Minggu, 28 Juli 2019

Pengumuman Hasil Try Out Online Nasional I USM Polstat STIS 2020-2021

Try Out Nasional USM Polstat STIS 2020 2021 2022 2023
Hasil Try Out Online I USM Polstat STIS 2020

Selamat malam teman-teman semua, apa kabarnya? Semoga tetap sehat selalu dan tetap semangat ya belajarnya. Kali ini saya akan mengumumkan hasil Try Out Online Nasional I USM Polstat STIS 2020 di ngobrolstatistik.com.

Berdasarkan data yang masuk, jumlah peserta yang mendaftarkan dari dalam TO I kemarin sebanyak 172 orang. Namun, sesuai aturan bahwa peserta yang mengumpulkan Lembar Jawabannya telat atau di luar rentang waktu TO yang berlaku, maka dengan berat hati dan sesuai aturannya, tidak saya masukkan dalam perhitungan, perangkingan, dan analisis hasilnya.

USM STIS
Median Nilai TO Online Nasional I USM Polstat STIS 2020
Berdasarkan hasil TO Online Nasional I yang telah masuk pada 21 Juli 2019, jam 22.00 WIB, peserta yang berhasil mengumpulkan ada sebanyak 46 orang. Hasil dari TO I menunjukkan bahwa median dari nilai seluruh peserta sebesar 58 dan setidaknya ada sekitar 50 persen peserta yang mendapatkan nilai atas median tersebut.

Kendati demikian, mayoritas nilai dari peserta TO I kali ini masih banyak yang berada di bawah 100 sehingga untuk ke depannya, saya harapkan teman-teman peserta lebih mempersiapkan diri lagi untuk mengikuti TO yang akan diadakan kembali melalui blog ini, baik yang bersifat gratis, maupun yang bersifat premium. Demikian sekilas pengantar pengumuman dari saya, berikut saya sampaikan hasil Try Out Online I Nasional USM Polstat STIS 2020-2021 di ngobrolstatistik.com.

Bagi peserta terbaik, dimohon untuk menghubungi saya secara pribadi untuk mengklaim reward sebagai peserta dengan nilai terbaik.

Semangat belajar dan semoga Lolos USM Polstat STIS 2020 mendatang.




Jumat, 19 Juli 2019

Try Out Nasional (TONAS) Online USM Polstat STIS 2020

USM STIS 2020 2021 2022 2023
Try Out USM Polstat STIS I oleh ngobrolstatistik.com
Selamat sore teman-teman semua para peserta Try Out daring ngobrolstatistik.com. Kali ini, kita akan mengadakan Try Out USM Polstat STIS 2020 bagian I. Berdasarkan hasil pendaftaran melalui grup Whatsapps kemarin, ada sebanyak 173 peserta yang akan mengikuti Try Out pertama ini. Perlu teman-teman ketahui bahwa ngobrolstatistik.com menyelenggarakan beberapa TO USM Polstat STIS setiap tahunnya, baik berbayar atau gratis.

Bedanya, kalau TO yang berbayar atau premium, teman-teman selain dapat mengakses soalnya, di bagian akhir saya akan membagikan file terkait pembahasan dari soal TO. Kalau TO kali ini bersifat gratis ya teman-teman, tetapi di bagian akhir melalui grup akan saya bagikan hanya Kunci Jawaban (KJ) saja kepada teman-teman.

Sekian pengantar singkat dari saya, berikut ini saya rilis dengan resmi soal TO bagian I USM Polstat STIS 2020/2021 atau calon angkatan 62. Adapun aturannya sudah tertera di dalam soal, silakan baca baik-baik sebelum mengerjakan. Oh iya, peserta dengan nilai tertinggi nanti akan mendapatkan reward dari saya selaku penyelenggara TO ini. Demikian dan selamat mengerjakan.



Rabu, 10 Juli 2019

Menimbang Dampak: Upaya Pemerintah Membuka Peluang Maskapai Asing Masuk Indonesia

Tiket pesawat naik
Sebuah analisis sederhana
Sudah setengah tahun lebih, harga tiket pesawat seluruh maskapai yang beroperasi di Indonesia mengalami kenaikan. Hal tersebut sangat dirasakan oleh masyarakat terutama mereka yang menjalani hidup di perantauan, entah dalam rangka transmigrasi, menuntut ilmu, entah bekerja kontrak.

Mobilitas masyarakat yang demikian tinggi tentu menuntut negara untuk menghadirkan pelayanan transportasi antar wilayah, utamanya antar provinsi di seluruh Indonesia. Tak hanya berdampak pada mobilitas masyarakat, pelayanan transportasi juga memberi sumbangsih besar dalam menggerakkan perekonomian melalui arus perdagangan antar regional. Namun, hal itu tidak terjadi untuk jenis transportasi udara yang notabene menggunakan pesawat.

Kira-kira bulan Desember 2018, harga tiket pesawat udara di Indonesia merangkak naik dari harga sebelumnya. Lebih-lebih menjelang awal tahun 2019 lalu, terjadi kecelakaan pesawat bermaskapai Lion Air yang hilang kontak sekaligus menelan korban. Dengan alasan meningkatkan pelayanan dan keamanan transportasi udara, maskapai menegaskan kembali adanya kenaikan harga tiket pesawat.

Pemerintah dalam situasi itu agaknya tidak berbuat lebih, sebab kepemilikan aset serta pengelolaan aset transportasi udara itu tidak semuanya berada di bawah naungan BUMN, melainkan juga menjadi milik swasta. Tarik-ulur kebijakan harga tiket pesawat pun tampak berlarut-larut, terlebih sekitar bulan Juni 2019, di Indonesia sudah masuk bulan Puasa. Masyarakat dibuat kebingungan lantaran adanya ketidakpastian langkah pemerintah untuk bisa mengendalikan harga tiket pesawat. Tak sedikit perantau yang mengeluhkan ketidakjelasan pemerintah dalam mengatur harga tiket sampai-sampai harganya tak sepadan dengan pendapatan masyarakat sehari-hari sebagai perantau.
Andil transportasi terhadap inflasi Desember 2018, sumber: bps.go.id
Bila kita amati bersama, andil transportasi terhadap inflasi bulan Desember 2019 bisa dikatakan besar, bahkan hampir menyamai andil bahan makanan. Ini sekilas menunjukkan bahwa transportasi pada saat tertentu bisa jadi menjadi prioritas utama yang dibutuhkan masyarakat. Namun, karena pendapatan riil masyarakat yang tidak mampu menjangkau fasilitas tersebut, maka berdampak menyumbang besaran angka inflasi.

Khusus harga tiket pesawat sendiri, kepala Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa situasi sekarang ini tidak biasa. Menurutnya, jika dilihat pattern tahun lalu, angkutan udara memberi andil inflasi di beberapa bulan tertentu, seperti hari raya dan libur sekolah. Ini agak aneh, karena harga tarif tiket pesawat tidak biasa sejak Januari 2019 (cnnindonesia, 1/4/2019).
Andil transportasi terhadap inflasi Maret 2019, sumber: bps.go.id
Pada Maret 2019, andil dari transportasi secara umum terhadap besarnya inflasi sebesar 0,02 persen. Hal ini masih mengindikasikan bahwa pengaruh dari kenaikan harga tiket pesawat sepanjang Januari hingga Maret masih dirasakan oleh masyarakat.
Andil transportasi terhadap inflasi April 2019, sumber: bps.go.id
Meski di satu sisi, fasilitas yang mendukung transportasi darat dan laut sudah ditingkatkan oleh pemerintah. Ada beberapa kendala yang menjadikan transportasi udara sebenarnya menjadi pilihan masyarakat. Salah satunya karena transportasi udara dinilai lebih efisien waktu dalam mendukung perjalanan serta mudik jelang Idul Fitri tahun 2019. Hal kedua yang menjadi pertimbangan masyarakat untuk lebih memilih transportasi udara adalah karena situasi laut yang tidak stabil beberapa bulan terakhir. Gelombang laut yang tinggi disertai angin yang kencan di beberapa daerah menjadikan risiko perjalanan melalui laut meningkat.

Berdasarkan data BPS, andil transportasi terhadap besarnya inflasi bulan April sedikit meningkat, menjadi 0,05 persen. Kendati di satu sisi, tiket pesawat demikian tinggi, banyak masyarakat yang justru memutuskan beralih pada transportasi darat dan laut. Harga tiket pesawat yang masih belum bisa dinego oleh pemerintah menjadikan pengaruhnya terhadap besaran inflasi masih tinggi.

Penumpang pesawat turun drastis
Sepertinya kinerja transportasi udara tahun 2019 menurun drastis. Data BPS menunjukkan bahwa jumlah penumpang pesawat pada Januari-April 2018 mencapai 29 juta orang, sementara pada tahun ini jumlahnya hanya sekitar 24 juta orang. Tercatat, pada April 2019 lalu, jumlah penumpang pesawat hanya sekitar 5,66 juta orang. Kondisi ini terlihat menurun sebanyak 370.000 dibanding bulan Maret 2019 yang mencapai 6,03 juta orang.

Penurunan jumlah penumpang ini pada dasarnya bisa kita jadikan sebanyak suatu keniscayaan dalam perekonomian. Ketika harga tiket melambung dan tidak terkendali, maka nilai riil dari pendapatan masyarakat yang berkebutuhan terhadap tiket pesawat akan melemah. Harga penawaran dari maskapai tidak mampu diraih oleh pendapatan riil masyarakat sehingga mereka menahan pengeluarannya untuk bepergian menggunakan transportasi udara.

Di tinjau dari sisi permintaan, harga tiket pesawat yang mahal menyebabkan masyarakat menurunkan kuantitas kebutuhannya terhadap tiket pesawat. Bila tidak menahan, mereka mengurangi frekuensi perjalanan menggunakan pesawat, bahkan beralih untuk menggunakan transportasi darat atau laut. Hal inilah yang menyebabkan jumlah penumpang pesawat pada Januari-April 2019 turun drastis.

Alih-alih biaya operasional maskapai merangkak naik serta pergerakan rupiah yang mengalami depresiasi, pemerintah yang memiliki power pun tidak mampu berkutik memberi solusi untuk menekan harga tiket pesawat. Malah, yang beredar di media daring, pemerintah tampak saling lempar tanggung jawab terhadap naiknya level harga terendah tiket pesawat.

Maskapai pun memberikan penegasan bahwa memang sebenarnya dorongan menaikkan harga tiket itu sudah lama direncanakan. Sebab, biaya operasional bandara dan fasilitas pendukung transportasi udara juga membengkak. Namun sayangnya, kurangnya sosialisasi kepada masyarakat mengakibatkan terjadinya shock ekonomi sehingga menyumbang inflasi hingga detik ini.

Maskapai asing masuk Indonesia?
Inilah wacana yang sempat membuat masyarakat menjadi pesimis dengan kinerja pemerintah. Di saat rupiah beberapa bulan lalu mengalami depresiasi terhadap dolar Amerika, pemerintah malah mengompori akan hadirnya maskapai penerbangan asing masuk dan beroperasi di Indonesia.

Hal ini seolah-olah pemerintah tidak mau kecolongan untuk mendapatkan dolar untuk mereka pegang mengingat rupiah yang beberapa waktu tertekan. Di saat keharusan untuk membela rupiah akibat tertekan dan sempat menimbulkan pesimistis, malah mereka juga ingin meraup dan memilih untuk memegang uang asing ketimbang rupiah sendiri. Ini kan aneh.

Semestinya ketika rupiah tertekan oleh embargo peperangan dagang sedemikian rupa sehingga berdampak pada tingginya biaya operasional transportasi udara karena secara riil pesimis, semestinya kran maskapai asing masuk ke Indonesia tidaklah didengungkan kepada masyarakat.

Walaupun dalihnya akan meningkatkan tingkat persaingan usaha penerbangan dalam negeri, pada waktu yang sama malah berpotensi untuk menggelontorkan aliran dana kepada pihak asing. Seolah sudah jatuh tertimpa tangga, bukan? (*).

Selasa, 28 Mei 2019

Lebih Pilih Mana, Pengangguran Tinggi atau Inflasi Tinggi?

Pengangguran dan Inflasi
Memilih antara pengangguran dan inflasi
Beberapa waktu ini, saya kebetulan aktif sebagai salah satu bagian anggota platform brainly.co.id. Hitung-hitung sambil bekerja, juga membantu orang lain, ada banyak pertanyan menarik di sana yang bisa saya munculkan ke permukaan sebagai bahan diskusi. Sebetulnya saya lebih dominan nimbrung di bidang matematika, tetapi karena latar belakang pendidikan saya yang berbau ekonomi, jadinya sedikit-sedikit saya mengintip diskusi di bidang ekonomi.

Ada pertanyaan menarik yang disampaikan oleh seorang penanya di brainly.co.id itu, namanya saya lupa. Namun, yang jelas ia bertanya perihal ekonomi, pertanyaanya kurang lebih seperti ini:

Dalam perekonomian, lebih memilih mana antara pengangguran tinggi atau inflasi yang tinggi?

Kira-kira begitu pertanyaanya. Beberapa waktu kemudian saya mulai membaca-baca artikel untuk memperkaya informasi terkait pengangguran dan inflasi ini. Tak lama kemudian, saya menemukan beberapa artikel yang mengulas mengenai Kurva Philips yang mengaitkan antara pengangguran dan tingkat inflasi yang pernah diteliti di Amerika Serikat. Dalam artikel yang lain, saya membaca ulasan bahwa sebelum Kurva Philips ditemukan, sebenarnya Irving Fisher seorang ekonom asal Amerika juga telah mengemukakan teori hubungan antara pengangguran dan tingkat harga dalam karya tulisnya.

Terdoronglah saya untuk lebih menggali lagi hubungan antara pengangguran dan inflasi ini. Dari website Badan Pusat Statistik (BPS), yaitu bps.go.id, saya memperoleh informasi mengenai inflasi year on year pada Februari 2019 adalah sebesar 2,57 persen, sedangkan inflasi year on year Februari 2018 sebesar 3,18 persen. Sedangkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2019 sebesar 6,82 persen atau turun dari 6,87 persen di tahun 2018. Dari data tersebut terlihat adanya kecenderungan bahwa tingkat inflasi tahunannya menurun, diiringi pula dengan TPT yang relatif menurun.

Menurut time reference-nya, ada kemungkinan situasi ini hanyalah dalam jangka pendek. Tidak nampak sama sekali kurva Philips relevan di sana. Kemudian saya mengulik artikel kembali untuk melihat apakah memang benar di Indonesia, kurva Philips tidak sepenuhnya berlaku?

Dugaan saya ternyata benar. Kurva Philips tidak berlaku dan relevan dalam analisis makroekonomi di Indonesia. Hal tersebut dikuatkan dengan hasil studi empiris yang dilakukan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi (HIMIESPA) merupakan organisasi formal mahasiswa ilmu ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 2018 lalu. Adapun datanya disajikan sebagai berikut:
Kurva Philips
Sumber: Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi (HIMIESPA) merupakan organisasi formal mahasiswa ilmu ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (2018); https://www.kompasiana.com/himiespa
Terlihat bahwa koefisien korelasi antara pengangguran dan tingkat inflasi di Indonesia positif meskipun kekuatan korelasinya lemah. Kendati demikian, data tersebut menunjukkan bukti bahwa kurva Philips di Indonesia tidak terjadi.

Mengapa Kurva Philips di Indonesia Tidak Terjadi?
 
Menurut analisis dari tim Himiespa UGM dalam artikelnya yang berjudul Apakah Kurva Philips Sudah Mati? Setidaknya ada dua alasan mengapa di Indonesia sendiri tidak ditemui adanya kurva Philips dalam keterkaitan antara variabel makroekonomi pengangguran dan tingkat inflasi. Pertama adalah menurunnya daya tawar tenaga kerja. Pada saat kurva Philips diujicoba kekuatannya dalam analisis ekonomi di AS, pada saat itu belum terjadi industrialisasi berbasis teknologi. Sedangkan saat ini, di Indonesia pun tengah terjadi industrialisasi di berbagai sektor sehingga tingkat ketergantungan terhadap tenaga kerja kian berkurang.

Alasan yang kedua berdasarkan pernyataan dari Friedman (1968) dan Blanchard (2017) yang menyatakan bahwa para pelaku pasar sekarang cenderung memiliki ekspektasi terhadap tingkat inflasi. Hal ini sangat tampak di Indonesia, pelaku pasar yang ada juga mempunyai analis-analis untuk melakukan prediksi dan simulasi terhadap kondisi dan prospek usaha yang dijalankan. Dengan bermodal teknologi, prediksi yang dilakukan berdasarkan statistik sehingga keputusan yang diambil oleh perusahaan juga lebih tepat sasaran. Meskipun dalam analisis jangka pendek akan terjadi kurva Philips, tetapi dalam jangka panjang kurva Philips kian melandai bahkan tidak terlihat sama sekali sebagaimana yang terjadi di Indonesia.

Kendati alasan pertama berlaku, di Indonesia juga terdapat keunikan mengenai tingkat pengangguran ini. Terdapat kelompok angkatan kerja yang sangat dinamis, ia adalah pekerja informal dan pekerja di sektor pertanian. Bila karyawan perusahaan sangat ditentukan oleh upah yang berkaitan langsung dengan inflasi, maka pada kelompok tersebut relatif tidak berlaku. angkatan kerja yang berpendidikan SD ke bawah lebih cenderung bekerja seadanya dan sedapatnya. Mereka tidak memiliki pilihan-pilihan atas pekerjaan sehingga di dalam pendataannya, mereka inilah yang bisa memberi anomali terhadap analisis-analisis makroekonomi. Ada sekitar 74,08 juta orang yang bekerja di sektor informal. Selama Februari 2018 - Februari 2019, jumlah pekerja informal ini juga terlihat menurun sebesar 0,95 persen. Artinya, tingkat perubahan pekerja di sektor ini demikian cepat karena pelakunya bisa beralih kerja bahkan tidak bekerja alias menganggur.

Jadi? Pilih Pengangguran Tinggi atau Inflasi yang Tinggi?

Pengangguran dan inflasi yang tinggi, keduanya merupakan masalah besar dalam perekonomian. Pengangguran yang tinggi berdampak pada terpuruknya perekonomian sehingga mengakibatkan tingkat kemiskinan bertambah. Di sisi lain, inflasi yang sangat tinggi juga menjadikan banyak perusahaan gulung tikar karena biaya produksi dan margin perdagangan yang tinggi. Pada waktunya juga menyebabkan PHK tenaga kerja besar-besaran dan pengangguran pun akan meningkat.
Dengan meninjau efek yang dikandung pada dua kondisi makroekonomi tersebut, saya mengambil solusi untuk memilih inflasi yang tinggi. Mengapa? Karena inflasi yang tinggi itu masih bisa dikendalikan oleh pemerintah. Dengan menggulirkan kebijakan yang tepat sasaran terhadap distribusi barang dan jasa serta mensubsidi barang-barang yang memiliki andil besar dalam pembentukan angka inflasi, saya rasa dampaknya tidak terlalu merugikan. Toh, di satu sisi, inflasi itu juga mempunyai fungsi untuk mendorong produsen meningkatkan kuantum produksinya untuk memenuhi permintaan pasar.

Agaknya akan lebih buruk bila saya memilih tingkat pengangguran yang tinggi. Sebab, pengangguran demikian rentan mengantarkan pada tingkat kemiskinan yang meningkat. Orang yang menganggur logikanya memiliki daya beli yang rendah terhadap barang dan jasa sehingga ia akan terjerumus pada kondisi tidak terpenuhi kebutuhan dasar. Di samping itu, pengangguran yang tinggi mengakibatkan lemahnya perekonomian akibat meningkatnya angka ketergantungan. Perekonomian tidak akan inklusif ketika pengangguran dan kemiskinan malah meningkat sebab tidak ada daya untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi untuk kesejahteraan manusia di sana. Oleh karena itulah mengapa ujung jemari saya memutuskan untuk memilih inflasi yang tinggi.(*)

Minggu, 26 Mei 2019

Prediksi USM Politeknik Statistika Sekolah Tinggi Ilmu Statistika (Polstat STIS) 2020

USM STIS 2020 2021 2022 2023
Prediksi USM Polstat STIS 2020
Selamat malam teman-teman semua, semoga kabar kalian sehat selalu dan tetap semangat belajar tentunya. Tak terasa ya, USM Polstat STIS 2019 sudah mencapai tes Tahap III atau Psikotes. Bagi kalian yang belum beruntung, tenang saja, asalkan usia teman-teman maksimal 22 tahun per Oktober 2020, teman-teman tetap memiliki kesempatan untuk mengikuti USM Polstat STIS selanjutnya, yaitu angkatan 62.

Beberapa waktu lalu, saya kebetulan sedang menyusun ramuan soal-soal yang saya dasarkan jejak pendapat dan wawancara teman-teman yang sudah melaksanakan USM Polstat STIS 2019 tahap I mengenai jenis dan bentuk soal yang keluar pada USM Polstat STIS. Kemudian saya mencoba susun prediksi untuk USM Polstat STIS 2020/2021 mendatang. Semoga dengan berdasarkan gambaran dari pengalaman teman-teman yang lolos USM Polstat STIS 2019 tahap I, sedikit banyak akan memberikan gambaran mengenai tipe dan bentuk soal USM Polstat STIS tahap I di tahun 2020/2021.

Harapan saya, teman-teman akan memperoleh gambaran riil mengenai soal apa saja yang keluar dan bagaimana level atau tingkat kesulitannya. Soal prediksi USM Polstat STIS 2020 ini juga dapat teman-teman gunakan sebagai ajang Try Out juga sebagai bahan evaluasi seberapa besar tingkat persiapan teman-teman yang akan mengikuti USM Polstat STIS Tahap I tahun 2020.






Berikut saya juga tautkan pembahasan soal prediksi tersebut dalam bentuk video dengan harapan sedikit membantu memberikan pemahaman mengenai solusi untuk setiap soal yang ada sekaligus memberikan pengetahuan baru yang berkaitan dengan soal-soal prediksi tersebut.






Demikian sedikit yang bisa saya bagi untuk teman-teman semua, semoga tahun 2020 nanti, teman-teman dapat LOLOS USM Polstat STIS 2020 dan menjadi angkatan ke-62 Polstat STIS. Tetap semangat belajar dan berdoa.

Rabu, 22 Mei 2019

Kisi-kisi USM Polstat STIS Tahap I Tahun 2020 Berdasarkan USM Polstat STIS 2019

SPMB Polstat STIS 2020
Kisi-kisi USM Polstat STIS 2020

Selamat siang teman-teman, semoga teman-teman semua dalam kondisi sehat dan masih bersemangat belajar tentunya. Pada beberapa waktu lalu, saya telah mengunggah mengenai informasi awal mengenai semua hal yang berkaitan dengan Polstat STIS, USM Polstat STIS, sampai prospek bekerja di Badan Pusat Statistik (BPS).

Dalam kesempatan kali ini, saya akan berbagi mengenai kisi-kisi soal USM Polstat STIS 2020 dengan mengacu pada data jenis soal yang berhasil saya himpun dari teman-teman peserta USM Polstat STIS tahun 2019, pada 11-13 Mei 2019. Informasi yang saya kumpulkan ini setidaknya memberikan gambaran riil mengenai bab atau bahasan apa saja yang diujikan dan keluar dalam USM Polstat STIS 2019 dan sebagai bekal memprediksi USM Polstat STIS 2020.

Kalau saya amati, ada sebanyak 31 bab atau bahasan Matematika IPA yang keluar dalam USM Polstat STIS 2019. Beberapa bab atau bahasan juga terdapat beberapa rincian mengenai subbab yang keluar. Mengingat sejak 2018 lalu, USM Polstat STIS Tahap I hanya Matematika, maka saya sudah tidak perlu mengunggah mengenai kisi-kisi Bahasa Inggris.

Semoga sedikit hal yang saya bagi kepada teman-teman ini dapat bermanfaat dan setidaknya memberi gambaran mengenai apa saja yang harus teman-teman kuasai sebelum menghadapi USM Polstat STIS Tahap I. Prediksi USM Polstat STIS 2020 dalam waktu dekat akan saya unggah berikut dengan pembahasannya. Terima kasih. Selamat menyimak kisi-kisinya dan jangan lupa share ya teman-teman.


Selasa, 14 Mei 2019

Kisi-Kisi USM Polstat STIS Tahap II 2019; TKD CPNS CAT BKN

SKD CPNS USM Polstat STIS 2019 2020 2021
Mengulas kisi-kisi Tes Kemampuan Dasar USM Polstat STIS 2019
Selamat pagi teman-teman semua, kali ini saya akan berbagi dan sedikit mengulas kisi-kisi Ujian Seleksi Masuk (USM) atau SPMB Polikteknik Statistika Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (Polstat STIS) Tahun 2018 lalu yang berhasil saya himpun dari teman-teman peserta USM Polstat STIS 2018.

Tujuannya adalah untuk memberikan sedikit gambaran mengenai bentuk dan jenis soal TKD atau SKD CPNS SPMB Polstat STIS tahun 2019 dan tahun berikutnya. Adapun kisi-kisi yang saya berikan kepada teman-teman ini masih perlu dilengkapi jadi tidak 100 persen tercakup. Yang perlu diketahui bahwa pada tes USM Polstat STIS Tahap II kali ini terdiri atas 3 subtes yang biasa diujikan dalam sistem penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) oleh Badan Kepagawaian Negara (BKN).

Dalam tes TKD ini terbagi dalam 3 jenis subtes, yaitu Tes Intelijensi Umum (TIU), Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), dan Tes Karakteristik Pribadi (TKP). Tahun 2018, TKD ini dilakukan dengan menggunakan komputer atau Computer Assisted Basic (CAT), masing-masing memiliki passing grade atau nilai mati yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan tes. Untuk TIU, passing gradenya adalah sebesar 80 dengan jumlah soal sebanyak 30 butir. Untuk TWK, batas minimal nilainya adalah sebesar 75 dengan jumlah soal sebanyak 35 butir, sedangkan TKP memiliki passing grade sebesar 143 dengan jumlah soal sebanyak 35 butir.

Kriteria Lulus
Syarat lulus minimal adalah sama dengan atau melebihi semua passing grade untuk masing-masing subtes, baik TIU, TWK, dan TKP. Bila salah satu subtes kurang dari passing grade, maka tidak lulus. Berikut tabel kriteria yang digunakan dalam USM Polstat STIS Tahap II: SKD CPNS setiap tahunnya:
SKD CPNS 2019 2020 2021 2022
Passing Grade (PG) SKD USM Polstat STIS berdasarkan Permen PAN-RB

Kisi-kisi TIU
Kisi - kisi TIU pada USM Polstat STIS 2018 diberikan sebagai berikut:
1. Barisan dan deret;
2. Hitung sederhana, penambahan, perkalian, persentase;
3. Luas bidang;
4. Volume bangun, misal balok, kubus;
5. Perbandingan senilai dan berbalik nilai, termasuk skala;
6. Logika matematika;
7. Sinonim;
8. Antonim;
9. Kemampuan analitik, misal bentuk benda diputar, menebak bentuk benda berdasar jaring-jaringnya;

Kisi-kisi TKP
Khusus kisi-kisi TKP ini pertanyaannya adalah seputar kepribadian teman-teman apabila telah menjadi Abdi Sipil Negara (ASN) nanti, pertanyaanya adalah karakteristik sikap dan kepribadian dalam berorganisasi dengan topik ANEKA:
1. Akuntabilitas;
2. Nasionalisme;
3. Etika Publik;
4. Konflik kepentingan;
5. Anti-Korupsi.

Jadi, pertanyaanya adalah menyangkut soal sikap dan pandangan teman-teman saat sudah menjadi ASN dengan kasus-kasus yang mungkin terjadi berkaitan dengan teman ANEKA itu dan teman-teman disuruh untuk menentukan dan mengambil sikap. Dalam TKP tidak ada poin minus dan semua soal harus dijawab karena justru berkurang jika ada soal yang tidak dijawab. Namun, hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa dalam TKP, aspek konsisten teman-teman dalam mengambil sikap juga ditentukan. Artinya, bila ada soal yang sebenarnya mirip dan seharusnya diambil sikap yang sama, namun ternyata teman-teman justru mengambil sikap lain, maka itu menjadi bahan penilaian juga.

Kisi-kisi TWK
Untuk TWK sendiri, saya memang khusus kemarin mengumpulkan dan merekap dari hasil wawancara teman-teman peserta USM Polstat STIS angkatan 60, kisi-kisi yang saya dapatkan adalah sebagai berikut:

1. Pancasila
2. UUD 1945
3. Teori Kenegaraan
4. Sejarah Indonesia
5. Bhineka tunggal ika
6.KAA
7.Kabinet
8. Pemilu
9. Penulisan bilangan
10. GNB
11. Nilai pancasila
12. Pasal ttg hak
13. Ide pokok
14. Kalimat efektif
15. Tugas dan wewenang Komisi Yudisial
16.Makna kata
17. Legislatif
18. Eksekutif
19. Fakta Opini
20. Kalimat Utama
21. Tata Negara
22. HI (Hubungan Internasional)
23. Penggunaan Huruf Kapital
24.organisasi asia (MEA)
25.sekolah zaman hindia-belanda
26. Pasal bela negara
27. Pasal wajib ikut usaha pertahanan dan keamanan negara
28. Pasal 33
29. Pasal tentang perda
30. PPKI
31. Globalisasi
32. PUTERA
33. Konstitusi RIS
34. Bentuk partai(multipartai, Dwi partai, dll)
35. Dwikora
36. Tap MPR tentang budaya
37. Pidato ir.soekarno pada 1 juni
38. Keanggotaan indonesia di PBB
39. lembaga tertinggi sebelum dan sesudah amandemen
40. uu no 34 tentang TNI
41. Penggunaan kalimat ulang
42. UU ttg pejalan kaki di jalan raya
43. Pertama kali desentralisasi itu pas kapan
44. Wewenang lembaga yudikatif
45. Peran Indonesia dalam perdamaian dunia
46. Anggaran APBN untuk pendidikan
47. Serangan umum 1 Maret
48. Organisasi pembantu polisi
49. Anggota DPRD kota maksimum dan minimum jumlahnya berapa
50. Yangg mengusulkan isi teks proklamasi
51. Nama Ketua Organisasi yang mengesahkan UUD 1945

Berikut ini saya bagikan link untuk bekal latihan USM Polstat STIS Tahap II: TKD CPNS, bisa teman-teman klik link berikut

Baiklah, demikian sedikit kisi-kisi USM Polstat STIS Tahap II: TKD CPNS CAT BKN yang bisa saya share ke teman-teman, semoga sedikit memberi gambaran dan menjadi acuan untuk belajar dan mencari bahan belajar untuk melaksanakan USM Tahap II beberapa minggu mendatang. Semoga lolos USM Polstat STIS 2019.

Selasa, 07 Mei 2019

Semua Tentang Politeknik Statistika STIS, USM STIS, Perkuliahan, dan Prospek Lulusan Polstat STIS 2019/2020

USM STIS
Mengenal Polstat STIS dari beragam sisi

Apa Itu Polstat STIS?
Politeknik Statistika Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (Polstat STIS) merupakan salah satu sekolah Ikatan Dinas (ID) di bawah naungan Badan Pusat Statistik (BPS). Berbeda dengan Sekolah Kedinasan, Polstat STIS tidak memberlakukan pungutan biaya bagi setiap mahasiswa/i-nya selama masa pendidikan kampus, baik Diploma III maupun Diploma IV.

Polstat STIS sendiri awalnya bernama Akademi Ilmu Statistik (AIS), kemudian berubah nama menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS), dan sekarang menjadi Politeknik Statistika STIS. Kampus Polstat STIS sendiri di Indonesia hanya satu, yaitu beralamat di Jalan Otto Iskandardinata, Jakarta Timur. Setiap tahun, Polstat STIS mengadakan seleksi bagi alumni SMA/MA putra/i terbaik bangsa untuk mendapatkan kuliah di Polstat STIS secara cuma-cuma tanpa biaya kuliah.

Apa Saja Jurusan yang Ada di Polstat STIS?
Jurusan di Polstat STIS hingga tahun 2019 masih terdiri atas 3 jurusan, yaitu jurusan Statistika Ekonomi (SE), Statistika Sosial dan Kependudukan (SK), dan Komputasi Statistik (KS). Dari ketiga jurusan tersebut, baru-baru ini yang banyak menjadi pilihan pendaftar adalah jurusan KS, mengingat tantangan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang kian pesat, jurusan KS dianggap sebagai pilihan utama karena pengembangan ilmu statistik berbasis komputer atau perangkat lunak sangat mudah, cepat, dan memiliki daya saing di dalam kehidupan.

Penulis sendiri adalah alumni STIS jurusan SE, jadi acapkali bila ditanya soal jurusan mana yang paling susah dan paling mudah, hampir bisa dipastikan penulis tidak tahu teman-teman. Namun pada intinya, kalau kita memiliki modal dasar yang kuat dalam diri kita, misal memang memiliki basis pengetahuan IT yang cukup, maka jurusan KS sangat direkomendasikan.

Apa saja beda antar jurusan tersebut?
Adapun perbedaan antar jurusan tersebut adalah pada jenis mata kuliah yang dipelajari. Gambaran secara umumnya, untuk jurusan SE itu kebanyakan belajar mengenai mata kuliah ekonomi, baik mikroekonomi maupun makroekonomi, analisis-analisis ekonomi dengan alat statistik, serta belajar mengenai jenis-jenis statistik dasar sebagai bekal untuk melakukan pengolahan data ekonomi dan penyajiannya. Untuk jurusan SK, secara umum yang dipelajari adalah mata kuliah ilmu sosial dan budaya, pendidikan, kesehatan, dan komunikasi, disertai dengan belajar tentang alat-alat statistik yang dapat digunakan dalam mengolah data terkait sosial budaya dan pendidikan serta kesehatan. Sedangkan pada jurusan KS, teman-teman bakal belajar cara coding bahasa Java dan sejenisnya untuk membuat dan menerapkannya sebagai produk untuk mengolah data statistik, juga dibekali dengan ilmu statistika dasar untuk memberikan pengetahuan mengenai logika-logika statistik yang diperlukan dalam membuat aplikasi pengolah data dan penganalisis data statistik.

Syarat Daftar Polstat STIS 2019
Berdasarkan informasi terbaru dari website resmi Polstat STIS, untuk pendaftaran Tahun Akademik 2019/2020, syarat dan ketentuan pendaftaran Polstat STIS adalah sebagai berikut:

1. Sehat jasmani dan rohani (dapat dan layak bekerja dan beraktivitas, baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan), tidak buta warna total atau parsial (sebagian) (karena berhubungan dengan data-data statistik yang penuh unsur warna dalam membedakan), dan bebas Narkoba;

2. Lulusan SMA/MA Jurusan IPA/IPS (Mulai tahun 2019, jurusan IPS bisa daftar Polstat STIS);

3. Calon lulusan SMA/MA jurusan IPA/IPS T.A. 2018/2019 kelas XII;

4. Nilai Matematika dan Bahasa Inggris minimal 70,00 (Skala 0 - 100), atau 2,80 (Skala 1 - 4) pada rapor kelas XII semester I;

5. Umur minimal 16 tahun dan maksimal 22 tahun per 1 September 2019;

6. Belum menikah dan bersedia tidak menikah selama masa pendidikan di Polstat STIS sampai pengangkatan PNS;

7. Tidak sedang menjalankan Ikatan Dinas dengan Instansi lain;

8. Bersedia mematuhi aturan dan tata tertib di Polstat STIS;

9. Bersedia menandatangani Surat Perjanjian Ikatan Dinas (SPID) bagi yang dinyatakan lulus seleksi dan akan mengikuti pendidikan di Polstat STIS;

10. Setelah lulus dari Polstat STIS, bersedia ditempatkan di Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat atau daerah/Kementerian/Lembaga/Instansi Lainnya sesuai penempatannya di seluruh wilayah Indonesia baik pusat maupun daerah.

Ujian Saringan Masuk (USM) Polstat STIS 2019
USM Polstat STIS 2019 mirip dengan USM Polstat STIS 2018 lalu, di mana teman-teman pendaftar melakukan pendaftaran secara daring atau online, lalu teman-teman mengisi data pendaftar melalui portal Badan Kepegawaian Negara (BKN), yaitu https://sscasn.bkn.go.id dengan menginput Nomor Induk Kependudukan (NIK) baik di KK (bagi yang belum) atau di KTP (bagi yang sudah punya KTP) dan Nomor Kartu Keluarga (KK). Bagi teman-teman yang KK-nya bermasalah atau NIK tidak terditeksi dalam portal BKN, silakan mengurus NIK tersebut ke dinas catatan sipil terdekat. Bisa juga membetulkan bila terjadi salah nama, atau nama tidak sesuai di KTP dan KK-nya. Konfirmasi masalah KTP dan KK ini disarankan jauh hari sebelum pendaftaran dibuka ya teman-teman.

Langkah selanjutnya adalah dengan login kembali ke SSCASN dengan menggunakan NIK dan password yang sudah didaftarkan teman-teman. Intinya buat akun dulu di portal BKN, nanti buat password sendiri atau digenerate sistem passwordnya. Pilih sekolah kedinasan Polstat STIS dan mengisi data diri teman-teman sesuai format portal.

Kemudian mencetak bukti pendaftaran tersebut, buktinya dalam bentuk form pendaftar begitu lalu dicetak.

Lantas, teman-teman akses portal SPMB Polstat STIS dengan alamat https://spmb.stis.ac.id silakan login dengan akun yang telah didaftarkan di portal BKN tadi, masukkan NIK dan password. Setelah melengkapi data, teman-teman akan mendapatkan kode pembayaran dan dilanjutkan dengan pembayaran. Untuk pendaftaran Polstat STIS T.A. 2019/2020, biaya pendaftarannya Rp. 300.000,- per peserta. Pembayaran dapat dilakukan melalui ATM atau Teller Bank yang telah bekerjasama dengan Polstat STIS atau yang ditunjuk oleh pihak Polstat STIS. Sebagai rekomendasi, ada baiknya pembayaran dilakukan melalui Teller bank agar bukti setor biaya pendaftarannya dapat langsung terekam buktinya. Melalui ATM terkadang kertasnya habis, jadi sangat berisiko.

Langkah berikutnya adalah teman-teman login ke portal SPMB Polstat STIS untuk mencetak Kartu Tanda Peserta Ujian Masuk (KTPUM) kemudian bisa teman-teman cetak, kali ini dari pihak Polstat STIS menyarankan agar dicetak di kertas A4. Banyak kasus tahun 2019, foto peserta terkadang merupakan foto orang lain, bila teman-teman mendapati kondisi tersebut, silakan konfirmasi ke helpdesk Polstat STIS : helpdesk.stis.ac.id.

Terakhir, silakan teman-teman baca catatan pada KTPUM yang sudah dicetak. Sebagai informasi tambahan, untuk tahun 2019, pada tahapan pendaftaran di portal BKN, tidak ada tahapan Verifikasi untuk pendaftaran Polstat STIS, jadi bila terdapat kondisi menunggu tahapan verifikasi berkas, diskip saja atau lanjut saja ke pendaftaran portal Polstat STIS.

Untuk pengisian nomor kode are bagian HP atau telepon, teman-teman bisa memasukkan kode +62 diikuti nomor di belakang angka 0 di HP teman-teman, misal: 081244019483 menjadi +6281244019483, begitu.

Pada portal BKN, diminta memasukkan tahun lulus dan nomor ijazah, lantas bagaimana dengan teman-teman yang masih kelas XII, artinya menjelang lulus dari SMA/MAnya? Bisa menggunakan tahun lulus dan nomor ijazah terakhir, jadi ijazah SMP teman-teman. Sedangkan bagi yang sudah lulus tahun 2018 atau 2017, bisa menggunakan ijazah SMA/MA.

Apa Saja Tips dan Trik Persiapan USM Polstat STIS?
Adapun tips dan trik menghadapi USM Polstat STIS bisa penulis sampaikan dalam beberapa poin berikut:

1. Perbanyak mengerjakan latihan soal, entah dari buku USM Polstat STIS yang dijual Kopma STIS, atau sebagai alternatif bisa juga menggunakan buku saya, hehe, berminat? Hubungi kontak WA: 081244019483;

2. Belajar hitung cepat, biasanya menguasai hitung perkalian cepat, bilangan kuadrat cepat dan ilmu hitung cepat lainnya;

3. Menguasai materi per bab yang diujikan dalam USM Polstat STIS, adapun kisi-kisi bab yang bisa teman-teman cari bahan materinya dapat kalian temukan dalam blog ini: Kisi-kisi USM Polstat STIS 2018, 2019, 2020

4. Karena jenis soal yang diujikan khusus USM Polstat STIS tahap I adalah Matematika IPA, maka untuk mendapatkan posisi aman (karena perangkingan nasional), dari 60 butir soal pilihan ganda, teman-teman paling tidak 60 persen atau sekitar 36-37 butir soal bisa dijawab dan yakin benar.

5. Kerjakan soal USM Polstat STIS yang dirasa paling mudah lebih dahulu, kalau dirasa susah atau mudah tapi butuh waktu lama, mending skip saja dulu, utamakan soal yang mudah dan bisa diselesaikan dengan cepat;

6. Seorang pemenang pertandingan itu biasanya ia tahu mengenai situasi dan kondisi arena pertandingan. Adakalanya, pernyataan ini benar, jadi diharapkan memang maksimal sehari sebelum USM, teman-teman mengetahui posisi dan tempat serta situasi dan kondisi di mana teman-teman akan mengikuti USM Polstat STIS. Ini akan berpengaruh pada psikis teman-teman, agar lebih kuat dan lebih siap (mengurangi gugup);

7. Olahraga teratur agar badan tetap sehat serta menjaga pola makan dan tidur;

8. Makan dan minum yang bergizi;

9. Beribadah secara teratur untuk menguatkan psikis;

10. Meminta doa dan restu orang tua.

Bagaimana Tingkat Persaingan Pendaftar Polstat STIS 2019
Berdasarkan data penutupan pendaftaran dari situs BKN per 1 Mei 2019 pada pukul 00.00 WIB lalu, jumlah pendaftar seluruh perguruan tinggi di bawah naungan portal BKN ada sebanyak 310.612 akun. Sedangkan yang melakukan pendaftaran di portal masing-masing Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK) ada sebanyak 269.614 dengan total submit berkas sebanyak 248.074.

Adapun jumlah pendaftar Polstat STIS 2019 di akhir penutupan pendaftaran ada sebanyak 17.606 peserta untuk mengikuti USM Polstat STIS Tahap I pada tanggal 11 - 13 Mei 2019. Meskipun, secara riil yang mengikuti USM Polstat STIS Tahap I berjumlah 15.856 peserta, ada peningkatan sebesar 2,89 persen dibanding tahun 2018 yang sebesar 15.411. Selain Polstat STIS, jumlah pendaftar PKN STAN masih menduduki urutan teratas, yaitu 137.561 peserta dan diikuti oleh IPDN/STPDN sebanyak 43.037 peserta.

Bila kita rasiokan, kuota penerimaan Polstat STIS T.A 2019/2020 kali ini adalah 600 kursi atau peserta. Dengan demikian rasionya adalah 600 : 17.606 atau sebesar 0,034.

Kelebihan Kuliah di Polstat STIS
Karena memang nyata adanya, tak bosan-bosan penulis ingin mengulas kelebihan kuliah di Polstat STIS. Beberapa saja ya teman-teman, di antaranya:

1. Kuliah gratis, di awal tahun ajaran Mahasiswa/i baru memang dikenakan biaya, kalau tidak salah sebesar 2,5 juta rupiah, kendati begitu, biaya itu balik lagi ke teman-teman dalam bentuk Pakaian Dinas Akademik (PDA), Sepatu fantofel, seragam untuk mengikuti Outbound dan Pembinaan Kepemimpinan dan Kebangsaan yang dirangkum dengan judul tertentu;

2. Apa yang kita dapatkan, itulah yang kita kerjakan. Tak banyak lulusan kuliahan dapat menerapkan ilmu yang didapatkannya selama mengenyam pendidikan kuliah, di Polstat STIS, apa yang teman-teman tulis dalam buku catatan kuliah, itulah yang bakal teman-teman lakukan ketika sudah lulus dan bekerja di Badan Pusat Statistik (BPS) nanti, jadi tepat sasaran;

3. Setelah lulus langsung dapat pekerjaan, setelah lulus memang ada jedah menunggu, tapi tidak lama, nggak sampai setahunan kecuali pemerintah memberlakukan moratorium PNS. Tak sedikit lulusan kuliahan, kini bekerja tak menentu, serabutan, bahkan boleh jadi masih menganggur, atau menunggu waktu yang tepat untuk bekerja. Teman-teman lulusan Polstat STIS jangan risau, setelah lulus kuliah, tanaman yang telah ditanam dan dirawat itu bakal bisa teman-teman petik buahnya ketika sudah bekerja di BPS;

4. Banyak beasiswa melanjutkan studi lebih tinggi menunggu di BPS. Lulusan Polstat STIS selama mengarungi kehidupan kerja di BPS juga ditawarkan berbagai bentuk beasiswa baik melalui sponsor maupun yang dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), jadi kesempatan kuliah ke jenjang lebih tinggi sangat terbuka lebar.

Apakah Uang Saku per Bulan Ditiadakan? Mengapa?
Mulai tahun 2019, sistem pemberian Tunjangan Ikatan Dinas (TID) di Polstat STIS resmi ditiadakan. Inilah yang kemungkinan pula menjadi penyebab berkurangnya jumlah pendaftar Polstat STIS tahun ini. Tetapi jangan salah, soal perkuliahannya tetap gratis, tanpa dipungut biaya serupiah pun.

Kebijakan peniadaan TID ini bermula dari kesepakatan antara Polstat STIS dengan kemenkeu. Di PKN STAN saja sudah meniadakan uang saku atau TID, dengan menggunakan aturan terbaru, TID sendiri diisukan akan diberikan kepada mahasiswa/i STIS namun dalam bentuk uang makan. Namun, informasi resminya seperti apa masih kita tunggu bersama supaya tidak termakan hoax.

Setelah Lulus dari Polstat STIS ngapain?
Setelah lulus dari Polstat STIS, teman-teman akan ditempatkan di BPS RI (Pusat) untuk dilakukan training dalam bentuk magang. Hal ini menjadi komitmen BPS untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang lebih siap sebelum benar-benar terjun penempatan di seluruh daerah.

Melalui kegiatan magang ini pula, lulusan Polstat STIS diberikan kompensasi dan insentif sesuai aturan yang berlaku di BPS. Yang jelas, untuk kebutuhan sehari-hari penulis rasa sangat layak dan sesuai.

Bagaimana Penempatan Lulusan Polstat STIS?
Sebagaimana dengan syarat dan ketentuan berlaku di pendaftaran USM Polstat STIS. Mulai tahun 2018 sebenarnya, lulusan Polstat STIS tidak hanya ditempatkan di BPS Pusat/daerah, tetapi juga ditempatkan di Kementerian/Lembaga/Instansi lain selain BPS (sesuai permintaan).

Untuk sistem prioritas penempatan lulusan Polstat STIS sendiri masih sama, yakni berdasarkan 4 prioritas. Pertama, peringkat 10 besar per jurusan ditempatkan di BPS Pusat/bebas memilih di daerah mana; Kedua merupakan putra/i daerah, maka bakal ditempatkan di daerah asalnya, dengan kondisi BPS di daerah asal membuka formasi pegawai baru untuk lulusan Polstat STIS sesuai ketentuan dan keputusan alokasi yang diajukan ke BKN; Ketiga berdasarkan pilihan alumni Polstat STIS sendiri secara reguler melakukan pengajuan daerah penempatan dengan mengisi formulir pilihan daerah penempatan kemudian disingkronkan dengan kebutuhan dan alokasi pegawai yang disetuji oleh BKN; Terakhir bagi siapa saja alumni yang masuk dalam permintaan K/L/I, maka mereka akan ditempatkan di K/L/I yang meminta ke BPS.

Bagaimana Pilihan Berkarir saat Bekerja di Badan Pusat Statistik (BPS)?
Berkarir di BPS ada 2 pilihan, yaitu melalui jalur struktural dan melalui jalur fungsional. Baru-baru ini, BPS mengarahkan untuk memperbanyak jumlah pegawai melalui jalur karir fungsional karena telah terbukti nyata kecepatan karir pada jalur fungsional lebih cepat. Dalam strukturnya, bisa jadi golongan staf lebih tinggi dari golongan kepala, karena ia staf jalur fungsional.
Dari sisi ekonomi, jalur fungsional juga memberikan kompensasi lebih dibandingkan struktural, yaitu melalui tunjangan kerja yang sedikit di atas struktural umum.

Adapun besarnya Tunjangan Kinerja (TK/Tukin) BPS, berdasarkan website resmi sekretaris kabinet atau https://setkab.go.id diberikan sebagai berikut:
TK Tukin
Besaran Tunjangan Kinerja di BPS, sumber: https://setkab.go.id/wp-content/uploads/2018/11/Tukin-BPS.png


Kamis, 25 April 2019

Quick Count dan Exit Poll, Mana yang Lebih Baik Digunakan?

real count
Memahami quick count dan exit poll
Pesta demokrasi belum usai. Momentum pemungutan suara rakyat memang selesai. Namun, semua pihak masih menunggu-nunggu, siapa presiden Indonesia periode 2019-2024. Saat ini, Komisi Pemilihan Umum (KPU) tengah melakukan rekapitulasi suara, baik di tingkat Tempat Pemungutan Suara (TPS) level terkecil, hingga rekapitulasi tingkat provinsi untuk kemudian dikompilasi. Di akhir nanti, KPU akan memutuskan siapa presiden terpilih pilihan rakyat Indonesia.

Kendati demikian, dalam perjalanan menuju pengumuman siapa presiden terpilih itu, berbagai jalan terjal harus dilalui. Masing-masing calon presiden dan calon wakil presiden telah melakukan jumpa pers sebagai efek dari hasil perhitungan cepat Quick Count (QC) oleh beberapa lembaga survei yang berdasarkan informasi telah disertifikasi langsung oleh KPU dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

Pengumuman hasil QC dilaksanakan pada Rabu sore (17/04/2019). Berdasarkan hasil hitung cepat QC tersebut, pasangan calon (paslon) nomor urut 01 dinyatakan mengungguli paslon nomor urut 02. Rata-rata lembaga survei menyatakan antara paslon 01 dan 02 terpaut sekitar 10 sampai 15 persen suara dari total sampel suara yang digunakan.

QC yang dinyakini sebagai salah satu metode statistik ternyata tidak cukup membuat pasca pesta demokrasi kembali kondusif setelah sekitar 6 bulan lamanya, hiruk pikuk kampanye digulirkan, malah tambah runyam. Mengingat hasil QC menyatakan kemenangan paslon 01, paslon 02 justru melakukan jumpa pers tersendiri dengan mengumumkan bahwa paslon 02 menang telak dari paslon 01 berdasarkan hasil survei Exit Poll (EP) yang dilakukan ahli statistik internal.

Lha? Kok masing-masing paslon saling mengklaim menang ini gimana?

Baik QC maupun EP sebenarnya merupakan salah satu teknik di dalam survei politik. Namun, berdasarkan buku karya Melissa Estok, Neil Nevitte, dan Glenn Cowan (2002) dalam bukunya menyatakan bahwa metode QC itu lebih reliable ketimbang metode EP. Menurut mereka, dalam QC, surveyor berada di tempat pemilihan untuk kemudian melaporkan hasil terhadap pemilihan dan perhitungan suara. Reliable yang dimaksudkan dalam QC oleh mereka adalah karena berdasarkan pengamatan langsung terhadap pemilihan dan perhitungan suara.

Sebaliknya, EP dilakukan dengan cara mewawancarai di luar tempat pemilihan, yakni bertanya kepada pemilih tentang siapa pilihan mereka. EP ini dinyatakan oleh Estok, Nevitte, dan Cowan tidak reliable sebab di dalam EP terdapat kemungkinan informasi yang didapatkan dari pemilih tidak benar, salah, atau tidak jujur.

Statistik kok dikriminalisasi

Bila di negara-negara maju hasil QC sangat dipercaya dengan alasan hasil studi ilmiah, di Indonesia malah sebaliknya. Banyak pihak yang, meski dalam tataran praduga tak bersalah, menyangka bahwa hasil QC yang dilakukan beberapa lembaga survei tidak benar, salah, bahkan dilaporkan ke polisi dengan alasan pembohongan publik. Statistik politik justru dibalik menjadi politisasi statistik, di mana bila statistik menunjukkan dukungan, maka pihak oposisi menyatakan menolak hasil statistik. Sebaliknya, bila statistik tidak menunjukkan dukungan, maka pihak oposisi mengklami bahwa statistik tersebut benar dan jujur.

Anggapan sekaligus prasangka semacam ini tentu tidak menyehatkan demokrasi di Indonesia. Negara yang menjunjung tinggi kebhinekaan dan perbedaan pendapat serta mengedepankan musyawarah untuk mencapai mufakat, saat ini tengah diuji oleh dagelan politik yang tidak jujur dan penuh dengan fitnah. Politik dibenturkan dengan ilmu pengetahuan, dalam hal ini statistika, seolah-olah berlawanan. Hal ini agaknya sama dengan pernyataan Estok, Nevitte, dan Cowan dalam buku The Quick Count and Election Observation, An NDI Handbook for Civic Organizations and Political Parties terbitan tahun 2002. Dalam buku tersebut dinyatakan bahwa:

Quick Counts are politically neutral--but those conducting quick counts must take careful account of the political environment.

Pada intinya, QC merupakan metode statistik yang netral, namun perlu keterhati-hatian apabila ia digunakan dalam lingkungan politis. Ini jelas menyatakan bahwa QC sendiri hanyalah sebuah alat atau tool, yang dalam aplikasinya juga ditentukan oleh sampling error dan nonsampling error. Faktor human error juga memberi pengaruh dalam menghasilkan statistik, tetapi, tidak banyak orang memahami bahwa dalam statistik itu sendiri, bukanlah angka statistiknya yang terpenting, melainkan pada metode apa yang digunakan dan bagaimana cara menggunakan metode tersebut dalam aplikasi perhitungan suara pemilu.

Makanya, sangat aneh jika di negeri yang mengaku menjunjung demokrasi ini justru membenturkan statistik dan politik, ah bukan politik, melainkan kepentingan politis lebih tepatnya. Padahal, statistik sendiri merupakan produk ilmu pengetahuan yang terus berkembang secara metodologis dan praktisnya. Kriminalisasi statistik seolah menjadi hal yang wajar untuk meraih keinginan semata. Tak banyak pula dari kita yang mengetahui bahwa dalam mendapatkan statistik, beragam syarat harus terpenuhi sehingga galat dari statistik sendiri seminimal mungkin. Artinya, dalam statistik, selang interval dengan tingkat keyakinan tertentu, sebuah statistik berpeluang sama dengan parameter populasi yang sesungguhnya. Inilah mengapa menurut dosen Polstat STIS dan penulis buku, Hardius Usman, mengatakan bahwa jika statistik sudah didapatkan, jangan mimpi eror akan mengubahnya secara signifikan, kecuali ada keajaiban.(*)