendah cenderung tidak memilih-milih pekerjaan. Apapun dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mirisnya, pendidikan yang rendah justru mengurangi semangat penduduk bergelut di sektor pertanian. Semangat yang terus merosot itu secara tidak langsung diperlihatkan oleh Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur yang posisinya sempat menurun 0,89 persen pada Februari 2019. Peningkatan Indeks yang diterima (It) terhadap Indeks yang dibayar (Ib) petani tidak sebanding dengan besarnya inflasi perdesaan dan garis kemiskinan Jawa Timur. 

Semakin berkurangnya penduduk bekerja di sektor pertanian, bisa dikatakan Jawa Timur telah memasuki zona darurat regenerasi petani. Hal itu ditengarai dengan menurunnya kinerja sektor pertanian sekaligus jumlah penduduk bekerja di sektor itu. Generasi milenial tidak lagi punya ketertarikan pada sektor pertanian karena prospeknya tidak jelas. Bagi mereka, profesi menjadi petani adalah profesi “terbuang” karena bertani menjadi pelarian terakhir ketika tidak ada lagi lapangan kerja yang tersedia. 

Situasi ini menjadi tantangan berat bagi Jawa Timur. Di tengah tumbuhnya perekonomian Jawa Timur yang mencapai 5,72 persen pada triwulan II 2019, disertai dengan menurunnya angka kemiskinan menjadi 10,37 persen per Maret 2019. Kondisi sektor pertanian malah kian terpuruk, bukan tak mungkin Jawa Timur justru menjadi daerah pengimpor hasil-hasil pertanian di kemudian hari.

Pemicu minat bertani

Agar sektor pertanian tetap hidup, pemerintah telah melakukan berbagai upaya. Utamanya dalam rangka penguatan kaderisasi petani. Kementerian pertanian pernah menyiapkan enam strategi untuk meregenerasi petani. Mulai dari transformasi pendidikan tinggi vokasi pertanian, inisiasi program penumbuhan wirausaha muda pertanian, penumbuhan kelompok usaha bersama di bidang pertanian, pelatihan dan magang bagi pemuda tani, hingga optimalisasi penyuluh untuk mendorong dan menumbuhkan pemuda tani. 

Keenam strategi tersebut layak diacungi jempol. Sebab, yang sedang melemah di sektor pertanian adalah minat dan semangat untuk bertani. Tanpa adanya dua aspek itu tentu jumlah petani, khususnya di Jawa Timur akan semakin berkurang. Bahkan, bisa jadi suatu saat tidak ada lagi pekerjaan petani. Padahal, proses mengolah lahan hingga menghasilkan komoditas pertanian adalah pekerjaan yang sangat mulia. 

Agaknya akan lebih tepat apabila perbaikan minat dan semangat bertani juga ditumbuhkan melalui mekanisme kelayakan harga komoditas hasil pertanian. Jumlah pemuda tani akan bertambah apabila harga komoditas hasil pertanian kian menggembirakan. Kendati pemerintah menyetop subsidi pupuk dan benih pun, pendapatan yang diperoleh petani akan tetap mampu menutup biaya produksi serta transportasi pemasaran hasil pertanian. 

Kebijakan lain yang bisa diambil adalah pemberian subsidi pupuk, alat pertanian, serta beasiswa pendidikan sekolah bagi anak-anak petani dengan kepemilikan lahan lebih dari 0,5 hektar. Kebijakan subsidi pupuk dan alat pertanian ini setidaknya mampu memangkas biaya produksi petani sehingga pendapatan yang mereka bawa pulang jauh lebih besar. Selain itu, kebijakan tersebut diharapkan mampu mempertahankan jumlah petani dengan kepemilikan lahan lebih dari 0,5 hektar sekaligus meningkatkan semangat bertani bagi petani dengan lahan kurang dari 0,5 hektar. 

Dua kebijakan tersebut diharapkan memicu kenaikan jumlah petani, khususnya pemuda tani sehingga regenerasinya tetap terjaga. Hadirnya teknologi modern disertai pembangunan infrastruktur yang cepat semestinya bukan menjadi alasan tak lagi bertani. Sebab, jikalau sektor pertanian kian terpuruk, akankah generasi masa depan hanya mengandalkan hasil-hasil pertanian negara lain?.

Senin, 25 November 2019

Bedah Output Regresi Data Panel Hasil Olah Program Eviews

statistik
Bedah output regresi panel
Adjusted R Square merupakan salah satu indikator dalam melakukan seleksi terhadap beberapa model regresi. Tujuan dari Adjusted R Square sendiri adalah melihat seberapa besar proporsi keragaman variabel dependen (variabel tidak bebas/variabel terikat) yang dapat dijelaskan oleh variabel independen (variabel bebas). Karena menggambarkan proporsi, Adjusted R Square biasanya diinterpretasikan dalam bentuk persen.

Adjusted R Square umumnya digunakan dalam pemodelan regresi baik sederhana dengan menggunakan satu variabel bebas, regresi berganda dengan menggunakan banyak variabel bebas, maupun model regresi yang menggunakan data panel. Sebegitu pentingnya indikator ini di dalam pemodelan, acapkali di dalam penggunaannya justru kurang diperhatikan. Banyak kalangan tidak peduli peruntukan dari Adjusted R Square atau R Square untuk menyeleksi regresi terbaik. Padahal, keduanya jelas berbeda baik dari sisi konsep dan formula, maupun dari sisi interpretasi kesesuaian regresi linier.

Memang benar sekali, bahwa ahli statistika merekomendasikan penggunaan Adjusted R Square dalam memantau seberapa baik sebuah persamaan regresi untuk mendekati model populasi. Tapi, perlu ditekankan kembali bahwa penggunaan Adjusted R Square sendiri lebih tepat digunakan apabila seorang peneliti menggunakan analisis regresi linier berganda. Mengapa? Sebab nilai Adjusted R Square memiliki kekuatan untuk melihat sejauh mana sebuah variabel bebas menjelaskan proporsi keragaman variabel tidak bebas (terikat) ketika ia dimasukkan dalam persamaan dan ketika ia tidak berada di dalamnya.

Statistik
Formula r square dan adjusted r square


Berdasarkan formula tersebut, dapat disimpulkan bahwa Adjusted R Square tergantung pada jumlah amatan (n) dan jumlah variabel bebas yang ditandai melalui derajat bebasnya (p), di mana p itu sendiri merupakan jumlah penduga parameter sehingga jumlah variabel bebas sama dengan p - 1. Nilai Adjusted R Square yang tergantung banyaknya amatan dan variabel bebas inilah yang terkadang menyebabkan nilainya bisa minus. Misalnya ketika jumlah variabel bebasnya lebih sedikit dibandingkan jumlah amatannya. Mengingat efek penggantian dan atau penambahan variabel bebas ke dalam suatu persamaan regresi hanya bisa terjadi ketika jumlah variabel bebasnya lebih dari satu, itu sebabnya Adjusted R Square lebih relevan digunakan dibandingkan R Square.

Sebaliknya, apabila suatu peneliti hanya menggunakan analisis regresi linier sederhana, maka indikator R Square lah yang bisa dijadikan ukuran baik dan tidaknya regresi tersebut. Ini terkait dengan penggunaan variabel bebas yang hanya satu tidak memungkinkan adanya proses eliminasi atau penyeleksian variabel bebas ke dalam persamaan regresi. Agaknya tidak relevan jika di dalam pengkonfigurasian persamaan regresi linier sederhana masih menampilkan Adjusted R Square karena proporsi keragaman variabel dependennya justru lebih cocok menggunakan R Square.

Dalam sebuah tampilan output running data dengan menggunakan program pengolah tertentu, memang biasanya menampilkan duah jenis R Square bersaudara itu. Nilainya pun hampir sama, meski dalam kondisi lain malah berbeda jauh, bahkan berlawanan, nilai R Square positif, sedangkan nilai Adjusted R Square negatif.

Penggunaan sejumlah variabel bebas di dalam pemodelan menjadi konsekuensi logis munculnya dua nilai R Square bersaudara yang saling berlawanan tanda. Ketika suatu variabel bebas, katakanlah X1, jika menggunakan regresi linier sederhana, nilai R Squarenya kemungkinan besar menunjukkan proporsi keragaman dari variabel tidak bebas (terikat) benar-benar dijelaskan oleh X1 itu. Namun, akan berbeda ketika tool analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda yang melibatkan sejumlah variabel bebas di dalamnya. Nilai R Square belum tentu menunjukkan bahwa variabel bebasnya tadi benar-benar bisa menjelaskan proporsi keragaman variabel tidak bebas. Bisa jadi, ia hanya menyumbang kemampuan menjelaskan variabel tidak bebas dalam persentase yang kecil, hanya saja tidak terlihat jelas. Inilah mengapa suatu variabel bebas yang dimasukkan ke dalam persamaan regresi linier berganda bisa dikatakan variabel aksesoris, fungsi dan perannya tidak signifikan menambah persentase R Square saja.

Adanya konfigurasi variabel bebas dan tidak bebas yang tak sesuai juga bisa mengganggu besarnya nilai R Square bersaudara itu. Dalam praktiknya pun, Adjusted R Square yang tinggi bisa pula berupa kamuflase yang seakan-akan nilai tinggi, padahal "menipu", sampai-sampai peneliti pun memercayai bahwa regresi linier yang ia bangun sudah sangat baik. Kita bisa buktikan dengan mengamati angka Adjusted R Square yang tinggi, padahal ada informasi yang belum terungkap. Nilai Adjusted R Square tinggi, tapi jumlah variabel bebasnya sedikit.

Butuh hati-hati melihat output
regresi panel
Output program Eviews regresi panel
Beberapa waktu lalu, penulis kebetulan bisa menghadiri undangan seminar paper salah satu rekan penulis. Adapun judul paper yang ia sajakan. Judul papernya adalah Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Padi di Jawa Timur dengan Fixed Effect Model. Dalam paper tersebut, ia menggunakan variabel dependen berupa produksi padi yang didapatkan dari Kerangka Sampel Area (KSA) Padi di Jawa Timur, dengan variabel bebasnya masing-masing Produktivitas Padi (X1), Luas Panen (X2), dan Curah Hujan (X3).

Persamaan penduga model regresi panel yang dihasilkan menggunakan program Eviews cukup mencengangkan. Bagaimana tidak, nilai interseptnya sangat besar dan negatif, kemudian besar pengaruh dari X1 mencapai 4 digit, kemudian pengaruh X2 malah 1 digit, sedangkan X3 berpengaruh negatif sebesar 2 digit. Intersept yang sangat besar bila kita interpretasikan secara "paksa" bisa menjadi fenomena di Jawa Timur, bahwa produksi padi itu sebenarnya dari awal sudah minus alias defisit dan ini perlu ditinjau ulang oleh dinas terkait. Rupanya, jika kita amati nilai signifikansinya, probabilitas pengaruh dari X1 terhadap Y sebesar 0,000, sama halnya dengan probabilitas pengaruh dari X2 terhadap Y, yaitu sebesar 0,000. Artinya, dengan menggunakan tingkat alpha 5 persen, variabel produktivitas dan luas panen berpengaruh signifikan dan positif (lihat koefisiennya di output) terhadap produksi padi di Jawa Timur. Sedikit berbeda dengan variabel curah hujan (X3), variabel tersebut justru tidak signifikan pada taraf 5 persen terhadap produksi padi di Jawa Timur. Lagi-lagi, jika kita "memaksakan diri" mengintepretasi output tersebut malah muncul anggapan yang kurang pas dengan kenyataan. Pada umumnya, curah hujan tentu memberikan dampak positif terhadap produksi padi, sedangkan hasil tersebut malah sebaliknya.

Kuak histori datanya

Kondisi output tersebut membuat penulis tidak nyaman. Dalam artian, penulis mencurigai terdapat kesalahan dalam mengkonfigurasi variabel-variabel yang digunakan. Benar dikata sebagaimana ulasan di awal, bila persamaan tersebut dijabarkan, terdapat adanya hubungan antara Y, X1, dan X2.
Multikolinear
Keterkaitan variabel Y X1 dan X2
Karena produksi merupakan hasil perkalian antara produktivitas dan luas panen, maka hasil yang begitu "indah" signifikannya secara jelas mengandung multikolinear di antara variabel bebas. Signifikansi yang mencapai 0,000 tersebut bukanlah probabilitas yang independen namun dependen.

Kemudian, kita amati dengan saksama nilai R Square dan Adjusted R Square-nya, masing-masing sebesar 99,86 persen dan 99,81 persen. Secara teoritis, bahwa ketiga variabel bebas yang masuk dalam peregresian panel tersebut dapat menjelaskan proporsi keragaman variabel bebas sebesar 99,86 persen dan 99,81 persen, sedangkan sisanya dapat dijelaskan oleh variabel bebas yang tidak masuk di dalam peregresian panel. Tapi, pada poin ini kita sedikit menemukan celah atau kelemahan dari R Square dan Adjusted R Square, nilainya yang tinggi justru bisa jadi diakibatkan oleh adanya multikolinier antar variabel dalam peregresian. Penulis kemudian menanyakan kepada rekan tersebut, apakah terdapat treatment terhadap data selama proses peregresian panel?

Dijawabnya, ada, terutama pada variabel bebas curah hujan. Dia mengatakan mensmoothing data curah hujan sedemikian rupa dengan alasan agar peregresian panel dapat dibangun dalam situasi yang stabil dan asumsi citeris paribus. Padahal, menurut penulis sendiri, treatmen pada data dengan cara smoothing akan menaikkan adjusted R Square dan R Square akibat perilaku data hasil smoothing lebih selaras dan seakan-akan itu menjadi "akal-akalan" saja demi mencapai Adjusted R Square yang tinggi.

Dengan hanya menggunakan 3 variabel bebas, mendapatkan angka sebesar 99 persenan itu agaknya terlalu mustahil. Padahal, dengan menggunakan 3 variabel bebas yang tentunya independen, mencapai Adjusted R Square sebesar 50 persenan pun sudah tinggi. Meski secara empiris belum terdapat studi mengenai eksplorasi dari Adjusted R Square terkait seberapa besar persentase maksimal normalnya ketika sebuah variabel dimasukkan ke dalam peregresian panel dan sebaliknya, seberapa besar persentase minimal normalnya sebuah variabel yang dikeluarkan dari peregresian panel. Hal ini sangat penting untuk menjaga proporsionalitas dan kelogisan jumlah variabel bebas yang digunakan dalam peregresian secara umum sehingga early warning adanya kejanggalan-kejanggalan dalam regresi bisa dideteksi dengan jelas dan terukur.(*)